NUSWANTORO DIPANTARA NKRI

Google+ Badge

Google+ Badge

Sabtu, 15 Juli 2017

Gerakan 30 September 1965/PKI (G30SPKI)


- Dimasa demokrasi terpimpin, PKI memperoleh kesempatan yang besar untuk meraih cita-citanya. PKI bercita-cita mengubah negara kesatuan yang berdasarkan Pancasila dengan negara yang berideologi komunis. D.N Aidit sebagai pimpinan PKI mendukung konsep demokrasi terpimpin yang berporoskan Nasionalis, Agama, dan Komunis (NASAKOM). A. Tahap Persiapan. PKI melakukan berbagai kegiatan untuk memperoleh simpati dan dukungan luas dari pemerintah dan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan antara lain: 1. Mengirim Sukarelawan dalam konfrontasi dengan Malaysia. 2. Melakukan "Aksi Sepihak" tahun 1963, terutama di Jawa, Bali, dan Sumatera Utara dengan membagikan tanah kepada petani. 3. Melakukan demonstrasi, menuntut kenaikan upah di pabrik-pabrik, perusahaan, dan perkebunan. 4. Memberikan latihan politik dan militer kepada anggota pemuda rakyat dan gerwani. PKI akhirnya menuntut pemerintah agar membentuk angkatan ke-5 yang terdiri dari dari buruh, petani, dan nelayan yang dipersenjatai. 5. Menghancurkan lawan politiknya dengan jalan mendukung pemerintah untuk membubarkan Masyumi, Murba, Manikebu (Manifesto Kebudayaan) 6. Menyebakan isu tentang adanya Dewan Jendral dalam Angkatan Darat yang akan mengambil alih kekuasaan secara paksa dengan bantuan Amerika Serikat. Tuduhan ini dibantah oleh Angkatan Darat. Sebaliknya, Angkatan Darat menuduh PKI yang akan melakukan kudeta. B. Tahap Pelaksanaan Berita tentang semakin memburuknya kesehatan Presiden Soekarno menimbulkan ketegangan di kalangan pemimpin politik nasional. Ketegangan ini mencapai puncaknya pada pemberontakan tanggal 30 September 1965 terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap para perwira Angkatan Darat yang dipimpin langsung oleh Letkol Untung (Komandan Batalyon I Cakrabirawa). Operasi itu dibantu oleh satu Batalyon dari Divisi Diponegoro, satu Batalyon dari Divisi Brawijaya dan orang sipil dari pemuda rakyat. Para perwira tinggi yang diculik dan dibunuh adalah: 1, Letnan Jendral Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat) 2. Mayor Jendral R.Suprapto (Deputi II Pangad) 3. Mayor Jendral S.Parman (Deputi III Pangad) 4. Brigadir Jendral D.I Panjaitan (Asisten IV Pangad) 5. Brigadir Jendral Sutoyo Siswomihardjo (Inspektur Kehakiman/ Oditur Jendral Angkatan Darat). Jendral A.H Nasution yang menjadi sasaran utama penculikan berhasil meloloskan diri. Akan tetapi, Ade Irma Suryani (Putrinya) tewas tertembak para penculik. Sementara itu Letnan Satu Piere A. Tendean (ajudan Jendral Nasution) menjadi sasaran penculikan. Aksi penculikan juga menewaskan Brigadir Polisi Karel Satsuit Tubun (pengawal rumah Wakil Perdana Menteri II Dr. J, Leimena). Rumah J Leimena berdampingan dengan Rumah A.H Nasution. PKI Sudah menguasai Studio RRI Pusat dan gedung telekomunikasi. Melalui RRI, pada tanggal 1 Oktober 1965, Letkol Untung menyiarkan pengumuman tentang Gerakan 30 September yang ditunjukan kepada jendral- jendral anggota Dewan Jendral yang akan melakukan kudeta (perebutan kekuasaan). Presiden Soekarno berangakat menuju Bandara Halim Perdana Kusuma. Presiden Soekarno segera mengeluarkan perintah agar seluruh rakyat Indonesia tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaaan serta memelihara kesatuan dan persatuan bangsa Sementara itu di Yogyakarta, pemberontak G30S/PKI yang dipimpin Mayor Mulyono menculik Kolonel Katamso (Komandan Korem 072) dan Letkol Sugiyono (kepala Staf). Kedua perwira itu dibunuh di asrama Batalyon L di Desa Keuntungan (di luar kota Yogyakarta. C. Menumpas Gerakan 30 September 1965/PKI Operasi Penumpasan G 30S/PKI dilancarkan pada tanggal 1 Oktober 1965. Mayor Jendral Soeharto yang menjabat panglima Komando Strategis Angkatan darat (Kostrad) mengambil alih komando Angkatan Darat karena menteri panglima Angkatan Darat (Letjend Ahmad Yani) belum diketahui nasibnya. Panglima Kostrad memimpin operasi penumpasan terhadap G30S/PKI dengan menghimpun pasukan lain, termasuk Divisi Siliwangi, Kavaleri, dan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhi Wibowo. Studio RRI Pusat, gedung besar telekomunikasi dapat direbut kembali. Operasi diarahkan ke Halim Perdana Kusuma. Halim Perdana Kusuma dapat dikuasai pasukan yang dipimpin oleh Kolonel Sarwo Edhi Wibowo pada tanggal 2 Oktober 1965. Karena tidak ada dukungan dari masyarakat dan angggota angkatan bersenjata lainnya, para pemimpin dan tokoh pendukung G30S/PKI termasuk pemimpin D.N Aidit melarikan diri. Atas petunjuk Sukitman (seorang polisi), diktahui bahwa perwira-perwira Angkatan Darat yang diculik dan dibunuh telah dikuburkan/ditanam di Lubang Buaya. Pada Tanggal 3 Oktober 1965, ditemukan mukan tempat kuburan para jendral itu. Pengambilan jenazah dilakukan pada tanggal 4 Oktober 1965 oleh RKPAD dan Marinir/ Seluruh Jendral korban G30S/PKI dibawa ke Rumah sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto untuk dibersihkan dan disemayamkan di Markas Besar Angkatan Darat. Keesokan harinya bertepatan dengan hari ulang tahun ABRI, 5 Oktober 1965 para jenazah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Mereka diberi gelar pahlawan Revolusi. Untuk mengikis habis sisa-sisa G30S/PKI dilakukan operasi-operasi penumpasan, Yakni: 1. Operasi Merapi di Jawa Tengah dilakukan RPKAD dipimpin oleh Kolonel Sarwo Edhi Wibowo 2. Operasi Trisula di Blitar Selatan dilakukan Kodam VIII/Brawijaya yang dipimpin oleh Mayjen M.Yasin dan Kolonel Witarmin 3. Operasi Kikis di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dengan adanya operasi-operasi diatas, para pemimpin/tokoh-tokh PKI dapat ditangkap sekaligus ditembak mati. Operasi penumpasan itu mengakibatkan kekuatan PKI dapat dilumpuhkan. Dalam rangka menyelesaikan Gerakan 30 September, pada tanggal 6 Oktober 1965 Presiden Soekarno mengadakan sidang paripurna Kabinet Dwikora. Dalam sidang tersebut Presiden Soekarno menyatakan sikapnya demikian: "Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi, Bung Karno menandaskan bahwa mengutuk pembunuh-pembunuh buas yang dilakukan oleh petualang-petualang kontra revolusi dari apa yang menanamkan Dewan Revolusi. Hanya saya yang bisa mendemisioner kabinet dan bukan orang lain". D. Kesatuan aksi dalam menumbangkan Orde Lama. Aksi yang dilakukan oleh Gerakan 30 September segera mendapat perlawanan dan reaksi keras dari masyarakat yang menemukan bukti keterlibatan PKI dalam gerakan tersebut. Akhir Oktober 1965, Persatuan aksi yang di bentuk para Mahasiswa, Pelajar dan berbagai organisasi lainnya menuntut pemerintah untuk membubarkan PKI dan Organisasi pendukungnya. Pemerintah tidak segera menanggapi tuntutan masyarakat dan Nasakom tetap dijadikan prinsip kegiatan politik nasional. Kesatuan aksi pada tanggal 26 Oktober 1965 membentu satu Front, yaitu "Front Pancasila". Gelombang demonstrasi menuntut dibubarkannya PKI di berbagai daerah, Hal itu menjurus ke arah konflik politik yang mengakibatkan korban jiwa yang besar didalam masyarakat, terutama di Jawa, Bali dan Sumatera Utara. Pada tanggal 10 Januari 1966, kesatuan aksi yang tergabung dalam "Front Pancasila" melakukan demonstrasi di muka gedung DPR-GR. Mereka mengajukan tiga tuntutan hati nurani rakyat yang dikenal dengan nama "Tritura" (Tiga Tuntutan Rakyat). Isi Tritura adalah: 1. Bubarkan PKI 2. Bersihkan Kabinet dari unsur-unsur G30S/PKI 3. Turunkan Harga Barang Aksi Menetang PKI ditunjukan saat pelantikan anggota kabinet Dwikora yang disempurnakan pada tanggal 24 Februari 1966. Para demonstran menggelar aksi untuk menggagalkan persemian kabinet. Dalam bentrokan di depan Istana Merdeka, seorang mahasiswa yang bernama Arief Rachman Hakim gugur terkena tembakan resimen Cakrabirawa. Pada tanggal 25 Maret 1966, Presiden Soekarno membubarkan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI)

Tidak ada komentar: