NUSWANTORO DIPANTARA NKRI

Google+ Badge

Google+ Badge

Sabtu, 15 Juli 2017

kekejaman PKI pkc atheis cina komunis


Cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI) berawal dari kedatangan sejumlah tokoh komunis Belanda pada tahun 1913. Salah satu tokoh komunis Belanda Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet kemudian mendirikan organisasi ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging) pada tahun 1914. Saat itu kondisi Indonesia masih dalam penjajahan Belanda. Tokoh komunis Belanda ingin mengubah pemerintahan kapitalis Belanda menjadi komunis. Mereka melakukan berbagai upaya untuk mengganggu stabilitas politik Hindia Belanda. Sementara itu, organisasi ISDV didukung penuh dan didanai oleh Uni Soviet. Sneevliet mencoba menyebarkan pengaruhnya, namun kurang diterima oleh masyarakat karena paham mereka dinilai tidak sesuai dengan kultur Indonesia. Sehingga mereka melancarkan misi penyusupan ke dalam tubuh Sarekat Islam (SI) yang telah lebih dulu mengakar kuat di masyarakat. Mereka berhasil mempengaruhi tokoh-tokoh muda SI seperti Semaoen, Darsono, Tan Malaka, dan Alimin Prawirodirdjo. Hal ini menyebabkan SI pecah menjadi “SI Putih” yang dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto dan “SI Merah” yang dipimpin Semaoen. SI merah berlandaskan asas sosialisme-komunisme. Melalui pengaruhnya dalam tubuh SI, ISDV mengalami perkembangan yang cukup pesat. Semaoen yang juga memimpin ISDV berhasil meningkatkan anggotanya dari 1700 orang pada tahun 1916 menjadi 20.000 orang pada tahun 1917 di sela-sela kesibukannya sebagai Ketua SI merah di Semarang. Tahun 1917, tokoh-tokoh komunis yang tergabung dalam ISDV menghasut buruh dan petani yang sudah menjadi anggota untuk membakar perkebunan dan perkantoran Belanda. Para tokoh tersebut ditangkap dan dikembalikan ke Belanda. Adapun para buruh dan petani yang tertangkap dihukum mati, dipenjara, disiksa, dikerjapaksakan oleh Hindia Belanda. Tujuan pembakaran bukan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, tapi untuk mengganggu stabilitas pemerintahan kapitalis Hindia Belanda yang ingin mereka ubah menjadi pemerintahan komunis. Setelah para tokohnya dipulangkan ke Belanda, ISDV tidak dibubarkan. Pengurusnya diganti. Pada tahun 1920 ISDV diganti menjadi PKH (Perserikatan Komunis Hindia Belanda). PKH dipimpin oleh Semaoen dan Darsono. PKH adalah partai komunis pertama di Asia yang menjadi bagian dari Komunis Internasional. Sneevliet mewakili partai ini pada kongres kedua Komunis Internasional pada 1920. Pembentukan Partai Komunis Indonesia Berdasarkan Konferensi Komunis di Moskow, Uni Soviet menuntut pendirian partai komunis di seantero dunia dalam rangka merebut kekuasaan. Merujuk hasil konferensi tersebut, Tahun 1926 di Semarang PKH berubah nama menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia) dipimpin oleh Muso dan Alimin. Pemberontakan PKI 1926 Desember 1925 di Prambanan, Yogyakarta diadakan pertemuan partai yang dipimpin oleh Alimin untuk merencanakan pemberontakan. Pertemuan itu dihadiri sejumlah tokoh-tokoh PKI dari Jawa dan Sumatra Barat. Pada November 1926, PKI memimpin pemberontakan melawan pemerintahan kolonial di Jawa Barat dan Sumatra Barat. Perkebunan dibakar, stasiun dan terminal diserbu bukan dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hal ini dilakukan untuk mengubah pemerintahan kapitalis Belanda menjadi pemerintahan komunis di bawah kendali Uni Soviet. Akibat kerusuhan ini para pimpinan PKI dibuang dan mendapatkan suaka politik ke Uni Soviet. Akan tetapi, kader-kader partai yang terdiri dari para petani dan buruh yang terlibat kerusuhan sebanyak 13.000 orang dibuang ke Boven Digul, sebuah kampung tahanan di Papua. Ratusan petani dan buruh disiksa, dibunuh, digantung di jalan-jalan oleh Belanda. Tahun 1927 PKI dinyatakan terlarang oleh pemerintahan Belanda. Setelah pelarangan itu, PKI menata kembali gerakannya di bawah tanah. Tahun 1935, Muso dan beberapa pimpinan PKI lainnya kembali ke Indonesia, namun tidak tinggal lama. Mereka bergerilya untuk menghimpun kembali mantan anggota PKI. Mereka membentuk gerakan bawah tanah. Kemudian mereka kembali lagi ke Uni Soviet dan mengatur gerakan bawah tanah tersebut dari Uni Soviet. Pemberontakan PKI 1945-1946 Pada Oktober 1945, PKI membentuk suatu gerakan bawah tanah dengan kedok organisasi kepemudaan API (Angkatan Pemuda Indonesia) dan AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia). Di pertengahan Oktober, AMRI di Slawi, Tegal, mulai melancarkan aksi teror, yang dilanjutkan dengan aksi penangkapan dan pembunuhan sejumlah pejabat pemerintah di Tegal. Sementara di Serang, Banten,terjadi perebutan pemerintahan Keresidenan Banten oleh Tokoh Komunis Banten Ce’ Mamat yang terpilih sebagai Ketua KNI (Komite Nasional Indonesia) dan membentuk DPRS (Dewan Pemerintahan Rakyat Serang). Disusul keberhasilan laskar Ubel-Ubel yang dipimpin Tokoh Komunis Tangerang, Ahmad Khoirun dalam mengambil alih kekuasaan pemerintahan Tangerang dari Bupati Agus Padmanegara. Kemudian PKI menampakan diri secara terbuka pada 21 Oktober 1945. PKI mulai unjuk gigi dengan melancarkan serangan dan mengambil alih kekuasaan di daerah-daerah. Pada 4 November 1945, API dan AMRI menyerbu Kantor Pemda Tegal dan Markas TKR (Tentara Keamanan Rakyat), tapi gagal. Lalu membentuk Gabungan Badan Perjuangan Tiga Daerah untuk merebut kekuasaan di Keresidenan Pekalongan yang meliputi Brebes, Tegal serta Pemalang. Selanjutnya, pada Desember 1945, PKI Banten pimpinan Ce’ Mamat menculik dan membunuh Bupati Lebak, R. Hardiwinangun, di Jembatan Sungai Cimancak. Sementara, Ubel-Ubel Mauk yang dinamakan Laskar Hitam di bawah pimpinan Usman membunuh Tokoh Nasional Oto Iskandar Dinata. Pada Februari 1946, Kota Cirebon tidak luput dari pemberontakan PKI Cirebon di bawah pimpinan Mr.Yoesoef dan Mr.Soeprapto. Namun, pemberontakan digagalkan oleh TRI (Tentara Republik Indonesia). Kota Cirebon berhasil direbut kembali. Pada Maret 1946, Istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura, Sumatera, diserbu oleh pasukan PKI. Sultan Langkat bersama keluarganya dibunuh dan hartanya dijarah. Pada tahun 1947, kader PKI Amir Syarifuddin Harahap berhasil jadi Perdana Menteri Republik Indonesia dan membentuk kabinet. Pemberontakan PKI 1948 Pada 11 Agustus 1948 Musso (pemimpin PKI tahun 1920-an) tiba di Yogyakarta dari Unisoviet menggalang kekuatan kembali. Ditambah lagi partai-partai dalam tubuh FDR (Front Demokrasi Rakyat) bentukan Amir Syarifuddin (Perdana Menteri kedua di Indonesia) menyatakan bersatu dengan PKI. Sebelumnya pada Januari – Desember 1947, Amir Syarifuddin memasukkan kader-kader PKI ke Legislatif, Eksekutif, pegawai negeri sipil, pegawai negeri militer, menjadi komandan-komandan tentara dan polisi. Setelah itu, mereka meningkatkan aksi teror, mengadu domba kesatuan-kesatuan TNI dan menjelek-jelekan kepemimpinan Soekarno-Hatta. Puncak aksi PKI adalah pemberontakan terhadap RI pada 18 September 1948 di Madiun, Jawa Timur. Tujuan pemberontakan itu adalah meruntuhkan negara RI dan menggantinya dengan negara komunis. Dalam aksi ini beberapa pejabat, perwira TNI, pimpinan partai, alim ulama dan rakyat yang dianggap musuh dibunuh dengan kejam. Tindakan kekejaman ini membuat rakyat marah dan mengutuk PKI. Tokoh-tokoh pejuang dan pasukan TNI memang sedang menghadapi Belanda, tetapi pemerintah RI mampu bertindak cepat. Panglima Besar Soedirman memerintahkan Kolonel Gatot Subroto di Jawa Tengah dan Kolonel Sungkono di Jawa Timur untuk menjalankan operasi penumpasan pemberontakan PKI. Pada 30 September 1948, Madiun dapat diduduki kembali oleh TNI dan polisi. Dalam operasi ini Muso berhasil ditembak mati sedangkan Amir Syarifuddin dan tokoh-tokoh lainnya ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Berikut ini gambaran situasi mencekam dan mengerikan dalam peristiwa berdarah pemberontakan PKI tahun 1948 yang dipaparkan panjang oleh Oleh Agus Sunyoto, peneliti sejarah peristiwa Madiun 1948 yang diterbitkan dalam buku berjudul “LUBANG-LUBANG PEMBANTAIAN: GERAKAN MAKAR FDR/PKI 1948 DI MADIUN” (1990). Kebiadaban PKI Madiun 1948 Terhadap Ulama NU Tanggal 18 September 1948 pagi sebelum terbit fajar, sekitar 1500 orang pasukan FDR/PKI – 700 orang diantaranya dari Kesatuan Pesindo pimpinan Mayor Pandjang Djoko Prijono – bergerak ke pusat Kota Madiun. Kesatuan CPM, TNI, Polisi, aparat pemerintahan sipil terkejut ketika diserang mendadak. Terjadi perlawanan singkat di markas TNI, kantor CPM, kantor Polisi. Pasukan Pesindo bergerak cepat menguasai tempat-tempat strategis di Madiun. Saat fajar terbit, Madiun sudah jatuh ke tangan FDR/PKI. Sekitar 350 orang ditahan. KEBERHASILAN FDR/PKI menguasai Madiun disusul terjadinya aksi penjarahan, penangkapan sewenang-wenang terhadap musuh PKI, menembak musuh PKI, kegemparan dan kepanikan pun pecah di kalangan penduduk, diiringi tindakan-tindakan bersifat fasisme yang berlangsung dengan mengerikan. Semua pimpinan Masyumi dan PNI ditangkap atau dibunuh. Orang-orang berpakaian Warok Ponorogo dengan senjata revolver dan kelewang menembak atau menyembelih orang-orang yang dianggap musuh PKI. Mayat-mayat bergelimpangan di sepanjang jalan. Bendera merah putih dirobek diganti bendera merah berlambang palu arit. Potret Soekarno diganti potret Moeso. Seorang wartawan Sin Po yang berada di Madiun, menuliskan detik-detik ketika PKI pamer kekejaman itu dalam reportase yang diberi judul: ‘Kekedjeman kaoem Communist; Golongan Masjoemi menderita paling heibat; Bangsa Tionghoa “ketjipratan” djoega. Pada detik, menit dan jam yang hampir sama, di Kota Magetan sekitar 1.000 orang pasukan FDR/PKI – 700 orang diantaranya dari Kesatuan Pesindo pimpinan Mayor Moersjid — bergerak cepat menyerbu Kabupaten, kantor Komando Distrik Militer (Kodim), Kantor Onder Distrik Militer (Koramil), Kantor Resort Polisi, rumah kepala pengadilan, dan kantor pemerintahan sipil di Magetan. Sama dengan penyerangan mendadak di Madiun, setelah menguasai Kota Magetan dan menawan Bupati, Patih, Sekretaris Kabupaten, Jaksa, Ketua Pengadilan, Kapolres, komandan Kodim, dan aparat Kabupaten Magetan, terjadi aksi penangkapan terhadap tokoh-tokoh Masyumi dan PNI di kampung-kampung, pesantren-pesantren, desa-desa, pabrik gula, diikuti penjarahan, penyiksaan, dan bahkan pembunuhan. Wartawan Gadis Rasid yang menyaksikan pembantaian massal di Gorang-gareng, Magetan, menulis reportase tentang kebiadaban FDR/PKI tersebut. Pembunuhan, perampokan dan penangkapan yang dilakukan FDR/PKI itu diberitakan surat kabar Merdeka 1 November 1948. Meski tidak sama dengan aksi serangan di Madiun dan Magetan yang sukses mengambil alih pemerintahan, serangan mendadak yang sama pada pagi hari tanggal 18 September 1948 itu dilakukan oleh pasukan FDR/PKI di Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, Purwodadi, Kudus, Pati, Blora, Rembang, Cepu. Sama dengan di Madiun dan Magetan, aksi serangan FDR/PKI meninggalkan jejak pembantaian massal terhadap musuh-musuh mereka. Antropolog Amerika, Robert Jay, yang ke Jawa Tengah tahun 1953 mencatat bagaimana PKI melenyapkan tidak hanya pejabat pemerintah, tapi juga penduduk, terutama ulama-ulama ortodoks, santri dan mereka yang dikenal karena kesalehannya kepada Islam: mereka itu ditembak, dibakar sampai mati, atau dicincang-cincang. Mesjid dan madrasah dibakar, bahkan ulama dan santri-santrinya dikunci di dalam madrasah, lalu madrasahnya dibakar. Tentu mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena ulama itu orang-orang tua yang sudah ubanan, orang-orang dan anak-anak laki-laki yang baik yang tidak melawan. Setelah itu, rumah-rumah pemeluk Islam dirampok dan dirusak. Tindakan kejam FDR/PKI selama menjalankan aksi kudeta itu menyulut amarah Presiden Soekarno yang mengecam tindakan tersebut dalam pidato yang berisi seruan bagi “rakyat Indonesia untuk menentukan nasib sendiri dengan memilih: ikut Muso dengan PKI-nya yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesia merdeka-atau ikut Soekarno-Hatta, yang Insya Allah dengan bantuan Tuhan akan memimpin Negara Republik Indonesia ke Indonesia yang merdeka, tidak dijajah oleh negara apa pun juga. Presiden Soekarno menyeru agar rakyat membantu alat pemerintah untuk memberantas semua pemberontakan dan mengembalikan pemerintahan yang sah di daerah. Madiun harus lekas di tangan kita kembali.” Seruan Presiden Soekarno disambut oleh Menteri Hamengkubuwono yang disusul sambutan Menteri Soekiman dan Jenderal Soedirman yang membacakan surat keputusan pengangkatan Mayor Jenderal Soengkono sebagai panglima militer Jawa Timur. Tanggal 23 September 1948 Menteri Agama KH Masjkoer mengucapkan pidato radio yang tegas menyebutkan bahwa tindakan merebut kekuasaan bertentangan dengan agama dan sama seperti perbuatan permusuhan orang-orang yang pro Belanda. Dengan janji-janji palsu rakyat dipengaruhi, dibujuk, dihasut, dipaksa dan dijadikan tameng oleh PKI Moeso. Pidato Menteri Agama KH Masjkoer yang menyatakan bahwa rakyat dipengaruhi, dibujuk, dihasut, dipaksa dan dijadikan tameng oleh PKI Moeso tidak mengada-ada. Itu bukti sewaktu pidato Presiden Soekarno dicetak sebagai selebaran yang disebarkan kepada penduduk melalui pesawat terbang. Seketika – usai membaca selebaran berisi pidato Presiden Soekarno – penduduk yang dipersenjatai oleh PKI beramai-ramai meletakkan senjata. Mereka duduk di trotoar jalan dalam keadaan bingung. Mereka terkejut dan bingung sewaktu sadar bahwa gerakan yang mereka lakukan itu ternyata ditujukan untuk melawan Presiden Soekarno. Mereka pun mulai bertanya-tanya tentang siapa sejatinya Moeso yang mengaku pemimpin rakyat itu. Sejarah mencatat, bahwa antara tanggal 18 – 21 September 1948 gerakan makar FDR/PKI yang dilakukan dengan sangat cepat itu tidak bisa dimaknai lain kecuali sebagai pemberontakan. Sebab dalam tempo hanya tiga hari, FDR/PKI telah membunuh pejabat-pejabat negara baik sipil maupun militer, tokoh masyarakat, tokoh politik, tokoh pendidikan, bahkan tokoh agama. Dengan kekejaman khas kaum komunis – seperti kelak dipraktekkan lagi di Kampuchea selama rezim Pol Pot berkuasa — bagian terbesar dari mayat-mayat yang dibunuh dengan sangat kejam oleh FDR/PKI itu dimasukkan ke dalam sumur-sumur “neraka” secara tumpuk-menumpuk dan tumpang-tindih. Sebagian lagi di antara tawanan FDR/PKI ditembak di “Ladang Pembantaian” di Pabrik Gula Gorang-gareng maupun di Alas Tuwa. Setelah gerakan makar FDR/PKI berhasil ditumpas oleh TNI yang dibantu masyarakat, awal Januari tahun 1950 sumur-sumur “neraka” yang digunakan FDR/PKI mengubur korban-korban kekejaman mereka dibongkar oleh pemerintah. Berpuluh-puluh ribu masyarakat dari Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo, Trenggalek berdatangan menyaksikan pembongkaran sumur-sumur “neraka”. Mereka bukan sekedar melihat peristiwa langka itu, kebanyakan mereka mencari anggota keluarganya yang diculik PKI. Diantara sumur-sumur “neraka” yang dibongkar itu, informasinya diketahui justru berdasar pengakuan orang-orang PKI sendiri. Dalam proses pembongkaran sumur-sumur “neraka” itu terdapat tujuh lokasi ditambah dua lokasi pembantaian di Magetan, yaitu: 1. sumur “neraka” Desa Dijenan, Kec.Ngadirejo, Kab.Magetan; 2. Sumur “neraka” I Desa Soco, Kec.Bendo, Kab.Magetan; 3. Sumur “neraka” II Desa Soco, Kec.Bendo, Kab,Magetan; 4. Sumur “neraka” Desa Cigrok, Kec.Kenongomulyo, Kab.Magetan, 5. Sumur “neraka” Desa Pojok, Kec.Kawedanan, Kab.Magetan; 6. Sumur “neraka” Desa Batokan, Kec.Banjarejo, Kab.Magetan; 7. Sumur “neraka” Desa Bogem, Kec.Kawedanan, Kab.Magetan; dan dua lokasi killing fields yang digunakan FDR/PKI membantai musuh-musuhnya, yaitu ruang kantor dan halaman Pabrik Gula Gorang-gareng dan Alas Tuwa di dekat Desa Geni Langit di Magetan. Fakta kekejaman FDR/PKI dalam gerakan pemberontakan tahun 1948 disaksikan puluhan ribu warga masyarakat yang menonton pembongkaran sumur-sumur “neraka” itu, yang setelah diidentifikasi diperoleh sejumlah nama pejabat pemerintahan sipil maupun TNI, ulama, tokoh Masjoemi, tokoh PNI, Polisi, Camat, Kepala Desa, bahkan Guru. Berikut daftar sebagian nama-nama korban kekejaman FDR/PKI tahun 1948 yang diperoleh dari pembongkaran sumur “neraka” Soco I dan sumur “neraka” Soco II, yang terletak di Desa Soco, Kec. Bendo, Kab.Magetan: SUMUR “NERAKA” SOCO I: 1. Soehoed, camat Magetan; 2. R. Moerti, Kepala Pengadilan Magetan; 3. Mas Ngabehi Soedibyo, Bupati Magetan; 4. R. Soebianto; 5. R. Soekardono, Patih Magetan; 6. Soebirin; 7. Imam Hadi; 8. R. Joedo Koesoemo; 9. Soemardji; 10. Soetjipto; 11. Iskak; 12. Soelaiman; 13. Hadi Soewirjo; 14. Soedjak; 15. Soetedjo; 16. Soekadi; 17. Imam Soedjono; 18. Pamoedji; 19. Soerat Atim; 20. Hardjo Roedino; 21. Mahardjono; 22. Soerjawan; 23. Oemar Danoes; 24. Mochammad Samsoeri; 25. Soemono; 26. Karyadi; 27. Soerdradjat; 28. Bambang Joewono; 29. Soepaijo; 30. Marsaid; 31. Soebargi; 32. Soejadijo. 33. Ridwan; 34. Marto Ngoetomo; 35. Hadji Afandi; 36. Hadji Soewignjo; 37. Hadji Doelah; 38. Amat Is; 39. Hadji Soewignyo; 40. Sakidi; 41. Nyonya Sakidi; 42. Sarman; 43. Soemokidjan; 44. Irawan; 45. Soemarno; 46. Marni; 47. Kaslan; 48. Soetokarijo; 49. Kasan Redjo; 50. Soeparno; 51. Soekar; 52. Samidi; 53. Soebandi; 54. Raden Noto Amidjojo; 55. Soekoen; 56. Pangat B; 57. Soeparno; 58. Soetojo; 59. Sarman; 60. Moekiman; 61. Soekiman; 62. Pangat/Hardjo; 63. Sarkoen B; 64. Sarkoen A; 65. Kasan Diwirjo; 66. Moeanan; 67. Haroen; 68. Ismail. ada sekitar 40 mayat tidak dikenali karena bukan warga Magetan. SUMUR “NERAKA” SOCO II: 1. R. Ismaiadi, Kepala Resort Polisi Magetan; 2. R.Doerjat, Inspektur Polisi Magetan; 3. Kasianto, anggota Polri; 4. Soebianto, anggota Polri; 5. Kholis, anggota Polri; 6. Soekir, anggota Polri; 7. Bamudji, Pembantu Sekretaris BTT; 8. Oemar Damos, Kepala Jawatan Penerangan Magetan; 9. Rofingi Tjiptomartono, Wedana Magetan; 10. Bani, APP. Upas; 11. Soemingan, APP.Upas; 12. Baidowi; 13. Naib Bendo; 14. Reso Siswojo; 15. Kusnandar, Guru; 16. Soejoedono, Adm PG Rejosari; 17. Kjai Imam Mursjid Muttaqin, Mursyid Tarikat Syattariyah Pesantren Takeran; 18. Kjai Zoebair; 19. Kjai Malik; 20. Kjai Noeroen; 21. Kjai Moch. Noor.” Tindak kebiadaban FDR/PKI selama melakukan aksi makarnya tahun 1948 yang disaksikan puluhan ribu penduduk laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak yang menonton pengangkatan jenazah para korban dari sumur-sumur “neraka” yang tersebar di Magetan dan Madiun, adalah rekaman peristiwa yang tidak akan terlupakan. Peristiwa pembongkaran sumur-sumur “neraka” itu telah memunculkan asumsi abadi dalam ingatan bawah sadar masyarakat bahwa PKI memiliki hubungan erat dengan pembunuhan manusia yang dimasukkan ke dalam sumur “neraka”. Itu sebabnya, ketika tanggal 1 Oktober 1965 tersiar kabar para jenderal TNI AD diculik PKI dan kemudian ditemukan sudah menjadi mayat di dalam sumur “neraka” Lubang Buaya di dekat Halim, amarah masyarakat seketika meledak terhadap PKI, termasuk di lingkungan aktivis Gerakan Pemuda Ansor yang sejak 1964 membentuk Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di berbagai daerah yang dilatih kemiliteran karena memenuhi keinginan Presiden Soekarno membentuk kekuatan sukarelawan untuk mengganyang Malaysia, di mana anggota Banser yang emosinya tak terkendali – terutama setelah tewasnya 155 orang anggota Ansor Banyuwangi yang dibunuh PKI – dimanfaatkan oleh pihak militer untuk bersama-sama menumpas kekuatan PKI yang telah membunuh para jenderal mereka. Pemberontakan PKI 1965 Pada 1950, PKI mulai bangkit kembali ditandai dengan kegiatan penerbitannya untuk melancarkan propaganda mereka melalui Harian Rakjat dan Bintang Merah. Kepemimpinan PKI diisi oleh tokoh-tokoh muda diantaranya, DN Aidit, Sudisman, Lukman, Njoto dan Sakirman. Pada Pemilu 1955, PKI menjadi partai terbesar ke-empat di Indonesia. Memasuki tahun 1960-an, posisi PKI semakin kuat dengan diterimanya ide Nasakom (Nasionalis, Agama, dan Komunis) yang digagas oleh Soekarno. Kuatnya kedudukan PKI disebabkan oleh kerjasama yang semakin erat dengan Soekarno, unsur-unsur ABRI yang dipengaruhi maupun berideologi komunisme, persiapan di daerah basis pedesaan dengan basis pokok daerah antara Gunung Merapi dan Merbabu, yakni segitiga Solo-Boyolali-Klaten, perhitungan cukup kuatnya kekuatan bersenjata PKI, serta kemungkinan berakhirnya peranan politik Presiden Sukarno sehubungan dengan kesehatannya, dan perhitungan lain seperti dukungan dari Komunisme Internasional, antara lain RRC. Pada periode ini memang komunisme di berbagai belahan dunia mulai menancapkan kekuasaannya, terutama di RRC dan Vietnam. PKI terus melancarkan propaganda, agitasi (hasutan), pelecehan agama, dan fitnah kepada kelompok yang anti komunis, khususnya umat Islam. Sehingga atas desakan PKI, Soekarno membubarkan Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia) pada 17 Agustuts 1960 dengan dalih tuduhan keterlibatan Masyumi dalam pemberontakan PRRI, padahal hanya karena anti Nasakom. Pada bulan Maret 1962, pentolan PKI DN Aidit dan Nyoto resmi masuk dalam pemerintahan Soekarno, diangkat menjadi Menteri Penasehat. Pada tahun 1963, atas desakan PKI akhirnya Soekarno membubarkan GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia) karena anti Komunis. Tak hanya itu di tahun yang sama, terjadi Penangkapan Tokoh-Tokoh Masyumi dan GPII serta Ulama Anti PKI, antara lain : KH. Buya Hamka, KH.Yunan Helmi Nasution, KH. Isa Anshari, KH. Mukhtar Ghazali, KH. EZ. Muttaqien, KH. Soleh Iskandar, KH. Ghazali Sahlan dan KH. Dalari Umar. Pada bulan Desember 1964, Chaerul Saleh Pimpinan Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak) yang didirikan oleh mantan Pimpinan PKI, Tan Malaka, menyatakan bahwa PKI sedang menyiapkan kudeta. Akibatnya, sekali lagi atas desakan PKI, Soekarno membekukan Partai Murba dengan dalih telah memfitnah PKI. Kemudian, Partai tersebut dibubarkan pada tahun 1965 karena dianggap musuh oleh PKI. Pada bulan puasa di tahun 1965, Training Centre Pelajar Islam Indonesia (PII) di Kanigoro Kediri diserbu oleh orang-orang PKI bersenjata tajam. Para penyerbu beralasan bahwa pengajar pada training itu adalah anggota partai terlarang (Masyumi). Para pelajar yang masih muda itu kemudian digiring keluar oleh orang-orang PKI yang berjumlah besar, sambil dihina dan diolok-olok. Tidak cukup sampai di situ, kitab suci Al Qur’an yang ada dimasukkan ke dalam karung kemudian disepak-sepak dengan kaki. Upaya untuk memberangus organisasi keagamaan dari kalangan Islam juga nampak dari tuntutan pembubaran Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Serikat Buruh Islam Indonesia (SBII), yang menurut PKI keduanya mempunyai hubungan genealogis dengan Masyumi. Di Surabaya juga terjadi insiden yang dikenal dengan Insiden Bangkuning. Bangkuning adalah sebuah kampung yang terletak agak ke dalam, dari Jalan Raya Darmo, Surabaya. Di sana ada sebuah masjid kuno peninggalan Raden Rahmat yang lebih dikenal dengan nama Sunan Ampel. Suatu hari, sekelompok Pemuda Rakyat dan Gerwani (ormas PKI) tiba-tiba menyerbu Masjid Bangkuning, masuk ke dalamnya, menginjak-injak dengan kaki dan sepatu berlumpur, menari-nari sambil menyanyikan lagu genjer-genjer. Kemudian menguasai masjid tersebut dan menjadikannya sebagai markas kegiatan mereka. Perbuatan ini kemudian memicu amarah umat Islam, yang kemudian menyebabkan Banser mengambil alih masjid tersebut. Pelecehan dan penodaan agama dilakukan secara intensif dan terus menerus oleh PKI. Lobi intensif yang dilakukan Menteri Agama Saifuddin Zuhri kepada Bung Karno akhirnya menghasilkan Penpres No. 1 tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan Penodaan Agama. Pada 30 September 1965, PKI melakukan pemberontakan di Jakarta, namun dengan cepat dilumpuhkan oleh TNI Angkatan Darat. Di hari yang sama, PKI menculik dan menghabisi 7 orang jenderal yaitu Letjen TNI A. Yani, Mayjen TNI Soeprapto, Mayjen TNI M.T. Hardjono, Mayjen TNI S. Parman, Brigjen TNI D.I. Panjaitan, Brigjen TNI Soetodjo Siswomihardjo, dan Lettu Pierre Andries Tendean. PKI juga menembak putri bungsu Jenderal AH Nasution yang baru berusia 5 tahun, Ade Irma Suryani Nasution. Selain di Jakarta, pemberontakan PKI juga terjadi di daerah-daerah diantaranya, di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat dan Timur, Maluku, Irian Barat. Sejak 30 September 1965 hingga sepanjang tahun 1966-an, rakyat dan TNI bersama-sama melawan PKI yang melakukan pemberontakan dan pembantaian penduduk sipil, para kyai, pejabat pemerintah, dan sebagainya. Meski jelas pemberontakan dan pembantaian yang dilakukan PKI, Soekarno yang selama ini dekat dengan PKI masih membela dengan mengeluarkan pernyataan; ”Di Indonesia ini tidak ada partai yang pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa sebesar PKI…” dalam pidatonya di muka Front Nasional di Senayan pada 13 Februari 1966. Untuk mencegah paham komunis menyebar kembali di Indonesia, pemerintah secara resmi menerbitkan TAP MPRS No XXV Tahun 1966 yang ditanda-tangani Ketua MPRS – RI Jenderal TNI AH Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan penyebaran paham Komunisme, Marxisme dan Leninisme, pada 5 Juli 1966. Namun rupanya kader-kader PKI masih melanjutkan perjuangannya. Pada Desember 1966, kader PKI Sudisman mencoba menggantikan DN Aidit dan Nyoto untuk membangun kembali PKI, tapi ditangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1967. Kembali lagi pembantaian dilakukan oleh sisa-sisa kader PKI yaitu Kaum Tani PKI di Selatan Blitar menyerang para pemimpin dan kader NU, sehingga 60 orang NU tewas dibunuh pada Bulan Maret 1968. TNI cepat tanggap menyerang Blitar untuk menghancurkan persembunyian terakhir PKI dengan melaksanakan Operasi Trisula. Sehingga sejak 1968 hingga 1998, sepanjang Orde Baru PKI dan seluruh mantel organisasinya dilarang di seluruh Indonesia dengan dasar TAP MPRS No XXV Tahun 1966. Namun, pasca Reformasi 1998, pimpinan dan anggota PKI dibebaskan dari penjara, beserta keluarga dan simpatisannya yang masih mengusung Ideologi Komunis. Kini, mereka kembali melakukan aneka gerakan dan memutarbalikkan fakta sejarah dengan memposisikan PKI sebagai korban pembantaian negara dan mengklaim sebagai pihak yang turut memperjuangkan kemerdekaan RI. Tak hanya di Indonesia, peristiwa berdarah yang didalangi kaum Komunis juga dialami oleh negara-negara lain yang tersebar di Eropa, Asia, Afrika dan Amerika. Kekejaman Komunis dinilai belum ada yang menandingi dalam jumlah pembantaiannya. Ideologi Komunis jelas anti Tuhan, anti demokrasi dan HAM. Peneliti sejarah Rusia Iosef Dyadkin menemukan angka 52,1 juta rakyat Rusia yang dibantai rezim Marxis (Komunis), lalu Anthony Lutz yang mencatat 60 juta rakyat Cina yang dihabisi pemerintahnya, berjumlah 112, 1 juta orang. Sementara, peneliti lain, James Nihan menemukan angka 95,2 juta (Religion and Society Report) untuk seluruh dunia selama Komunis berjaya. Di Indonesia, kaum komunis melakukan banyak pembantaian di berbagai daerah. Tujuan kudeta PKI adalah untuk mengganti NKRI menjadi negara Komunis. Namun, kader-kader PKI beserta simpatisannya masih saja terus memutarbalikkan sejarah dan mengklaim bahwa mereka adalah korban pembantaian negara. Berikut ini penuturan singkat beberapa saksi korban yang mengungkapkan betapa kejinya PKI, dilansir dari buku “Ayat-Ayat yang Disembelih” yang ditulis oleh Anab Afifi dari keluarga santri, berlatar belakang konsultan komunikasi dan Thowaf Zuharon dari keluarga santri NU, berlatar belakang jurnalis. Kedua penulis ini berhasil mewawancarai 30 saksi hidup korban keganasan PKI di berbagai daerah. Kapolres Ismiadi Diseret dengan Jeep Wilis Sejauh 3 Km Hingga Tewas “Sebelum meletus peristiwa Madiun Affair, orang-orang PKI merampok dan membakar rumah-rumah para pedagang di Kauman, Magetan. Dilanjutkan pembunuhan terhadap para aparat. Kapolres Ismiadi diseret dengan Jeep Willis sejauh tiga kilo meter hingga tewas. Setelah tentara habis, gantian polisi dihabisi. Setelah itu pejabat dan ulama serta para santri”. (Kusman, sesepuh Magetan, narasumber peristiwa 1948) Ayah saya Dikubur Hidup-hidup di Sumur “Kyai Soelaiman Zuhdi Afandi, dikubur hidup-hidup bersama 200 orang kyai, santri dan masyarakat di sumur tua di Desa Soco”. (Kyai Ahyul Umam, putera Kyai Soelaiman, korban peristiwa Soco 1948) Sebanyak 200 orang Disekap di Lumbung Padi “Ayah saya seorang veteran pejuag 1945. Bersama lebih 200 orang lainnya, terdiri dari para kiyai dan tokoh masyarakat digiring dan dimasukkan ke dalam lumbung padi tua tinggalan jaman Belanda di Desa Kaliwungu, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Mereka disekap dua hari dua malam tidak diberi makan. Semua aktifitas seperti tidur dan buang air jadi satu di dalam gudang yang penuh sesak. Jerigen-jerigen bensin sudah disiapkan untuk membakar lumbung itu. Alhamdulillah ayah saya bisa lolos dan berlari sejauh 20 kilo meter untuk mencari batuan pasukan Siliwangi. Mereka selamat”. (Fuadi, anak korban peristiwa Ngawi 1948) Kyai Dimyathi Disembelih dan Rumahnya Dibakar Saya sudah umur 16 tahun saat kejadian yang menimpa Kyai Dimyathi pada tahun 1948. Saat mengungsi Kyai ditipu oleh yang masih ada hubungan kerabat. Katanya, desa tempat tinggal kami sudah aman. Ternyata dia orang PKI dan membawa Kyai Dimyathi ke Ngrambe dan disembelih bersama seorang guru bernama Suwandi. Rumah Kyai Dimyathi dibakar. (Siti Asiyah, anak asuh Kyai Dimyathi, peristiwa Ngawi 1948) Genangan Darah Setinggi Mata Kaki “Genangan darah ratusan korban pembantaian PKI di sebuah loji (gedung) di Pabrik Gula Rejosari Gorang Gareng, Magetan, pada September 1948, setinggi mata kaki. Mereka diberondong senapan mesin oleh tentara merah PKI”. (Kyai Zakariya, saksi peristiwa Gorang Gareng 1948) Saya Dituduh Kontra Revolusi “Setelah saya ikut menandatangani Manifest Kebudayaan yang melawan LEKRA, lembaga kebudayaan yang berhaluan komunis, saya dituduh kontra revolusi. Tuduhan ini jika digambarkan jaman sekarang, jauh lebih menakutkan dibanding tuduhan teroris. Akibatnya, saya tidak jadi kuliah di Amerika karena visa tidak keluar. Gaji saya sebagai dosen langsung distop. LEKRA juga merancang pementasan seni Ludruk yang sangat menghina Islam seperti:”Matine Gusti Allah (Matinya Tuhan Allah)”, “Sunate Malaikat Jibril (Disunatnya Malaikat Jibril)”. (Taufiq Ismail, Sastrawan dan budayawan senior. Korban dan saksi peristiwa 1963-1965) Buya Hamka Disiksa Setiap Hari “Buya Hamka, Ketua MUI pertama dan para ulama lainnya dipenjara di jaman Presiden Soekarno. Mereka dipenjara atas tuduhan tidak jelas. Hamka dipaksa mengakui perbuatan yang tidak dia lakukan yaitu berencana membunuh Presiden Soekarno dan Menteri Agama. Hamka dan para ulama difitnah oleh kalangan PKI yang saat itu sangat dekat dengan Presiden Soekarno. Setiap hari Buya Hamka disiksa dan diancam akan disetrum kemaluannya”. (Kyai Cholil Ridwan, murid Buya Hamka, saksi peristiwa 1964-1966) Tubuh Ayah Saya Hanya Bisa Dipunguti dan Dimasukkan Kaleng “Ayah saya diseret ke sawah sambil dipukuli beramai-ramai. Setelah saya cari ke mana-mana tidak ketemu ternyata jasadnya terbuang di sawah. Tubuh bapak saya tidak berbentuk lagi, hancur habis terbakar dan dimakan anjing. Potongan tubuhnya hanya bisa dipungut satu persatu dan dimasukkan kaleng.” (Isra’, Surabaya, saksi dan anak korban peristiwa 1965) Saya Selamat tapi Empat Sahabat Saya Disiksa hingga Tewas “Tetangga yang sering saya bantu itu, ternyata suaminya pimpinan PKI. Saya mau disembelih jam satu malam. Alhamdulillah selamat. Tapi anak perempuan pertama saya meninggal setelah malam itu saya menyelematkan diri melewati sungai. Empat sahabat saya sesama aktifis dakwah disiksa dengan dipotong kemaluan dan telinga mereka hingga meninggal”. (Moch Amir, SH, Surakarta, korban peristiwa 1965) Ternyata Saya Akan Dibunuh oleh Tetangga dan Teman Baik Saya Setelah peristiwa 1965 mereda, saya diberitahu ternyata nama saya masuk daftar calon korban yang akan dibunuh PKI. Saya sudah kuliah dan aktif di PII saat itu. Tetangga persis di sebelah rumah saya dan teman yang saya kenal baik itu, ternyata PKI. Saat digeledah di rumahnya ternama nama-nama orang-orang yang rencananya akan dibunuh PKI.

Tidak ada komentar: