NUSWANTORO DIPANTARA NKRI

Google+ Badge

Google+ Badge

Sabtu, 15 Juli 2017

Gerakan 30 September 1965/PKI (G30SPKI)


- Dimasa demokrasi terpimpin, PKI memperoleh kesempatan yang besar untuk meraih cita-citanya. PKI bercita-cita mengubah negara kesatuan yang berdasarkan Pancasila dengan negara yang berideologi komunis. D.N Aidit sebagai pimpinan PKI mendukung konsep demokrasi terpimpin yang berporoskan Nasionalis, Agama, dan Komunis (NASAKOM). A. Tahap Persiapan. PKI melakukan berbagai kegiatan untuk memperoleh simpati dan dukungan luas dari pemerintah dan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan antara lain: 1. Mengirim Sukarelawan dalam konfrontasi dengan Malaysia. 2. Melakukan "Aksi Sepihak" tahun 1963, terutama di Jawa, Bali, dan Sumatera Utara dengan membagikan tanah kepada petani. 3. Melakukan demonstrasi, menuntut kenaikan upah di pabrik-pabrik, perusahaan, dan perkebunan. 4. Memberikan latihan politik dan militer kepada anggota pemuda rakyat dan gerwani. PKI akhirnya menuntut pemerintah agar membentuk angkatan ke-5 yang terdiri dari dari buruh, petani, dan nelayan yang dipersenjatai. 5. Menghancurkan lawan politiknya dengan jalan mendukung pemerintah untuk membubarkan Masyumi, Murba, Manikebu (Manifesto Kebudayaan) 6. Menyebakan isu tentang adanya Dewan Jendral dalam Angkatan Darat yang akan mengambil alih kekuasaan secara paksa dengan bantuan Amerika Serikat. Tuduhan ini dibantah oleh Angkatan Darat. Sebaliknya, Angkatan Darat menuduh PKI yang akan melakukan kudeta. B. Tahap Pelaksanaan Berita tentang semakin memburuknya kesehatan Presiden Soekarno menimbulkan ketegangan di kalangan pemimpin politik nasional. Ketegangan ini mencapai puncaknya pada pemberontakan tanggal 30 September 1965 terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap para perwira Angkatan Darat yang dipimpin langsung oleh Letkol Untung (Komandan Batalyon I Cakrabirawa). Operasi itu dibantu oleh satu Batalyon dari Divisi Diponegoro, satu Batalyon dari Divisi Brawijaya dan orang sipil dari pemuda rakyat. Para perwira tinggi yang diculik dan dibunuh adalah: 1, Letnan Jendral Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat) 2. Mayor Jendral R.Suprapto (Deputi II Pangad) 3. Mayor Jendral S.Parman (Deputi III Pangad) 4. Brigadir Jendral D.I Panjaitan (Asisten IV Pangad) 5. Brigadir Jendral Sutoyo Siswomihardjo (Inspektur Kehakiman/ Oditur Jendral Angkatan Darat). Jendral A.H Nasution yang menjadi sasaran utama penculikan berhasil meloloskan diri. Akan tetapi, Ade Irma Suryani (Putrinya) tewas tertembak para penculik. Sementara itu Letnan Satu Piere A. Tendean (ajudan Jendral Nasution) menjadi sasaran penculikan. Aksi penculikan juga menewaskan Brigadir Polisi Karel Satsuit Tubun (pengawal rumah Wakil Perdana Menteri II Dr. J, Leimena). Rumah J Leimena berdampingan dengan Rumah A.H Nasution. PKI Sudah menguasai Studio RRI Pusat dan gedung telekomunikasi. Melalui RRI, pada tanggal 1 Oktober 1965, Letkol Untung menyiarkan pengumuman tentang Gerakan 30 September yang ditunjukan kepada jendral- jendral anggota Dewan Jendral yang akan melakukan kudeta (perebutan kekuasaan). Presiden Soekarno berangakat menuju Bandara Halim Perdana Kusuma. Presiden Soekarno segera mengeluarkan perintah agar seluruh rakyat Indonesia tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaaan serta memelihara kesatuan dan persatuan bangsa Sementara itu di Yogyakarta, pemberontak G30S/PKI yang dipimpin Mayor Mulyono menculik Kolonel Katamso (Komandan Korem 072) dan Letkol Sugiyono (kepala Staf). Kedua perwira itu dibunuh di asrama Batalyon L di Desa Keuntungan (di luar kota Yogyakarta. C. Menumpas Gerakan 30 September 1965/PKI Operasi Penumpasan G 30S/PKI dilancarkan pada tanggal 1 Oktober 1965. Mayor Jendral Soeharto yang menjabat panglima Komando Strategis Angkatan darat (Kostrad) mengambil alih komando Angkatan Darat karena menteri panglima Angkatan Darat (Letjend Ahmad Yani) belum diketahui nasibnya. Panglima Kostrad memimpin operasi penumpasan terhadap G30S/PKI dengan menghimpun pasukan lain, termasuk Divisi Siliwangi, Kavaleri, dan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhi Wibowo. Studio RRI Pusat, gedung besar telekomunikasi dapat direbut kembali. Operasi diarahkan ke Halim Perdana Kusuma. Halim Perdana Kusuma dapat dikuasai pasukan yang dipimpin oleh Kolonel Sarwo Edhi Wibowo pada tanggal 2 Oktober 1965. Karena tidak ada dukungan dari masyarakat dan angggota angkatan bersenjata lainnya, para pemimpin dan tokoh pendukung G30S/PKI termasuk pemimpin D.N Aidit melarikan diri. Atas petunjuk Sukitman (seorang polisi), diktahui bahwa perwira-perwira Angkatan Darat yang diculik dan dibunuh telah dikuburkan/ditanam di Lubang Buaya. Pada Tanggal 3 Oktober 1965, ditemukan mukan tempat kuburan para jendral itu. Pengambilan jenazah dilakukan pada tanggal 4 Oktober 1965 oleh RKPAD dan Marinir/ Seluruh Jendral korban G30S/PKI dibawa ke Rumah sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto untuk dibersihkan dan disemayamkan di Markas Besar Angkatan Darat. Keesokan harinya bertepatan dengan hari ulang tahun ABRI, 5 Oktober 1965 para jenazah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Mereka diberi gelar pahlawan Revolusi. Untuk mengikis habis sisa-sisa G30S/PKI dilakukan operasi-operasi penumpasan, Yakni: 1. Operasi Merapi di Jawa Tengah dilakukan RPKAD dipimpin oleh Kolonel Sarwo Edhi Wibowo 2. Operasi Trisula di Blitar Selatan dilakukan Kodam VIII/Brawijaya yang dipimpin oleh Mayjen M.Yasin dan Kolonel Witarmin 3. Operasi Kikis di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dengan adanya operasi-operasi diatas, para pemimpin/tokoh-tokh PKI dapat ditangkap sekaligus ditembak mati. Operasi penumpasan itu mengakibatkan kekuatan PKI dapat dilumpuhkan. Dalam rangka menyelesaikan Gerakan 30 September, pada tanggal 6 Oktober 1965 Presiden Soekarno mengadakan sidang paripurna Kabinet Dwikora. Dalam sidang tersebut Presiden Soekarno menyatakan sikapnya demikian: "Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi, Bung Karno menandaskan bahwa mengutuk pembunuh-pembunuh buas yang dilakukan oleh petualang-petualang kontra revolusi dari apa yang menanamkan Dewan Revolusi. Hanya saya yang bisa mendemisioner kabinet dan bukan orang lain". D. Kesatuan aksi dalam menumbangkan Orde Lama. Aksi yang dilakukan oleh Gerakan 30 September segera mendapat perlawanan dan reaksi keras dari masyarakat yang menemukan bukti keterlibatan PKI dalam gerakan tersebut. Akhir Oktober 1965, Persatuan aksi yang di bentuk para Mahasiswa, Pelajar dan berbagai organisasi lainnya menuntut pemerintah untuk membubarkan PKI dan Organisasi pendukungnya. Pemerintah tidak segera menanggapi tuntutan masyarakat dan Nasakom tetap dijadikan prinsip kegiatan politik nasional. Kesatuan aksi pada tanggal 26 Oktober 1965 membentu satu Front, yaitu "Front Pancasila". Gelombang demonstrasi menuntut dibubarkannya PKI di berbagai daerah, Hal itu menjurus ke arah konflik politik yang mengakibatkan korban jiwa yang besar didalam masyarakat, terutama di Jawa, Bali dan Sumatera Utara. Pada tanggal 10 Januari 1966, kesatuan aksi yang tergabung dalam "Front Pancasila" melakukan demonstrasi di muka gedung DPR-GR. Mereka mengajukan tiga tuntutan hati nurani rakyat yang dikenal dengan nama "Tritura" (Tiga Tuntutan Rakyat). Isi Tritura adalah: 1. Bubarkan PKI 2. Bersihkan Kabinet dari unsur-unsur G30S/PKI 3. Turunkan Harga Barang Aksi Menetang PKI ditunjukan saat pelantikan anggota kabinet Dwikora yang disempurnakan pada tanggal 24 Februari 1966. Para demonstran menggelar aksi untuk menggagalkan persemian kabinet. Dalam bentrokan di depan Istana Merdeka, seorang mahasiswa yang bernama Arief Rachman Hakim gugur terkena tembakan resimen Cakrabirawa. Pada tanggal 25 Maret 1966, Presiden Soekarno membubarkan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI)

kekejaman PKI pkc atheis cina komunis


Cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI) berawal dari kedatangan sejumlah tokoh komunis Belanda pada tahun 1913. Salah satu tokoh komunis Belanda Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet kemudian mendirikan organisasi ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging) pada tahun 1914. Saat itu kondisi Indonesia masih dalam penjajahan Belanda. Tokoh komunis Belanda ingin mengubah pemerintahan kapitalis Belanda menjadi komunis. Mereka melakukan berbagai upaya untuk mengganggu stabilitas politik Hindia Belanda. Sementara itu, organisasi ISDV didukung penuh dan didanai oleh Uni Soviet. Sneevliet mencoba menyebarkan pengaruhnya, namun kurang diterima oleh masyarakat karena paham mereka dinilai tidak sesuai dengan kultur Indonesia. Sehingga mereka melancarkan misi penyusupan ke dalam tubuh Sarekat Islam (SI) yang telah lebih dulu mengakar kuat di masyarakat. Mereka berhasil mempengaruhi tokoh-tokoh muda SI seperti Semaoen, Darsono, Tan Malaka, dan Alimin Prawirodirdjo. Hal ini menyebabkan SI pecah menjadi “SI Putih” yang dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto dan “SI Merah” yang dipimpin Semaoen. SI merah berlandaskan asas sosialisme-komunisme. Melalui pengaruhnya dalam tubuh SI, ISDV mengalami perkembangan yang cukup pesat. Semaoen yang juga memimpin ISDV berhasil meningkatkan anggotanya dari 1700 orang pada tahun 1916 menjadi 20.000 orang pada tahun 1917 di sela-sela kesibukannya sebagai Ketua SI merah di Semarang. Tahun 1917, tokoh-tokoh komunis yang tergabung dalam ISDV menghasut buruh dan petani yang sudah menjadi anggota untuk membakar perkebunan dan perkantoran Belanda. Para tokoh tersebut ditangkap dan dikembalikan ke Belanda. Adapun para buruh dan petani yang tertangkap dihukum mati, dipenjara, disiksa, dikerjapaksakan oleh Hindia Belanda. Tujuan pembakaran bukan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, tapi untuk mengganggu stabilitas pemerintahan kapitalis Hindia Belanda yang ingin mereka ubah menjadi pemerintahan komunis. Setelah para tokohnya dipulangkan ke Belanda, ISDV tidak dibubarkan. Pengurusnya diganti. Pada tahun 1920 ISDV diganti menjadi PKH (Perserikatan Komunis Hindia Belanda). PKH dipimpin oleh Semaoen dan Darsono. PKH adalah partai komunis pertama di Asia yang menjadi bagian dari Komunis Internasional. Sneevliet mewakili partai ini pada kongres kedua Komunis Internasional pada 1920. Pembentukan Partai Komunis Indonesia Berdasarkan Konferensi Komunis di Moskow, Uni Soviet menuntut pendirian partai komunis di seantero dunia dalam rangka merebut kekuasaan. Merujuk hasil konferensi tersebut, Tahun 1926 di Semarang PKH berubah nama menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia) dipimpin oleh Muso dan Alimin. Pemberontakan PKI 1926 Desember 1925 di Prambanan, Yogyakarta diadakan pertemuan partai yang dipimpin oleh Alimin untuk merencanakan pemberontakan. Pertemuan itu dihadiri sejumlah tokoh-tokoh PKI dari Jawa dan Sumatra Barat. Pada November 1926, PKI memimpin pemberontakan melawan pemerintahan kolonial di Jawa Barat dan Sumatra Barat. Perkebunan dibakar, stasiun dan terminal diserbu bukan dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hal ini dilakukan untuk mengubah pemerintahan kapitalis Belanda menjadi pemerintahan komunis di bawah kendali Uni Soviet. Akibat kerusuhan ini para pimpinan PKI dibuang dan mendapatkan suaka politik ke Uni Soviet. Akan tetapi, kader-kader partai yang terdiri dari para petani dan buruh yang terlibat kerusuhan sebanyak 13.000 orang dibuang ke Boven Digul, sebuah kampung tahanan di Papua. Ratusan petani dan buruh disiksa, dibunuh, digantung di jalan-jalan oleh Belanda. Tahun 1927 PKI dinyatakan terlarang oleh pemerintahan Belanda. Setelah pelarangan itu, PKI menata kembali gerakannya di bawah tanah. Tahun 1935, Muso dan beberapa pimpinan PKI lainnya kembali ke Indonesia, namun tidak tinggal lama. Mereka bergerilya untuk menghimpun kembali mantan anggota PKI. Mereka membentuk gerakan bawah tanah. Kemudian mereka kembali lagi ke Uni Soviet dan mengatur gerakan bawah tanah tersebut dari Uni Soviet. Pemberontakan PKI 1945-1946 Pada Oktober 1945, PKI membentuk suatu gerakan bawah tanah dengan kedok organisasi kepemudaan API (Angkatan Pemuda Indonesia) dan AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia). Di pertengahan Oktober, AMRI di Slawi, Tegal, mulai melancarkan aksi teror, yang dilanjutkan dengan aksi penangkapan dan pembunuhan sejumlah pejabat pemerintah di Tegal. Sementara di Serang, Banten,terjadi perebutan pemerintahan Keresidenan Banten oleh Tokoh Komunis Banten Ce’ Mamat yang terpilih sebagai Ketua KNI (Komite Nasional Indonesia) dan membentuk DPRS (Dewan Pemerintahan Rakyat Serang). Disusul keberhasilan laskar Ubel-Ubel yang dipimpin Tokoh Komunis Tangerang, Ahmad Khoirun dalam mengambil alih kekuasaan pemerintahan Tangerang dari Bupati Agus Padmanegara. Kemudian PKI menampakan diri secara terbuka pada 21 Oktober 1945. PKI mulai unjuk gigi dengan melancarkan serangan dan mengambil alih kekuasaan di daerah-daerah. Pada 4 November 1945, API dan AMRI menyerbu Kantor Pemda Tegal dan Markas TKR (Tentara Keamanan Rakyat), tapi gagal. Lalu membentuk Gabungan Badan Perjuangan Tiga Daerah untuk merebut kekuasaan di Keresidenan Pekalongan yang meliputi Brebes, Tegal serta Pemalang. Selanjutnya, pada Desember 1945, PKI Banten pimpinan Ce’ Mamat menculik dan membunuh Bupati Lebak, R. Hardiwinangun, di Jembatan Sungai Cimancak. Sementara, Ubel-Ubel Mauk yang dinamakan Laskar Hitam di bawah pimpinan Usman membunuh Tokoh Nasional Oto Iskandar Dinata. Pada Februari 1946, Kota Cirebon tidak luput dari pemberontakan PKI Cirebon di bawah pimpinan Mr.Yoesoef dan Mr.Soeprapto. Namun, pemberontakan digagalkan oleh TRI (Tentara Republik Indonesia). Kota Cirebon berhasil direbut kembali. Pada Maret 1946, Istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura, Sumatera, diserbu oleh pasukan PKI. Sultan Langkat bersama keluarganya dibunuh dan hartanya dijarah. Pada tahun 1947, kader PKI Amir Syarifuddin Harahap berhasil jadi Perdana Menteri Republik Indonesia dan membentuk kabinet. Pemberontakan PKI 1948 Pada 11 Agustus 1948 Musso (pemimpin PKI tahun 1920-an) tiba di Yogyakarta dari Unisoviet menggalang kekuatan kembali. Ditambah lagi partai-partai dalam tubuh FDR (Front Demokrasi Rakyat) bentukan Amir Syarifuddin (Perdana Menteri kedua di Indonesia) menyatakan bersatu dengan PKI. Sebelumnya pada Januari – Desember 1947, Amir Syarifuddin memasukkan kader-kader PKI ke Legislatif, Eksekutif, pegawai negeri sipil, pegawai negeri militer, menjadi komandan-komandan tentara dan polisi. Setelah itu, mereka meningkatkan aksi teror, mengadu domba kesatuan-kesatuan TNI dan menjelek-jelekan kepemimpinan Soekarno-Hatta. Puncak aksi PKI adalah pemberontakan terhadap RI pada 18 September 1948 di Madiun, Jawa Timur. Tujuan pemberontakan itu adalah meruntuhkan negara RI dan menggantinya dengan negara komunis. Dalam aksi ini beberapa pejabat, perwira TNI, pimpinan partai, alim ulama dan rakyat yang dianggap musuh dibunuh dengan kejam. Tindakan kekejaman ini membuat rakyat marah dan mengutuk PKI. Tokoh-tokoh pejuang dan pasukan TNI memang sedang menghadapi Belanda, tetapi pemerintah RI mampu bertindak cepat. Panglima Besar Soedirman memerintahkan Kolonel Gatot Subroto di Jawa Tengah dan Kolonel Sungkono di Jawa Timur untuk menjalankan operasi penumpasan pemberontakan PKI. Pada 30 September 1948, Madiun dapat diduduki kembali oleh TNI dan polisi. Dalam operasi ini Muso berhasil ditembak mati sedangkan Amir Syarifuddin dan tokoh-tokoh lainnya ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Berikut ini gambaran situasi mencekam dan mengerikan dalam peristiwa berdarah pemberontakan PKI tahun 1948 yang dipaparkan panjang oleh Oleh Agus Sunyoto, peneliti sejarah peristiwa Madiun 1948 yang diterbitkan dalam buku berjudul “LUBANG-LUBANG PEMBANTAIAN: GERAKAN MAKAR FDR/PKI 1948 DI MADIUN” (1990). Kebiadaban PKI Madiun 1948 Terhadap Ulama NU Tanggal 18 September 1948 pagi sebelum terbit fajar, sekitar 1500 orang pasukan FDR/PKI – 700 orang diantaranya dari Kesatuan Pesindo pimpinan Mayor Pandjang Djoko Prijono – bergerak ke pusat Kota Madiun. Kesatuan CPM, TNI, Polisi, aparat pemerintahan sipil terkejut ketika diserang mendadak. Terjadi perlawanan singkat di markas TNI, kantor CPM, kantor Polisi. Pasukan Pesindo bergerak cepat menguasai tempat-tempat strategis di Madiun. Saat fajar terbit, Madiun sudah jatuh ke tangan FDR/PKI. Sekitar 350 orang ditahan. KEBERHASILAN FDR/PKI menguasai Madiun disusul terjadinya aksi penjarahan, penangkapan sewenang-wenang terhadap musuh PKI, menembak musuh PKI, kegemparan dan kepanikan pun pecah di kalangan penduduk, diiringi tindakan-tindakan bersifat fasisme yang berlangsung dengan mengerikan. Semua pimpinan Masyumi dan PNI ditangkap atau dibunuh. Orang-orang berpakaian Warok Ponorogo dengan senjata revolver dan kelewang menembak atau menyembelih orang-orang yang dianggap musuh PKI. Mayat-mayat bergelimpangan di sepanjang jalan. Bendera merah putih dirobek diganti bendera merah berlambang palu arit. Potret Soekarno diganti potret Moeso. Seorang wartawan Sin Po yang berada di Madiun, menuliskan detik-detik ketika PKI pamer kekejaman itu dalam reportase yang diberi judul: ‘Kekedjeman kaoem Communist; Golongan Masjoemi menderita paling heibat; Bangsa Tionghoa “ketjipratan” djoega. Pada detik, menit dan jam yang hampir sama, di Kota Magetan sekitar 1.000 orang pasukan FDR/PKI – 700 orang diantaranya dari Kesatuan Pesindo pimpinan Mayor Moersjid — bergerak cepat menyerbu Kabupaten, kantor Komando Distrik Militer (Kodim), Kantor Onder Distrik Militer (Koramil), Kantor Resort Polisi, rumah kepala pengadilan, dan kantor pemerintahan sipil di Magetan. Sama dengan penyerangan mendadak di Madiun, setelah menguasai Kota Magetan dan menawan Bupati, Patih, Sekretaris Kabupaten, Jaksa, Ketua Pengadilan, Kapolres, komandan Kodim, dan aparat Kabupaten Magetan, terjadi aksi penangkapan terhadap tokoh-tokoh Masyumi dan PNI di kampung-kampung, pesantren-pesantren, desa-desa, pabrik gula, diikuti penjarahan, penyiksaan, dan bahkan pembunuhan. Wartawan Gadis Rasid yang menyaksikan pembantaian massal di Gorang-gareng, Magetan, menulis reportase tentang kebiadaban FDR/PKI tersebut. Pembunuhan, perampokan dan penangkapan yang dilakukan FDR/PKI itu diberitakan surat kabar Merdeka 1 November 1948. Meski tidak sama dengan aksi serangan di Madiun dan Magetan yang sukses mengambil alih pemerintahan, serangan mendadak yang sama pada pagi hari tanggal 18 September 1948 itu dilakukan oleh pasukan FDR/PKI di Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, Purwodadi, Kudus, Pati, Blora, Rembang, Cepu. Sama dengan di Madiun dan Magetan, aksi serangan FDR/PKI meninggalkan jejak pembantaian massal terhadap musuh-musuh mereka. Antropolog Amerika, Robert Jay, yang ke Jawa Tengah tahun 1953 mencatat bagaimana PKI melenyapkan tidak hanya pejabat pemerintah, tapi juga penduduk, terutama ulama-ulama ortodoks, santri dan mereka yang dikenal karena kesalehannya kepada Islam: mereka itu ditembak, dibakar sampai mati, atau dicincang-cincang. Mesjid dan madrasah dibakar, bahkan ulama dan santri-santrinya dikunci di dalam madrasah, lalu madrasahnya dibakar. Tentu mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena ulama itu orang-orang tua yang sudah ubanan, orang-orang dan anak-anak laki-laki yang baik yang tidak melawan. Setelah itu, rumah-rumah pemeluk Islam dirampok dan dirusak. Tindakan kejam FDR/PKI selama menjalankan aksi kudeta itu menyulut amarah Presiden Soekarno yang mengecam tindakan tersebut dalam pidato yang berisi seruan bagi “rakyat Indonesia untuk menentukan nasib sendiri dengan memilih: ikut Muso dengan PKI-nya yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesia merdeka-atau ikut Soekarno-Hatta, yang Insya Allah dengan bantuan Tuhan akan memimpin Negara Republik Indonesia ke Indonesia yang merdeka, tidak dijajah oleh negara apa pun juga. Presiden Soekarno menyeru agar rakyat membantu alat pemerintah untuk memberantas semua pemberontakan dan mengembalikan pemerintahan yang sah di daerah. Madiun harus lekas di tangan kita kembali.” Seruan Presiden Soekarno disambut oleh Menteri Hamengkubuwono yang disusul sambutan Menteri Soekiman dan Jenderal Soedirman yang membacakan surat keputusan pengangkatan Mayor Jenderal Soengkono sebagai panglima militer Jawa Timur. Tanggal 23 September 1948 Menteri Agama KH Masjkoer mengucapkan pidato radio yang tegas menyebutkan bahwa tindakan merebut kekuasaan bertentangan dengan agama dan sama seperti perbuatan permusuhan orang-orang yang pro Belanda. Dengan janji-janji palsu rakyat dipengaruhi, dibujuk, dihasut, dipaksa dan dijadikan tameng oleh PKI Moeso. Pidato Menteri Agama KH Masjkoer yang menyatakan bahwa rakyat dipengaruhi, dibujuk, dihasut, dipaksa dan dijadikan tameng oleh PKI Moeso tidak mengada-ada. Itu bukti sewaktu pidato Presiden Soekarno dicetak sebagai selebaran yang disebarkan kepada penduduk melalui pesawat terbang. Seketika – usai membaca selebaran berisi pidato Presiden Soekarno – penduduk yang dipersenjatai oleh PKI beramai-ramai meletakkan senjata. Mereka duduk di trotoar jalan dalam keadaan bingung. Mereka terkejut dan bingung sewaktu sadar bahwa gerakan yang mereka lakukan itu ternyata ditujukan untuk melawan Presiden Soekarno. Mereka pun mulai bertanya-tanya tentang siapa sejatinya Moeso yang mengaku pemimpin rakyat itu. Sejarah mencatat, bahwa antara tanggal 18 – 21 September 1948 gerakan makar FDR/PKI yang dilakukan dengan sangat cepat itu tidak bisa dimaknai lain kecuali sebagai pemberontakan. Sebab dalam tempo hanya tiga hari, FDR/PKI telah membunuh pejabat-pejabat negara baik sipil maupun militer, tokoh masyarakat, tokoh politik, tokoh pendidikan, bahkan tokoh agama. Dengan kekejaman khas kaum komunis – seperti kelak dipraktekkan lagi di Kampuchea selama rezim Pol Pot berkuasa — bagian terbesar dari mayat-mayat yang dibunuh dengan sangat kejam oleh FDR/PKI itu dimasukkan ke dalam sumur-sumur “neraka” secara tumpuk-menumpuk dan tumpang-tindih. Sebagian lagi di antara tawanan FDR/PKI ditembak di “Ladang Pembantaian” di Pabrik Gula Gorang-gareng maupun di Alas Tuwa. Setelah gerakan makar FDR/PKI berhasil ditumpas oleh TNI yang dibantu masyarakat, awal Januari tahun 1950 sumur-sumur “neraka” yang digunakan FDR/PKI mengubur korban-korban kekejaman mereka dibongkar oleh pemerintah. Berpuluh-puluh ribu masyarakat dari Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo, Trenggalek berdatangan menyaksikan pembongkaran sumur-sumur “neraka”. Mereka bukan sekedar melihat peristiwa langka itu, kebanyakan mereka mencari anggota keluarganya yang diculik PKI. Diantara sumur-sumur “neraka” yang dibongkar itu, informasinya diketahui justru berdasar pengakuan orang-orang PKI sendiri. Dalam proses pembongkaran sumur-sumur “neraka” itu terdapat tujuh lokasi ditambah dua lokasi pembantaian di Magetan, yaitu: 1. sumur “neraka” Desa Dijenan, Kec.Ngadirejo, Kab.Magetan; 2. Sumur “neraka” I Desa Soco, Kec.Bendo, Kab.Magetan; 3. Sumur “neraka” II Desa Soco, Kec.Bendo, Kab,Magetan; 4. Sumur “neraka” Desa Cigrok, Kec.Kenongomulyo, Kab.Magetan, 5. Sumur “neraka” Desa Pojok, Kec.Kawedanan, Kab.Magetan; 6. Sumur “neraka” Desa Batokan, Kec.Banjarejo, Kab.Magetan; 7. Sumur “neraka” Desa Bogem, Kec.Kawedanan, Kab.Magetan; dan dua lokasi killing fields yang digunakan FDR/PKI membantai musuh-musuhnya, yaitu ruang kantor dan halaman Pabrik Gula Gorang-gareng dan Alas Tuwa di dekat Desa Geni Langit di Magetan. Fakta kekejaman FDR/PKI dalam gerakan pemberontakan tahun 1948 disaksikan puluhan ribu warga masyarakat yang menonton pembongkaran sumur-sumur “neraka” itu, yang setelah diidentifikasi diperoleh sejumlah nama pejabat pemerintahan sipil maupun TNI, ulama, tokoh Masjoemi, tokoh PNI, Polisi, Camat, Kepala Desa, bahkan Guru. Berikut daftar sebagian nama-nama korban kekejaman FDR/PKI tahun 1948 yang diperoleh dari pembongkaran sumur “neraka” Soco I dan sumur “neraka” Soco II, yang terletak di Desa Soco, Kec. Bendo, Kab.Magetan: SUMUR “NERAKA” SOCO I: 1. Soehoed, camat Magetan; 2. R. Moerti, Kepala Pengadilan Magetan; 3. Mas Ngabehi Soedibyo, Bupati Magetan; 4. R. Soebianto; 5. R. Soekardono, Patih Magetan; 6. Soebirin; 7. Imam Hadi; 8. R. Joedo Koesoemo; 9. Soemardji; 10. Soetjipto; 11. Iskak; 12. Soelaiman; 13. Hadi Soewirjo; 14. Soedjak; 15. Soetedjo; 16. Soekadi; 17. Imam Soedjono; 18. Pamoedji; 19. Soerat Atim; 20. Hardjo Roedino; 21. Mahardjono; 22. Soerjawan; 23. Oemar Danoes; 24. Mochammad Samsoeri; 25. Soemono; 26. Karyadi; 27. Soerdradjat; 28. Bambang Joewono; 29. Soepaijo; 30. Marsaid; 31. Soebargi; 32. Soejadijo. 33. Ridwan; 34. Marto Ngoetomo; 35. Hadji Afandi; 36. Hadji Soewignjo; 37. Hadji Doelah; 38. Amat Is; 39. Hadji Soewignyo; 40. Sakidi; 41. Nyonya Sakidi; 42. Sarman; 43. Soemokidjan; 44. Irawan; 45. Soemarno; 46. Marni; 47. Kaslan; 48. Soetokarijo; 49. Kasan Redjo; 50. Soeparno; 51. Soekar; 52. Samidi; 53. Soebandi; 54. Raden Noto Amidjojo; 55. Soekoen; 56. Pangat B; 57. Soeparno; 58. Soetojo; 59. Sarman; 60. Moekiman; 61. Soekiman; 62. Pangat/Hardjo; 63. Sarkoen B; 64. Sarkoen A; 65. Kasan Diwirjo; 66. Moeanan; 67. Haroen; 68. Ismail. ada sekitar 40 mayat tidak dikenali karena bukan warga Magetan. SUMUR “NERAKA” SOCO II: 1. R. Ismaiadi, Kepala Resort Polisi Magetan; 2. R.Doerjat, Inspektur Polisi Magetan; 3. Kasianto, anggota Polri; 4. Soebianto, anggota Polri; 5. Kholis, anggota Polri; 6. Soekir, anggota Polri; 7. Bamudji, Pembantu Sekretaris BTT; 8. Oemar Damos, Kepala Jawatan Penerangan Magetan; 9. Rofingi Tjiptomartono, Wedana Magetan; 10. Bani, APP. Upas; 11. Soemingan, APP.Upas; 12. Baidowi; 13. Naib Bendo; 14. Reso Siswojo; 15. Kusnandar, Guru; 16. Soejoedono, Adm PG Rejosari; 17. Kjai Imam Mursjid Muttaqin, Mursyid Tarikat Syattariyah Pesantren Takeran; 18. Kjai Zoebair; 19. Kjai Malik; 20. Kjai Noeroen; 21. Kjai Moch. Noor.” Tindak kebiadaban FDR/PKI selama melakukan aksi makarnya tahun 1948 yang disaksikan puluhan ribu penduduk laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak yang menonton pengangkatan jenazah para korban dari sumur-sumur “neraka” yang tersebar di Magetan dan Madiun, adalah rekaman peristiwa yang tidak akan terlupakan. Peristiwa pembongkaran sumur-sumur “neraka” itu telah memunculkan asumsi abadi dalam ingatan bawah sadar masyarakat bahwa PKI memiliki hubungan erat dengan pembunuhan manusia yang dimasukkan ke dalam sumur “neraka”. Itu sebabnya, ketika tanggal 1 Oktober 1965 tersiar kabar para jenderal TNI AD diculik PKI dan kemudian ditemukan sudah menjadi mayat di dalam sumur “neraka” Lubang Buaya di dekat Halim, amarah masyarakat seketika meledak terhadap PKI, termasuk di lingkungan aktivis Gerakan Pemuda Ansor yang sejak 1964 membentuk Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di berbagai daerah yang dilatih kemiliteran karena memenuhi keinginan Presiden Soekarno membentuk kekuatan sukarelawan untuk mengganyang Malaysia, di mana anggota Banser yang emosinya tak terkendali – terutama setelah tewasnya 155 orang anggota Ansor Banyuwangi yang dibunuh PKI – dimanfaatkan oleh pihak militer untuk bersama-sama menumpas kekuatan PKI yang telah membunuh para jenderal mereka. Pemberontakan PKI 1965 Pada 1950, PKI mulai bangkit kembali ditandai dengan kegiatan penerbitannya untuk melancarkan propaganda mereka melalui Harian Rakjat dan Bintang Merah. Kepemimpinan PKI diisi oleh tokoh-tokoh muda diantaranya, DN Aidit, Sudisman, Lukman, Njoto dan Sakirman. Pada Pemilu 1955, PKI menjadi partai terbesar ke-empat di Indonesia. Memasuki tahun 1960-an, posisi PKI semakin kuat dengan diterimanya ide Nasakom (Nasionalis, Agama, dan Komunis) yang digagas oleh Soekarno. Kuatnya kedudukan PKI disebabkan oleh kerjasama yang semakin erat dengan Soekarno, unsur-unsur ABRI yang dipengaruhi maupun berideologi komunisme, persiapan di daerah basis pedesaan dengan basis pokok daerah antara Gunung Merapi dan Merbabu, yakni segitiga Solo-Boyolali-Klaten, perhitungan cukup kuatnya kekuatan bersenjata PKI, serta kemungkinan berakhirnya peranan politik Presiden Sukarno sehubungan dengan kesehatannya, dan perhitungan lain seperti dukungan dari Komunisme Internasional, antara lain RRC. Pada periode ini memang komunisme di berbagai belahan dunia mulai menancapkan kekuasaannya, terutama di RRC dan Vietnam. PKI terus melancarkan propaganda, agitasi (hasutan), pelecehan agama, dan fitnah kepada kelompok yang anti komunis, khususnya umat Islam. Sehingga atas desakan PKI, Soekarno membubarkan Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia) pada 17 Agustuts 1960 dengan dalih tuduhan keterlibatan Masyumi dalam pemberontakan PRRI, padahal hanya karena anti Nasakom. Pada bulan Maret 1962, pentolan PKI DN Aidit dan Nyoto resmi masuk dalam pemerintahan Soekarno, diangkat menjadi Menteri Penasehat. Pada tahun 1963, atas desakan PKI akhirnya Soekarno membubarkan GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia) karena anti Komunis. Tak hanya itu di tahun yang sama, terjadi Penangkapan Tokoh-Tokoh Masyumi dan GPII serta Ulama Anti PKI, antara lain : KH. Buya Hamka, KH.Yunan Helmi Nasution, KH. Isa Anshari, KH. Mukhtar Ghazali, KH. EZ. Muttaqien, KH. Soleh Iskandar, KH. Ghazali Sahlan dan KH. Dalari Umar. Pada bulan Desember 1964, Chaerul Saleh Pimpinan Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak) yang didirikan oleh mantan Pimpinan PKI, Tan Malaka, menyatakan bahwa PKI sedang menyiapkan kudeta. Akibatnya, sekali lagi atas desakan PKI, Soekarno membekukan Partai Murba dengan dalih telah memfitnah PKI. Kemudian, Partai tersebut dibubarkan pada tahun 1965 karena dianggap musuh oleh PKI. Pada bulan puasa di tahun 1965, Training Centre Pelajar Islam Indonesia (PII) di Kanigoro Kediri diserbu oleh orang-orang PKI bersenjata tajam. Para penyerbu beralasan bahwa pengajar pada training itu adalah anggota partai terlarang (Masyumi). Para pelajar yang masih muda itu kemudian digiring keluar oleh orang-orang PKI yang berjumlah besar, sambil dihina dan diolok-olok. Tidak cukup sampai di situ, kitab suci Al Qur’an yang ada dimasukkan ke dalam karung kemudian disepak-sepak dengan kaki. Upaya untuk memberangus organisasi keagamaan dari kalangan Islam juga nampak dari tuntutan pembubaran Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Serikat Buruh Islam Indonesia (SBII), yang menurut PKI keduanya mempunyai hubungan genealogis dengan Masyumi. Di Surabaya juga terjadi insiden yang dikenal dengan Insiden Bangkuning. Bangkuning adalah sebuah kampung yang terletak agak ke dalam, dari Jalan Raya Darmo, Surabaya. Di sana ada sebuah masjid kuno peninggalan Raden Rahmat yang lebih dikenal dengan nama Sunan Ampel. Suatu hari, sekelompok Pemuda Rakyat dan Gerwani (ormas PKI) tiba-tiba menyerbu Masjid Bangkuning, masuk ke dalamnya, menginjak-injak dengan kaki dan sepatu berlumpur, menari-nari sambil menyanyikan lagu genjer-genjer. Kemudian menguasai masjid tersebut dan menjadikannya sebagai markas kegiatan mereka. Perbuatan ini kemudian memicu amarah umat Islam, yang kemudian menyebabkan Banser mengambil alih masjid tersebut. Pelecehan dan penodaan agama dilakukan secara intensif dan terus menerus oleh PKI. Lobi intensif yang dilakukan Menteri Agama Saifuddin Zuhri kepada Bung Karno akhirnya menghasilkan Penpres No. 1 tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan Penodaan Agama. Pada 30 September 1965, PKI melakukan pemberontakan di Jakarta, namun dengan cepat dilumpuhkan oleh TNI Angkatan Darat. Di hari yang sama, PKI menculik dan menghabisi 7 orang jenderal yaitu Letjen TNI A. Yani, Mayjen TNI Soeprapto, Mayjen TNI M.T. Hardjono, Mayjen TNI S. Parman, Brigjen TNI D.I. Panjaitan, Brigjen TNI Soetodjo Siswomihardjo, dan Lettu Pierre Andries Tendean. PKI juga menembak putri bungsu Jenderal AH Nasution yang baru berusia 5 tahun, Ade Irma Suryani Nasution. Selain di Jakarta, pemberontakan PKI juga terjadi di daerah-daerah diantaranya, di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat dan Timur, Maluku, Irian Barat. Sejak 30 September 1965 hingga sepanjang tahun 1966-an, rakyat dan TNI bersama-sama melawan PKI yang melakukan pemberontakan dan pembantaian penduduk sipil, para kyai, pejabat pemerintah, dan sebagainya. Meski jelas pemberontakan dan pembantaian yang dilakukan PKI, Soekarno yang selama ini dekat dengan PKI masih membela dengan mengeluarkan pernyataan; ”Di Indonesia ini tidak ada partai yang pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa sebesar PKI…” dalam pidatonya di muka Front Nasional di Senayan pada 13 Februari 1966. Untuk mencegah paham komunis menyebar kembali di Indonesia, pemerintah secara resmi menerbitkan TAP MPRS No XXV Tahun 1966 yang ditanda-tangani Ketua MPRS – RI Jenderal TNI AH Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan penyebaran paham Komunisme, Marxisme dan Leninisme, pada 5 Juli 1966. Namun rupanya kader-kader PKI masih melanjutkan perjuangannya. Pada Desember 1966, kader PKI Sudisman mencoba menggantikan DN Aidit dan Nyoto untuk membangun kembali PKI, tapi ditangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1967. Kembali lagi pembantaian dilakukan oleh sisa-sisa kader PKI yaitu Kaum Tani PKI di Selatan Blitar menyerang para pemimpin dan kader NU, sehingga 60 orang NU tewas dibunuh pada Bulan Maret 1968. TNI cepat tanggap menyerang Blitar untuk menghancurkan persembunyian terakhir PKI dengan melaksanakan Operasi Trisula. Sehingga sejak 1968 hingga 1998, sepanjang Orde Baru PKI dan seluruh mantel organisasinya dilarang di seluruh Indonesia dengan dasar TAP MPRS No XXV Tahun 1966. Namun, pasca Reformasi 1998, pimpinan dan anggota PKI dibebaskan dari penjara, beserta keluarga dan simpatisannya yang masih mengusung Ideologi Komunis. Kini, mereka kembali melakukan aneka gerakan dan memutarbalikkan fakta sejarah dengan memposisikan PKI sebagai korban pembantaian negara dan mengklaim sebagai pihak yang turut memperjuangkan kemerdekaan RI. Tak hanya di Indonesia, peristiwa berdarah yang didalangi kaum Komunis juga dialami oleh negara-negara lain yang tersebar di Eropa, Asia, Afrika dan Amerika. Kekejaman Komunis dinilai belum ada yang menandingi dalam jumlah pembantaiannya. Ideologi Komunis jelas anti Tuhan, anti demokrasi dan HAM. Peneliti sejarah Rusia Iosef Dyadkin menemukan angka 52,1 juta rakyat Rusia yang dibantai rezim Marxis (Komunis), lalu Anthony Lutz yang mencatat 60 juta rakyat Cina yang dihabisi pemerintahnya, berjumlah 112, 1 juta orang. Sementara, peneliti lain, James Nihan menemukan angka 95,2 juta (Religion and Society Report) untuk seluruh dunia selama Komunis berjaya. Di Indonesia, kaum komunis melakukan banyak pembantaian di berbagai daerah. Tujuan kudeta PKI adalah untuk mengganti NKRI menjadi negara Komunis. Namun, kader-kader PKI beserta simpatisannya masih saja terus memutarbalikkan sejarah dan mengklaim bahwa mereka adalah korban pembantaian negara. Berikut ini penuturan singkat beberapa saksi korban yang mengungkapkan betapa kejinya PKI, dilansir dari buku “Ayat-Ayat yang Disembelih” yang ditulis oleh Anab Afifi dari keluarga santri, berlatar belakang konsultan komunikasi dan Thowaf Zuharon dari keluarga santri NU, berlatar belakang jurnalis. Kedua penulis ini berhasil mewawancarai 30 saksi hidup korban keganasan PKI di berbagai daerah. Kapolres Ismiadi Diseret dengan Jeep Wilis Sejauh 3 Km Hingga Tewas “Sebelum meletus peristiwa Madiun Affair, orang-orang PKI merampok dan membakar rumah-rumah para pedagang di Kauman, Magetan. Dilanjutkan pembunuhan terhadap para aparat. Kapolres Ismiadi diseret dengan Jeep Willis sejauh tiga kilo meter hingga tewas. Setelah tentara habis, gantian polisi dihabisi. Setelah itu pejabat dan ulama serta para santri”. (Kusman, sesepuh Magetan, narasumber peristiwa 1948) Ayah saya Dikubur Hidup-hidup di Sumur “Kyai Soelaiman Zuhdi Afandi, dikubur hidup-hidup bersama 200 orang kyai, santri dan masyarakat di sumur tua di Desa Soco”. (Kyai Ahyul Umam, putera Kyai Soelaiman, korban peristiwa Soco 1948) Sebanyak 200 orang Disekap di Lumbung Padi “Ayah saya seorang veteran pejuag 1945. Bersama lebih 200 orang lainnya, terdiri dari para kiyai dan tokoh masyarakat digiring dan dimasukkan ke dalam lumbung padi tua tinggalan jaman Belanda di Desa Kaliwungu, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Mereka disekap dua hari dua malam tidak diberi makan. Semua aktifitas seperti tidur dan buang air jadi satu di dalam gudang yang penuh sesak. Jerigen-jerigen bensin sudah disiapkan untuk membakar lumbung itu. Alhamdulillah ayah saya bisa lolos dan berlari sejauh 20 kilo meter untuk mencari batuan pasukan Siliwangi. Mereka selamat”. (Fuadi, anak korban peristiwa Ngawi 1948) Kyai Dimyathi Disembelih dan Rumahnya Dibakar Saya sudah umur 16 tahun saat kejadian yang menimpa Kyai Dimyathi pada tahun 1948. Saat mengungsi Kyai ditipu oleh yang masih ada hubungan kerabat. Katanya, desa tempat tinggal kami sudah aman. Ternyata dia orang PKI dan membawa Kyai Dimyathi ke Ngrambe dan disembelih bersama seorang guru bernama Suwandi. Rumah Kyai Dimyathi dibakar. (Siti Asiyah, anak asuh Kyai Dimyathi, peristiwa Ngawi 1948) Genangan Darah Setinggi Mata Kaki “Genangan darah ratusan korban pembantaian PKI di sebuah loji (gedung) di Pabrik Gula Rejosari Gorang Gareng, Magetan, pada September 1948, setinggi mata kaki. Mereka diberondong senapan mesin oleh tentara merah PKI”. (Kyai Zakariya, saksi peristiwa Gorang Gareng 1948) Saya Dituduh Kontra Revolusi “Setelah saya ikut menandatangani Manifest Kebudayaan yang melawan LEKRA, lembaga kebudayaan yang berhaluan komunis, saya dituduh kontra revolusi. Tuduhan ini jika digambarkan jaman sekarang, jauh lebih menakutkan dibanding tuduhan teroris. Akibatnya, saya tidak jadi kuliah di Amerika karena visa tidak keluar. Gaji saya sebagai dosen langsung distop. LEKRA juga merancang pementasan seni Ludruk yang sangat menghina Islam seperti:”Matine Gusti Allah (Matinya Tuhan Allah)”, “Sunate Malaikat Jibril (Disunatnya Malaikat Jibril)”. (Taufiq Ismail, Sastrawan dan budayawan senior. Korban dan saksi peristiwa 1963-1965) Buya Hamka Disiksa Setiap Hari “Buya Hamka, Ketua MUI pertama dan para ulama lainnya dipenjara di jaman Presiden Soekarno. Mereka dipenjara atas tuduhan tidak jelas. Hamka dipaksa mengakui perbuatan yang tidak dia lakukan yaitu berencana membunuh Presiden Soekarno dan Menteri Agama. Hamka dan para ulama difitnah oleh kalangan PKI yang saat itu sangat dekat dengan Presiden Soekarno. Setiap hari Buya Hamka disiksa dan diancam akan disetrum kemaluannya”. (Kyai Cholil Ridwan, murid Buya Hamka, saksi peristiwa 1964-1966) Tubuh Ayah Saya Hanya Bisa Dipunguti dan Dimasukkan Kaleng “Ayah saya diseret ke sawah sambil dipukuli beramai-ramai. Setelah saya cari ke mana-mana tidak ketemu ternyata jasadnya terbuang di sawah. Tubuh bapak saya tidak berbentuk lagi, hancur habis terbakar dan dimakan anjing. Potongan tubuhnya hanya bisa dipungut satu persatu dan dimasukkan kaleng.” (Isra’, Surabaya, saksi dan anak korban peristiwa 1965) Saya Selamat tapi Empat Sahabat Saya Disiksa hingga Tewas “Tetangga yang sering saya bantu itu, ternyata suaminya pimpinan PKI. Saya mau disembelih jam satu malam. Alhamdulillah selamat. Tapi anak perempuan pertama saya meninggal setelah malam itu saya menyelematkan diri melewati sungai. Empat sahabat saya sesama aktifis dakwah disiksa dengan dipotong kemaluan dan telinga mereka hingga meninggal”. (Moch Amir, SH, Surakarta, korban peristiwa 1965) Ternyata Saya Akan Dibunuh oleh Tetangga dan Teman Baik Saya Setelah peristiwa 1965 mereda, saya diberitahu ternyata nama saya masuk daftar calon korban yang akan dibunuh PKI. Saya sudah kuliah dan aktif di PII saat itu. Tetangga persis di sebelah rumah saya dan teman yang saya kenal baik itu, ternyata PKI. Saat digeledah di rumahnya ternama nama-nama orang-orang yang rencananya akan dibunuh PKI.

Jumat, 14 Juli 2017

Surah Yasin by Sheikh Abdul Rahman Al Sudais (complete surah)

Surah Yasin by Sheikh Abdul Rahman Al Sudais (complete surah)

Lantunan Merdu Surat Yasin, Mengingat Sang Pencipta

Surat Al Kahfi dan Terjemah Bahasa Indonesia

Surat Al Kahfi dan Terjemah Indonesia Sheikh Saad Al Ghamdi

Modus mafia cina komunis pkc atheis pki


"INGINKAH ANDA NEGERI INI DIKUASAI KOMUNIS VIA PKI & PDI-P?" BY @Ronin1946 Good Pagi selamat morning teman tuips ... Jauh sebelum BPK terbitkan laporan bhw Pemda DKI amburadul dan penuh korupsi sejak dipimpin Jokowi kami sudah ungkap buruknya kinerja jokowi Jauh sebelum fakta2 Jokowi cacat moral& integritas, kami sudah bongkar siapa Jokowi sebenarnya. Dia tipe manusia licik dan halalkan sgla cara Manusia apalagi pemimpin bila setiap hari kerjanya bohong melulu, pencitraan melulu, ngeles melulu, fitnah melulu, pemimpin apa namanya? Ingatkah anda ketika Jokowi pura2 bodoh, tanya "salah apa saya @triomacan2000?" Saat pilkada DKI dulu. Jawab kami :"anda salah pada rakyat" Kami tdk akan hantam pemimpin amanah, jujur. Tapi jokowi yg penipu, khianat, munafik, korup, apalagi terindikasi PKI, adalah musuh besar RI Siapa saja musuh besar RI, adalah musuh rakyat, musuh bangsa dan negara, adalah musuh kita semua. Jokowi musuh no. 1 nya Sudah banyak contoh kebusukan Jokowi. Dia musang berbulu domba. Menyaru jadi orang baik, nyamar jd muslim, mengecoh rakyat. Mau kuasai RI Jokowo srigala berbulu domba, licik dan mematikan. Sama seperti kartika djoemadi, agen cantik nyaru ke ormas islam. Menghancurkan islam Jokowi ini berbahaya, sangat berbahaya, harus dicegah. Jgn sampai rakyat diadu domba. TNI mau dipecah mereka. RI dalam bahaya. Cara2 PKI Rakyat banyak tidak sadar dlm memahami konstelasi politik hari ini. Rakyat hanya melihat yg kasat mata. Tdk tahu apa dibaliknya. RI terancam Ingatlah, bangsa ini pernah tercabik2. PKI khianati RI tahun 1948 via pemberontakan PKI Madiun. Tahun 1965 G30S PKI. Kini PKI bangkit lagi Seharusnya elit bangsa ini sadar bahwa Jokowi adalah agen musuh negara. Lihat cara mereka, bisa2nya disebutnya "Jokowi adalah Wahyu Tuhan" Miyono om Jokowi nekad sebut "Jokowi Wahyu Tuhan" ! Manusia penipu, licik, korup, culas, pki, tukang fitnah, diagungkan bak nabi ! Gilee Kemarin Jokowi dijuluki nabi, hari ini wahyu tuhan, besok jokowi disebut apa? Imam Mahdi? Anak Tuhan? Malaikat Surga? Atau Tuhan sekalian? Elit bangsa ini harus bersatu. Syaratnya mudah, singkirkan ego masing2, utamankan menyelamatkan negara dari ancaman KG dan Komunis Mendesak Polri dan TNI. Segera usut indikasi PKI pada Jokowi dan Ibunya Sudjiatmi .. @TNI @MabesPolri Faksi Komunis di PDIP mengancam dan sandera Megawati dan paksa Mega utk dukung Jokowi karena mereka punya aib Mega Bukti - bukti Megawati tidak suka Jokowi dan terpaksa mendukung Jokowi karena ancaman faksi komunis di PDIP dapat kita lihat kasat mata Megawati tidak perna terbitkan SK DPP PDIP utk capreskan Jokowi. Hanya melalui perintah harian Megawati tdk pernah terlihat Kampanye mendukung capres Jokowi. Megawati bersikap pasif Megawati selalu ejek dan sindir Jokowi sebagai benteng kurus yg lapar Megawati selalu ketus jika bicara tentang Jokowi : "Jokowi itu kan maunya kalian. Ya sudah. Suka hati kalian" Jokowi pernah diusir dua kali dari rumah megawati ..sekali diusir oleh Puan pada 9 April 2014 Lihat apa makna tatapan sinis dan benci Megawati ke Jokowi ini http://t.co/IsDbDaDeaH Isu yang beredar faksi Parkindo dan Komunis di PDIP memegang video rahasia yg jika dibuka akan jadi aib besar Megawati dan keluarga Megawati mustahil dukung Jokowi karena dia tahu siapa Jokowi dan dibaliknya. Jokowi menang, faksi komunis /PKI akan kuasai RI dan PDIP Posisi Megawati saat ini terjepit, dikepung oleh faksi Parkindo, Komunis dan Katolik. Faksi Nasionalis dan Islam dihancurkan di PDIP Megawati skrg sedang mau dikudeta via kongres PDIP yg dipercepat. Maruara Sirait pentolan faksi kristen, ancam Puan minggu lalu di rumahnya Kenapa Faksi Komunis, Kristen dan Katolik bisa bersatu saat ini? Hanya sementara. Utk kepentingan taktis menangkan Jokowi dan gusur Mega Faksi Katolik didukung JK, Vatikan, Konglo2 cina katolik, pengusaha pribumi katolik. faksi kristen didukung mafia cina pimpinan James &luhut Sekarang komposisi pengurus harian DPP PDIP 27 orang. 13 Komunis/Kristen/katolik dan 13 Islam = 26 plus 1 Megawati Komposisi pengurus harian DPP PDIP yg 13:13:1 itu adalah atas usulan Alm Taufik Kemas. Skrg komposisi itu mau diubah Pengurus Harian DPP PDIP skrg mau diubah : 5 nasionalis, 2 Islam, 1 Murba, sisanya Komunis, Parkindo, Katolik = 19. PDIP mau kemana? Tujuan mereka menguasai PDIP adalah sbg kendaraan politik utk kuasai Indonesia. RI mau dijadikan negara sekuler. Didukung oleh Barat & China Australia juga sangat berkepentingan dgn sekulerisasi RI. Agen australia di RI namanya hendropriyono, sukses tanam ahmad fatonah di PKS Sebelum fatonah ditanah hendropriono di PKS, fatonah bernama asli ahmad olong, narapidana di LP Berramah, australia Australia rekrut hendropriono sbg agen mereka paska bom bali. 88 WN asutralia mati. Australia bantu bentuk densus 88 anti teroris Hendro skrg adalah majikan Jokowi. Hendro pegang data keterkaitan Jokowi dan ibunya dgn PKI Hendro dan luhut akan menjadi dewa di RI dan PDIP jika jokowi menang pilpres. Hendro dan luhut juga yg sebabkan TNI tercabik2 dan para purnawiran saling hantam. Utk melemahkan TNI, agar komunis bisa berkuasa Meski faksi kristen dan faksi katolik / faksi komunis tidak akur di PDIP, tp skrg mereka bersatu utk hancurkan mega, nasionalis dan islam Faksi Nasionalis dan Islam di PDIP adalah faksi miskin. Ga punya uang dan sdh dirusak habis oleh musuh2 mereka : komunis, katolik, kristen Jangan anda salah paham, penghancuran nilai2 islam pada kasus LHI terkait dgn rencana besar sekulerisasi RI dan pertarungan di PDIP Kasus LHI yang dibonceng politaiment dan caci maki terhadap islam, simbol2 islam, tokoh islam, pks, dst itu terkait pencapresan jokowi Rakyat indonesia khususnya umat islam dicuci otaknya agar benci dgn tokoh islam, muak dgn simbol2 islam..agar jokowi yg komunis itu menang Oh ya lupa, selain hendro priono yg usung kepentingan australia di Indonesia dan PDIP, juga ada Budiman Sudjatmiko Budiman sudjatmiko mantan ketua PRD berhaluan komunis itu punya hubungan erat dengan Partai Komunis Australia Hubungan Erat Partai Komunis Australia dgn komunis Indonesia /PKI sdh terbina sejak tahun 1950an, skrg dibangun besarkan Budiman Jatmiko Sambutan Partai Komunis Australia pada Hut PKI http://t.co/4sJBQDtaii Dua minggu lalu Budiman Sudjatmiko juga ke Timor Leste temui Mari Alkatiri tokoh partai komunis Fretilin Timor Leste utk dukung Jokowi Sebelumnya, tokoh faksi komunis di PDIP seperti eva K sundari, Ribka Tjiptaning dan puluhan elit PDIP studi di Partai Komunis China Eva Kusuma Sundari pimpinan delegasi PDIP akui bahwa kader PDIP yang belajar di sekolah partai Komunis itu merupakan angkatan ketiga Selain Eva agta Kom III DPR, kader PDIP lainnya studi komunis PKC lain Vanda Sarundayang (kom VI DPR RI, Ketua Taruna Merah Putih Sulut) Kader faksi komunis PDIP Bupati Ngawi Budi Sulistyo, Bupati Flores Timur Yoseph l Herin, dan Ketua DPRD Semarang Bambang Kusriyanto Bahayanya adalah Eva K Sundari yang PKI Lovers itu, juga adalah Departemen Kaderisasi Departemen Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan” Akibatnya, banyak elit PDIP dicecoki paham komunis via program pengkaderan PDIP. Kerjasama partai komunis china, tujuannya : komunisasi PDIP Tahun depan akan berdiri sekolah partai PDIP yang materinya lebih banyak disusupi paham komunisme internasional Tahun 2015 CAFTA = China Asean Free Trade Area berlaku. RI bebas dimasuki siapa saja dari china. Ideologi komunisme akan jd ekspor utama Komunisme Rusia sdh menguat lagi dan sdh kuasai militer Rusia. Terbukti dgn keberanian Rusia serang Ukraina dan tantang Nato Komunisme Indonesia hidup lagi, bangkit lagi, dipimpin oleh Jokowi dgn cara menyaru sbg tokoh lugu, islam, jujur dst..= BOHONG BESAR Indentitas dan riwayat Hidup Jokowi = PALSU .. Tanggal lahirnya pun PALSU ..dibuat sengaja sama dgn kematian bung karno Ayah Jokowi dan Ibu Jokowi = Palsu Banyak informasi sebenarnya yang ditutupi Ronin1946 7 hours ago Prestasi Jokowi = PALSU Prestasinya hancur lebur, ditutupi penghargaan2 palsu oleh media2 bayaran & milik elit parkindo, faksi katolik cs Hanya elit Katolik tertentu yang dukung Jokowi setelah tahu benang merah Jokowi dengan PKI. Faksi Katolik di PDIP awalnya tdk tersusupi komunis eks PKI. Tetapi sejak 2005 saat Jokowi jadi walikota solo, faksi komunis di PDIP menguat Hal ini tdk terlepas dari dukungan penuh eks PKI terhadap Jokowi. Faktor Bu Sudjiatmi terduga Tokoh Gerwani sangat dominan Jokowi jadi walkot Solo diback up faksi Komunis dan Katolik di PDIP dan menipu rakyat muslim Solo. Di Solo Jokowi tdk pernah shalat dll Jokowi mulai menyaru Islam ketika dia ikut Pilkada DKI Jakarta. Diajar dan dilatih intesif oleh seorang ustad. Tempat belajar : Hotel Sahid Di Hotel Sahid Jl, sudirman Jakarta, di ruangan khusus, Jokowi dididik agar bisa berperan pura2 islam. Setiap hari 1 - 2 jam. Kilat coy Ketika Putaran kedua Pilgub DKI Jakarta, PKS yang diminta koalisi oleh PDIP, wawancara Jokowi dgn pertanyaan2 dasar islam: TIDAK BISA JAWAB Jokowi ketahuan nyaru islam. PKS batalkan koalisi dgn Jokowi. Tetapi kemudian muncul fitnah di media2 seolah2 PKS batal koalisi karena UANG Isu Uang Mahar dijadikan fitnah kubu Jokowi ke PKS yg menolak koalisi dgn cagub Jokowi. PKS pun jadi bulan2an opini sesat media jokowi Ketika kampanye di Menteng Dalam, pas shalat Jumat, Jokowi salah berwudhu, setelah basuh muka lgsg cuci kaki, ditegur eh marah hehe Setelah Jokowi jadi GubJakarta, sidak ke kantor walikota jakarta utara. Ruangan kosong, PNS ga ada. Dia marah2. Pdhl PNS sdg shalat Jumat Ketika Gub DKI Jokowi diberitahu bhw PNS semua dgn shalat Jumat, mukanya merah padam, ketahuan Jokowi tdk shalat jumat hehe Ketika ketahuan ga bisa jawab pertanyaan mudah, "apa makna ramadan?" oleh presenter metro tv. Jokowi takut ketahuan. Besoknya Buru2 umroh Seminggu setelah "insiden Jokowi ketahuan bukan islam" dia pulang dari umroh. Foto2 umrohnya disebutnya sbg foto haji. Dasar penipu Yang kita persoalkan bukan Jokowi itu islam atau tidak. Bukan itu. Tetapi KEBOHONGAN2 JOKOWI selama ini. Dia tdk jujur dan ada misi khusus Prabowo juga bukan muslim yang taat. Tapi dia tdk ngaku2 muslim sejati, tdk ngaku2 haji padalah dia sdh naik haji bareng pak harto dulu Beda dgn Jokowi, dia bohong, bohong, bohong, bohong, menipu diri sendiri, rakyat, umat dan tuhan ! Manusia macam apa dia ? Yang parah, Jokowi ngaku foto2 umrohnya sbg foto haji. Dia sangka semua umat islam bisa dia tipu. Ditanya kapan jokowi haji? Jwbnya thn 2003 Oh ya ini lupa, Jokowi bersama bos besar dan majikannya Luhut hehe ..buka puasanya jam 12 siang hehe http://t.co/nxPEJTFEcl Ini foto umroh tahun 2012 sesaat Jokowi ketahuan ga bisa jawb pertanyaan dasar ttg islam.. http://t.co/sROmN2EtEi http://pedulifakta.blogspot.com/2014/06/tantowi-akui-pergi-haji-bersama-jokowi.html http://pedulifakta.blogspot.com/2014/06/tantowi-akui-pergi-haji-bersama-jokowi.html Dimana bohongnya bila disebut ini foto haji thn 2003 ? Mudah sekali bongkar kebohongan Jokowi ini http://t.co/InxYg4voK2 Mudah sekali membongkar kebohongan Jokowi yg bilang ini Haji 2003 .. Ada teman yg tahu? http://t.co/2kVnbq9w8P Atau ttg Foto Jokowi shalat di masjidil haram 2003 yg disebarkan timsesnya ..kebohongan jokowi..mudah bongkarnya http://t.co/Yg04EPM0i6 Ini lagi foto Jokowi yg disebut sbg foto jokowi naik haji 2003 ..mudah membongkar kebohongan jongos penipu itu http://t.co/L5E1rkAKyj http://pedulifakta.blogspot.com/2014/06/tantowi-akui-pergi-haji-bersama-jokowi.html Foto Jokowi naik haji tahun 2003 seperti kata media2 bayarannya ..mudah tahu tipu2nya jokowi.. http://t.co/AqJdz2AYN5 Atau foto hasil editan rekayasa ini yang dijadikan alat bukti bhw jokowi naik haji thn 2003., menipu umat islam http://t.co/iQRVmxfoc4 http://pedulifakta.blogspot.com/2014/06/tantowi-akui-pergi-haji-bersama-jokowi.html Pertama : tdk ada nama joko widodo atau jokowi & keluarganya tercatat di kemenag dan BPIH sbg calon haji thn 2002. Bahkan 2000-2013. Ga ada Tahun 2002 jokowi naik haji? Bohong..pak margono ketua RT 03/14 tetangga Jokowi = "Jokowi TDK Pernah Haji. Shalat aja ga pernah" Jokowi haji thn 2002? Gilang Rakabuming usia berapa? Putrinya usia berapa 10 thn lalu? Tipu kau Jok ! http://t.co/ltswz4fAUG Jangan pernah percaya sama penipu. Apa yang tidak ditipu Jokowi ? http://pedulifakta.blogspot.com/2014/06/tantowi-akui-pergi-haji-bersama-jokowi.html Tulisan ? Plagiator. Terbukti. TELAK !! http://t.co/HeqnJs2eCB Ngaku ga kenal dengan Luhut Panjaitan ? Siapa yang menjadikan Jokowi Gub DKi Jakarta? Lobi luhut ke james riady cs http://t.co/J5ZD1sFPyk Ngaku ga kenal Michael Bimo Putranto anak walkot Solo yg pertama kali bawa Jokowi ke slamet & rudyatmo 2004 lalu http://t.co/hgsJ0Vuano Ngaku lahir jujur tapi dapat bocoran soal materi debat pilpres dari hadar gumay via Trimedya panjaitan..malu Jok !! http://t.co/S2YdAQzKsz Ngaku jujur tapi bawa kopekan jawaban soal yg sdh disiapkan timsesnya ? Mana moralmu Jok ?? http://t.co/KPPZ1Uv3Yt Ngaku Islam tapi jokowi didukung penuh dan teman karib dgn tokoh2 komunis solo http://t.co/qG4QJ0n25a Jokowi ngaku lahir di Bantaran Kali Pepe. Kok Ibunya bilang lahir di Giriroto, lalu diralat lahir di RS Brayat Mulyo? http://t.co/xzZ4LVp9jv Siapa Ibu Jokowi yang bertekad Gerilya demi anaknya JKWI? Tokoh GERWANI yg orator ulung pidato di depan massa? https://t.co/QLqH21At1P Sedang om Jokowi, Miyono adik Sudjitmi deklarasikan : JOKOWI WAHYU TUHAN ! Gile coy ! https://t.co/QLqH21At1P Pernahkah umat islam sebut kata "wahyu tuhan" ? Ibunda Jokowi siap bergerilya | http://t.co/ANM5lrOxHd | http://t.co/VJd8MN3Dhm Begitu mudah rakyat indonesia tertipu hanya karena jilbab ? Hanya karena jkwi 'terlihat' shalat? Bodoh amat !? http://t.co/Mhfgz34YRM Luar biasa ibu jokowi yang kata jokowi ibu rumah tangga miskin ..ga ngerti apa2, tapi perilakunya = aktifis wanita http://t.co/CTPvy97pCO Begitu banyak umat islam tertipu dengan kader pki yang menyaru islam ini http://t.co/77OATL4qu4 Barisan Kader Muda PKI Boyolali menyambut capres jokowi di boyolali http://t.co/xJSUfei6Fy Pelantikan pengurus PKI Cabang BOYOLALI pada tahun 2012 lalu http://t.co/PKdr1b463W Umat islam, NU, Muhammdiyah korban pembantaian PKI Boyolali 1 Okt 1965 http://t.co/ENZHZrfFgA Umat islam Korban pembunuhan kader PKI di jateng 1965 http://t.co/7JnMae5S4W Jokowi menang, Komunis dan PKI akan dilegalkan Presiden PKI http://t.co/nRZjT0ryc3 Bukti Jokowi Terafiliasi PKI http://t.co/nIKvtBep62 Ini bukti Kebangkitan PKI bersama Jokowi #bukanfitnah http://t.co/miZPgdAUdo Bukti penipuan Jokowi agar dapat simpati rakyat kecil http://t.co/inqbQkHnpB Kenalkah anda Andi Widjajanto, sekretaris Tim Sukses Jokowi. Anak Theo Sjafei, penista Islam dan Alquran ? http://t.co/OPX9k9blRV Terlalu mudah dan tololkan umat islam Indonesia, dgn foto begini percaya jokwoi muslim? http://t.co/MRdwa0hhNB Jokow ketika menipu rakyat naik bajaj, ketika aslinya keluar naik jet hehe http://t.co/lzW2FvqmXe Mereka 10x lebih baik dan berprestasi dari joki kader PKI http://t.co/GwgbONb3Ha Jokowi sangat takut pd kami. Kalau ketemu di jalan kami teriakin Glembukkk PKI !! Dia undang twitter utk suspend TM http://t.co/0JSMohUHKG Kemana aidit Ketua PKI melarikan diri setelah kudeta 30S PKI gagal? Ke Boyolali. Pusat PKI Indonesia ..asal Jokowi http://t.co/SYzDL5dJEG Segitiga Klaten - Solo - Boyolali, pusat / basis PKI pada 1965. Jokowi dan ibunya di pusat segitiga ini.. http://t.co/SYzDL5dJEG Partai Komunis Australia .. Kiblat budiman sudjatmiko pentolan komunis di PDIP http://t.co/xyY3yMmgup Mau tahu siapa jokowi? Kami info sebagian fakta ttg Jokowi #bukanfitnah http://t.co/1rPZ0Ds0WL Rumah Miyono eks kader PKI om Jokowi, persis di pertigaan Jl. Ahmad Yani - MT Haryono, solo http://t.co/24fSy16np6 Dokumen persyaratan mendaftar capres ke KPU ..jokowi tdk cantumkan Nomor NPWP ..ayoo kenapa ? Takut ketahuan? http://t.co/jdQARAagyu Bukti Buku Nikah Jokowi - Iriana yang dipublish kemarin adalah PALSU http://t.co/7R3kDotPMi Prabowo tidak capres sempurna, tetapi RI aman dipimpin Prabowo yg nasionalis dan patriotik. Dibanding sama capres PKI http://t.co/8RUKoP0Kes Baca blog pencitraan Jokowi ini..lihat apa jadinya skrg.. Tdk ada satu pun program jokowi terbukti, palsu semua http://t.co/sdaKEactNO Blog PKI sekarang bermunculan dimana2, seiring dengan pencapresan Jokowi. PKI bangkit ! http://t.co/EsnJkQuOYw Breaking News !! Barusan dapat peringatan twitter .. Akun akan disuspend" seperti akun @Triomacan2000 Akun cadangan @TheRoninWar Tahu siapa Bimo Putranto ? Presiden Pasoepati. Pasoepati nama Batalion TNI yang berkhianat dan menyerang markas TNI paska rasionalisasi Tahu Hoo Hap ? Itu nama organisasi cina PKI di Solo. Pendukung utama Jokowi. Nama resminya PMS = Perkumpulan Masyrakat Surakarta Mewaspadai Jokowi Kuda Troya PKI di Era Reformasi http://t.co/6NivqSxPyk Trio Komunis Indonesia Musuh Besar Triomacan Pancasila http://t.co/qi5Pooh095

Selasa, 11 Juli 2017

for Banknotes


Shop Indonesia, a vast polyglot nation, has weathered the global financial crisis relatively smoothly because of its heavy reliance on domestic consumption as the driver of economic growth. Increasing investment by both local and foreign investors is also supporting solid growth. Although the economy slowed to 4.5% growth in 2009 from the 6%-plus growth rate recorded in 2007 and 2008, by 2010 growth returned to a 6% rate. During the recession, Indonesia outperformed most of its regional neighbors. The government made economic advances under the first administration of President YUDHOYONO, introducing significant reforms in the financial sector, including tax and customs reform s, the use of Treasury bills, and capital market development and supervision. Indonesia's debt-to-GDP ratio in recent years has declined steadily because of increasingly robust GDP growth and sound fiscal stewardship, leading two of the three leading credit agencies to upgrade credit ratings for Indonesia's sovereign debt to one notch below investment grade. Indonesia still struggles with poverty and unemployment, inadequate infrastructure, corruption, a complex regulatory environment, and unequal resource distribution among regions. YUDHOYONO and his vice president, respected economist BOEDIONO, have maintained broad continuity of economic policy, although the economic reform agenda has been slowed during the first year of their term by corruption scandals and the departure of an internationally respected finance minister. In late 2010, increasing inflation, driven by higher and volatile food prices, posed an increasing challenge to economic policymakers and threatened to push millions of the near-poor below the poverty line. The government in 2011 faces the ongoing challenge of improving Indonesia's infrastructure to remove impediments to growth, while addressing climate change concerns, particularly with regard to conserving Indonesia's forests and peatlands, the focus of a potentially trailblazing $1 billion REDD+ pilot project.

Gugur Bunga buat Soeharto

TEMBANG TRESNO [CIPT.ARYA SATRIA] - DEVIANA SAFARA - MONATA ROKER 2016 -...

Tresno Waranggono - Tedjo ft Zarima

Revolusi Indonesia bukan menuju ke kapitalisme,dan bukan menuju ke feodalisme…


Sosialisme Indonesia berarti membicarakan hari depan Revolusi Indonesia. Manifesto Politik RI mengatakan dengan jelas; “hari depan hari depan Revolusi Indonesia adalah masyarakat adil dan makmur, atau … Sosialisme Indonesia”. Perumusan Manipol tentang hari depan revolusi ini hanya dapat dipahami dengan tepat, bila orang memahami dengan tepat pula apa itu kapitalisme, apa itu feodalisme, dan apa itu sosialisme. Hal ini perlu saya tekankan karena sampai sekarang masih terlalu banyak orang yang menyatakan dirinya: antikapitalisme, dan antifeodal, tetapi tidak tahu apa sesungguhnya kapitalisme itu, juga tidak tahu apa sesungguhnya feodalisme itu. Begitu pun terlalu sering masih orang-orang menamakan dirinya: prososialisme; tanpa mengetahui apa sosialisme yang sebenarnya itu. Apa akibat dari ketidakjelasan soal-soal ini? Akibatnya bermacam-macam. Ada orang yang menganggap Uni Soviet misalnya imperialis: “imperialis merah”; dan RRT juga imperialis: “imperialis kuning”; padahal Uni Soviet dan RRT adalah jelas-jelas negara-negara yang bukan saja antiimperialis, tetapi sudah sosialis. Sebaliknya ada orang-orang yang menganggap, misalnya, Burma itu suatu negeri sosialis; hanya karena kaum sosialis pernah memegang pemerintahan di sana, padahal Burma itu, tidak beda dengan Indonesia. India dan banyak negeri lainnya, adalah negeri yang belum merdeka penuh dan masih setengah feodal. Perkara Burma ini belum seberapa. Ada malahan orang-orang yang mengira kerajaan Inggris itu negeri sosialis, juga karena yang memerintah di sana pernah Labour Party yang sering disebut sebagai partai sosialis itu. Lelucon ini jadinya tidak lucu lagi! Pertama, di manalah di dunia ada kerajaan yang sosialis! Jika kerajaan-kerajaan pada sosialis, Lenin dulu tak perlu repot-repot memimpin Revolusi 1917, sebab Rusia ketika itu toh sudah Rusia Tsar, Rusia kerajaan … lagipula agak sukar membayangkan bahwa seorang Elizabeth atau seorang Hirohito atau seorang Juliana bisa sosialis; … Nederland juga pernah diperintah oleh Partij van der Arbeid, Partai sosialis. Tetapi apakah dengan begitu Nederland jadi sosialis? Adalah pemerintah sosialis Nederland itu yang di tahun 1947 melancarkan perang kolonial terhadap kita! Seratus limabelas tahun yang lalu Karl Marx dan Friedrich Engels menerangkan kepada kita supaya berhati-hati dengan sosialisme, sebab, demikian Marx dan Engels, selain “sosialisme proletar”, juga ada “sosialisme borjuis kecil”, “sosialisme borjuis” bahkan “sosialisme feudal”. Dengan pengalaman Inggris dan Nederland di atas maka kita harus menambahkan bahwa selain “sosialisme kerajaan” itu masih ada lagi “sosialisme kolonial”! Macam lain dari kekisruhan mengenai sosialisme adalah kenyataan bahwa ada orang-orang yang sendirinya seorang kapitalis tetapi memaklumkan diri ke mana-mana sebagai orang antikapitalis. Kalau ditanya, “Lha saudara ini apa?”, cepat-cepat dia menjawab: ”Saya kapitalis nonkapitalis” atau malahan, ada yang bengal dengan mengatakan:”Saya kapitalis marhaen”, “Saya kapitalis murba”, atau “Saya kapitalis jelata”. Sungguh kapitalis jenaka! Ada kekisruhan macam lain lagi. Bulan yang lalu pernah saya lihat di Jember sini semboyan yang mengatakan seakan-akan;”ciri khusus landreform Indonesia adalah “nonkomunis” dan “antikapitalis”. Perkara ”nonkomunis” baiklah saya tidak beri komentar sekarang, karena komentar pun sebetulnya berkelebihan. Cobalah kita camkan: landreform adalah redistribusi atau pembagian kembali tanah dengan jalan memberikan milik individual kepada kaum tani. Inilah landreform yang tepat, dan landreform ini disokong selain oleh golongan-golongan lain, juga dan barangkali terutama oleh kaum komunis Indonesia. Jadi soal non-atau tidak nonkomunis tidak menjadi soal sama sekali. Sekarang, apakah landreform Indonesia itu benar harus antikapitalis? Dari persoalan ini jelas bahwa masih ada orang yang tak tahu bedanya kapitalisme dari feodalisme. Sasaran landreform adalah feodalisme, tuan-tuan tanah, dan bukan kapitalisme! Tentu bagi kita ada persoalan menghapuskan sama sekali konsepsi-konsepsi kolonial atas tanah, tetapi yang dipersoalkan oleh Undang-undang Pokok Agraria adalah tanah-tanah kelebihan pada Tuan-tuan Tanah Bumiputera, Tuan-tuan Tanah Feodal. Presiden Sukarno menerangkan di dalam; “Djarek” (Djalannya Revolusi); bahwa landreform itu tujuannya; “mengakhiri pengisapan feudal secara berangsur-angsur”. Kita lihatlah betapa kisruhnya soal-soal jadinya, jika pengertian-pengertian kapitalisme dan sosialisme tidak jelas. Ada yang setuju dengan “sosialisme ilmiah”, ada yang tidak menyetujuinya. Tetapi kita sudah sekali hidup dalam abad ilmu, abad atom dan nuklir, sputnik dan kapal ruang angkasa, dan bukan lagi dalam abad takhayul atau mistik. Kita menyuruh anak-anak kita pergi ke sekolah menuntut ilmu, tidakkah aneh jika bapak-bapaknya menghindari ilmu? Juga pengertian-pengertian harus ilmiah, termasuk pengertian-pengertian tentang kapitalisme, feodalisme dan sosialisme. Untuk menyebarkan ilmu secara populer dan masal inilah saya kira salah satu tujuan utama UNRA (Universitas Rakyat). Benar UNRA bukan suatu institut universiter, tetapi mutu ilmiah akan tetap dijaga tinggi dalam UNRA dan tujuan mendekatkan ilmu kepada rakyat atau mendekatkan rakyat kepada ilmu, kiranya adalah suatu tujuan ilmiah yang serasi dengan denyut nadi jaman. Demikian pun tujuan meniadakan jurang antara teori dan praktek, terutama teori revolusioner dan praktek revolusioner. Apakah Sosialisme Indonesia itu dan bagaimana harusnya dia kita selenggarakan? Saya ingin memulai dengan suatu logika yang sederhana tetapi keras: Sosialisme adalah Sosialisme. Juga ini bukannya tak ada gunanya saya tekankan, sebab ada yang mengartikan ;”Sosialisme Indonesia”; itu hanya dari sudut kekhususan-kekhususan, keistimewaan-keistimewaan, perlainan-perlainan, dan malahan pertentangan-pertentangan dengan “sosialisme-sosialisme lain”.; Pembela-pembela “sosialisme istimewa”; ini biasanya mengatakan: “Sosialisme Indonesia bukan Sosialisme Soviet, bukan Sosialisme Tiongkok, bukan Sosialisme Kuba”; Saya cuma khawatir jangan-jangan yang dimaksudkan oleh mereka adalah bahwa Sosialisme Indonesia itu bukan …Sosialisme! Kekhususan Sosialisme Indonesia tentu saja ada, tetapi apakah ada kekhususan jika tak ada keumuman? Apakah ada yang khusus jika tak ada yang umum? Kita ambilkan misal ini: “Simin manusia khusus”; Tetapi setiap kita tahu bahwa tidak akan ada itu manusia Simin jika tak ada manusia. Lagipula, sekalipun Simin itu manusia khusus, tetapi dia toh manusia juga: kepalanya satu, tangannya dua, kakinya dua, melihat bukan dengan telinga melainkan dengan mata, berpikir bukan dengan punggung melainkan dengan otak, dsb. Sebab, sekiranya Simin itu berpikir tidak dengan otaknya, saya kira kita tidak akan berkata “Simin itu manusia khusus”, melainkan Simin itu manusia abnormal, atau bukan manusia sama sekali! Oleh sebab itu Sosialisme adalah Sosialisme, Sosialisme Indonesia adalah Sosialisme Indonesia; dia bercorak Indonesia, tetapi dia Sosialisme. E. Utrech S.H., ketika sebagai sesama anggota Dewan Pertimbangan Agung bersama-sama saya mengadakan indoktrinasi Manipol ke Nusa Tenggara, merumuskan soalnya sebagai berikut: ”Sosialisme Indonesia adalah sosialisme yang diindonesiakan, atau Indonesia yang disosialiskan”; Saya kira perumusan sarjana ini bukan perumusan seorang profesor linglung, melainkan perumusan yang obyektif benar. Mari yang terang, bahwa Sosialisme Indonesia adalah;”sosialisme yang disesuaikan dengan kondisi-kondisi yang terdapat di Indonesia, dengan alam Indonesia, dengan rakyat Indonesia, dengan adat-istiadat, dengan psikologi dan kebudayaan rakyat Indonesia”. Kita perhatikanlah: “sosialisme yang disesuaikan…” dsb., tetapi yang disesuaikan itu adalah tetap sosialisme, dia harus tetap sosialisme. Saya ingin mengambil contoh yang lain: apa misalnya yang kita sebut lukisan Indonesia tentang gunung Himalaya? Saya kira, ini berarti sebuah lukisan gunung Himalaya yang dikerjakan oleh seorang pelukis Indonesia, dan yang menggunakan gaya Indonesia, pengolahan Indonesia, visi Indonesia. Tetapi saya kira seindonesia-indonesianya lukisan Himalaya, dia tidak boleh menyulap bentuk Himalaya hingga menjadi seperti gunung Argopuro atau Raung! Sosialisme adalah suatu susunan social atau sistem masyarakat yang berdasarkan pemilikan bersama atas alat-alat produksi. Saya minta perhatian: alat-alat produksi. Jadi, bukan atas meja-kursi, buku-buku, tempat tidur, sepeda, dan sebagainya. Dalam sosialisme proses produksi berlangsung secara sosial, demikian pun hasil-hasilnya dikenyam secara sosial. Ini berarti bahwa sosialisme itu bukan kapitalisme yang produksinya berlangsung social (kalau tidak ada kaum buruh yang banyak itu tidak akan ada produksi kapitalis!) tetapi hasil-hasilnya masuk ke kantong si kapitalis saja,jadi asosial. Sosialisme tidak boleh disederhanakan menjadi “sama rata sama rasa”, di mana orang yang bekerja berhak makan dan orang yang tidak bekerja juga berhak makan, atau di mana si rajin mendapat persis sama dengan si malas. Sebaliknya, dalam sosialisme hanya yang bekerjalah yang berhak makan, sedang yang tidak bekerja tidak berhak atas makan. Begitu pun, si malas tak akan mendapat sebanyak si rajin. Kian rajin akan kian banyaklah pendapatannya. Seperti dikatakan oleh Karl Marx: “Dalam sosialisme manusia bekerja menurut kemampuannya dan mendapat menurut prestasi atau hasil kerjanya” Pendeknya, sosialisme adalah masyarakat tanpa exploitation de l’homme par l’homme, tanpa pengisapan oleh manusia atas manusia, seperti berulang-ulang dinyatakan oleh Bung Karno. Demikianlah sifat-sifat umum yang pokok dari sosialisme, juga dari Sosialisme Indonesia. Bung Aidit sudah pernah memperingatkan: janganlah ”Sosialisme Indonesia”; itu diartikan sosialisme;”yang begitu khususnya”, sehingga kata sifat “Indonesia”; menjadi berarti;”dengan pengisapan oleh manusia atas manusia”, sehingga “Sosialisme Indonesia”; berarti “sosialisme dengan pengisapan!” Kalau ada “sosialisme dengan pengisapan”, pastilah dia bukan sosialisme sama sekali, pastilah dia bukan masyarakat yang adil dan makmur. Sebab, pengisapan itu bukan keadilan, dan dengan pengisapan tidak mungkin ada kemakmuran. Maksud saya kemakmuran buat semua, sebab, kemakmuran buat si pengisap tentu saja bisa. Tamu-tamu dari Eropa, yang datang ke Asia dengan berkunjung dulu ke India, baru ke Indonesia, banyak yang mengatakan kepada saya:”Indonesia ini saya lihat relatif makmur”; “Makmur bagaimana?”;, Tanya saya. Jawabnya;”Dibandingkan dengan India” Memang, saya sendiri sudah tiga empat kali ke India. Orang mati menggeletak di pinggir jalan, yang di sini hanya terdapat di jaman fasisme Jepang dan yang sesudah Republik merdeka hampir-hampir tak pernah kita jumpai, di India sana masih gejala sehari-hari. Toh P.M.Jawaharlal Nehru menamakan India itu suatu “negeri sosialis”. Ketika saya tanya kepada teman India saya yang baik, Bupesh Gupta, “Sosialisme India itu sosialisme macam apa?”, teman saya itu menjawab, “sosialisme dengan kemiskinan”. Bahwa “sosialisme” itu tidak selalu sosialisme, dan bahwa ada macam “sosialisme”; yang sesungguhnya bukan sosialisme, juga bisa kita saksikan dari kejadian-kejadian beberapa waktu yang lalu di dunia Arab. Presiden Gamal Abdel Nasser, seperti diketahui, secara pandai telah memasukkan Suriah ke dalam gabungan dengan Mesir, ke dalam “Republik Persatuan Arab”. Presiden Nasser memaklumkan bahwa RPA adalah negeri “sosialis”; yang berasaskan “sosialisme á la Arab”. Beberapa waktu kemudian, setelah rakyat Suriah, mulai buruhnya sampai burjuasinya, mengalami apa artinya berada di dalam RPA, mereka memilih kembali jalan menentukan nasib sendiri dengan merenggutkan diri dari Mesir dan mendirikan kembali Suriah merdeka. Republik Suriah ini kemudian memaklumkan “sosialisme”; juga: “sosialisme sejati”. Nah, kita lihatlah, “sosialisme”, ditentang oleh “sosialisme”; “sosialisme á la Arab”, ditentang oleh “sosialisme sejati”. Di Indonesia ini ada yang mengira bahwa sosialisme itu akan terselenggara jika kita melakukan “indonesianisasi”. Ini jugalah sebetulnya yang dilakukan oleh Mesir. Menurut Ali Sabri, menteri Mesir yang tugasnya mendampingi presiden, di sana dilakukan apa yang disebutnya “arabisasi” atau bahkan “mesirisasi”. Bahwa “indonesianisasi”, saja belum berarti perbaikan, hal ini dapat diterangkan dari dua sudut. Pertama, siapa yang mengadakan “indonesianisasi” itu; Kedua, siapa orang-orang Indonesia yang ditugaskan menggantikan kedudukan-kedudukan orang-orang asing. Pasal siapa yang menugaskan, juga siapa yang ditugaskan ini, penting sekali. Pada suatu hari diberitahukan kepada anggota-anggota parlemen kita, bahwa pada tanggal sekian jam sekian akan datang wakil-wakil dari BPM-Shell.Anggota-anggota parlemen sudah mengasah bahasa Inggrisnya, tahu-tahu yang muncul orang-orang berkulit sawo matang, bermata hitam, berambut hitam. Inilah “indonesianisasi” oleh BPM-Shell. Juga apabila yang menugaskan “indonesianisasi”; itu pihak Indonesia, termasuk pemerintah Indonesia, belumlah tentu bahwa yang ditugaskan dalam “indonesianisasi”; itu orang-orang Indonesia yang patriotik dan cakap. Bukankah Presiden Sukarno berkali-kali mencanangkan tentang masih adanya orang-orang “blandis”, orang-orang yang hollands-denken, dan bukankah kita dalam masyarakat terkadang menjumpai orang-orang yang bahkan merasa “lebih Belanda daripada si Belanda? Ya, jika seandainya setiap “indonesianisasi”; sudah beres, tentulah Manipol tidak perlu menggariskan keharusannya retooling, dan tentulah Resopim tidak perlu menggariskan keharusannya membersihkan segala aparat dari “pencoleng-pencoleng”. Sosialisme bukanlah suatu sistem ekonomi semata. Dia suatu sistem sosial yang menyeluruh. Dia ya sistem ekonomi, ya sistem politik, ya sistem kultural, ya malahan system militer. Dalam pidatonya 1 Juni 1945, yaitu “Lahirnja Pantja Sila” yang diucapkan tatkala kaum militer-fasis Jepang masih di Indonesia sini, Bung Karno-ketika itu belum Presiden RI-antara lain berkata: “Jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat, mencintai rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini, yaitu bukan saja persamaan politik … tetapi pun di atas lapangan ekonomi kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya”. Dalam pidato itu juga yang sangat saya anjurkan untuk dipelajari sungguh-sungguh oleh setiap manipolis, Bung Karno juga menganjurkan “cara yang tidak onverdraagzaam, yaitu dengan cara yang berkebudayaan!” Apakah hakikat sosialisme di lapangan ekonomi, di lapangan politik kebudayaan? Prinsip-prinsip sosialisme di lapangan ekonomi sudah saya bentangkan tadi, sekalipun secara cekak-aos. Bagaimana bisa ada “sosialisme”; yang pemilikan alat-alat produksinya tidak bersifat sosial, sedang UUD’45 pun menggariskan pada pasal 33-nya: “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak, dikuasai oleh negara. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyat sebesar-besarnya”. Kalau dalam UUD’45 sudah demikian, apa pula dalam sosialisme nanti. Di lapangan politik sosialisme haruslah berarti kekuasaan politik di tangan rakyat, dalam arti yang sesungguh-sungguhnya, kedaulatan rakyat yang bukan hanya semboyan, tetapi kenyataan. Mayoritas terbesar rakyat di negeri kita adalah kaum buruh dan kaum tani. Oleh sebab itu wajarlah apabila mereka, kaum buruh dan kaum tani itu, yang harus mengurusi dirinya sendiri dan mengurusi urusan-urusan kenegaraan umumnya. Jika tidak ada ini, maka pastilah akan terjadi apa yang dikatakan Jean Jaures seperti yang dikutip oleh Bung Karno dalam pidato “Lahirnja Pantja Sila”,yaitu: “Wakil kaum buruh yang mempunyai hak politik itu di dalam parlemen dapat menjatuhkan minister. Ia seperti raja! Tetapi di dalam dia punya tempat bekerja, di dalam pabrik, sekarang ia menjatuhkan minister, besok dia dapat dilemparkan ke jalan raya, dibikin werkloos, tidak dapat makan suatu apa”. Jika seperti yang dikatakan Jean Jaures dan Bung Karno ini masih terjadi, itu tandanya masyarakat masih berada dalam susunan kapitalis, betapa pun demokratisnya, dan belum berada dalam susunan sosialis! Manipol pun sudah menetapkan bahwa “Revolusi Indonesia harus mendirikan kekuasaan gotong royong, kekuasaan demokratis yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan, yang menjamin terkonsentrasinya seluruh kekuatan nasional, seluruh kekuatan rakyat”. Dalam mendefinisikan “seluruh kekuatan nasional” ini Manipol mengatakan: “ “Seluruh rakyat Indonesia dengan kaum buruh dan kaum tani sebagai kekuatan pokoknya. Jadi: kekuasaan gotong-royong… yang menjamin terkonsentrasikannya seluruh kekuatan nasional, seluruh kekuatan rakyat…dengan kaum buruh dan kaum tani sebagai kekuatan pokoknya.” Argumentasi bagi garis Manipol ini bahkan sudah diberikan Bung Karno tujuhbelas tahun yang lalu dalam pidato yang saya tak jemu-jemu menyebutkannya, yaitu “Lahirnja Pantja Sila”, yang antara lain berbunyi: “Jikalau saya peras yang lima (Pancasila) menjadi tiga, dan tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan ‘gotong royong.’ Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong! Alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong!”. Demikianlah Bung Karno merumuskan cita-citanya. Tidaklah perlu saya berikan redenasinya, tentulah Sosialisme Indonesia di lapangan politik sedikitnya harus menjalankan asas Sukarno tentang kenegaraan ini. Bagaimana Sosialisme Indonesia di lapangan kebudayaan? Ketika pemuda-pemuda revolusioner yang bekerja ilegal di jaman Jepang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia mendatangi Sutan Sjahrir di hari-hari Agustus 1945, Sjahrir mengatakan bahwa Indonesia “belum matang” buat merdeka, bahwa “paling sedikit dibutuhkan lima tahun sampai rakyat Indonesia bisa merdeka”. Melihat keadaan yang belum baik sekarang ini, mungkin ada orang yang akan berkata, “Kalau begitu Sjahrir betul juga sudah enambelas tahun lebih kita merdeka, kita belum bisa membereskan ekonomi dan soal-soal lain”. Pikiran begini adalah pikiran berbahaya sekali! Sebelum kita bicarakan ekonomi beres atau tidak beres, pertama-tama dan di atas segala-galanya harus kita persoalkan: kalau Proklamasi 17 Agustus 1945 ditunda apakah sekarang ini akan ada Republik Indonesia! Saya tak tahu apa akan jadinya Indonesia ini dalam hal begitu, tetapi kalau pun tidak Jepang atau Belanda menjajah kita kembali, maka imperialis-imperialis lain seperti Inggris,Amerika, Pernacis, Belgia, Portugal dan Jerman Barat, kalau tidak salah satu dari mereka menjajah kita, semuanya menjajah kita bersama-sama. Sehingga, Indonesia ini merupakan suatu polikoloni, menjadi ajang penjajahan kolektif oleh kaum imperialis, mungkin langsung, mungkin pula dengan bendera PBB seperti halnya di Korea Selatan atau Kongo sekarang. Bung Karno, dalam pidatonya ijinkanlah saya mengutipnya lagi “Lahirnja Pantja Sila”; berkata: “Adakah Lenin ketika dia mendirikan negara Soviet Rusia Merdeka, telah mempunyai Dnieprpetrovsk, dam yang mahabesar di sungai Dniepr? Apa ia telah mempunyai redio-stasion, yang menyundul angkasa? Apa ia telah mempunyai kereta-kereta api cukup, untuk meliputi seluruh negara Rusia? Apakah tiap-tiap orang Rusia pada waktu Lenin mendirikan Soviet Rusia Merdeka telah dapat membaca dan menulis? Tidak, tuan-tuan yang terhormat! Di seberang jembatan emas yang diadakan oleh Lenin itulah, Lenin baru mengadakan radio-stasion, baru mengadakan sekolahan, baru mengadakan creche, baru mengadakan Dnieprpetrovsk! Maka oleh karena itu saya minta kepada tuan-tuan sekalian, janganlah tuan-tuan gentar di dalam hati, janganlah mengingat bahwa ini dan itu lebih dulu harus selesai dengan njelimet, dan kalau sudah selesai, baru kita dapat merdeka… apakah saudara-saudara (sekarang) akan menolak serta berkata; “Mangke rumiyin, tunggu dulu, minta ini dan itu selesai dulu, baru kita berani menerima urusan negara Indonesia Merdeka.!. Dalam Indonesia Merdeka kita menyehatkan rakyat kita, walaupun misalnya tidak dengan kinine, tetapi kita kerahkan segenap masyarakat kita untuk menghiilangkan penyakit malaria dengan menanam ketepeng kerbau. Di dalam Indonesia Merdeka kita melatih pemuda kita agar supaya menjadi kuat, di dalam Indonesia Merdeka kita menyehatkan rakyat sebaik-baiknya”. Demikianlah Bung Karno tujuhbelas tahun yang lalu. Sekarang, sudah ada plan buat memberantas butahuruf sampai tahun 1964, dan Manipol pun mengatakan bahwa “kita bergerak tidak karena ‘ideal’ saja, kita bergerak karena ingin cukup makanan, ingin cukup pakaian, ingin cukup tanah, ingin cukup perumahan, ingin cukup pendidikan, ingin cukup meminum seni dan kultur – pendek kata kita bergerak karena ingin perbaikan nasib di dalam segala bagian-bagiannya dan cabang-cabangnya”. Dan saya kira Presiden Sukarno tidak salah, bila beliau berkata kemudian dalam Manipol itu pula bahwa “perbaikan nasib ini hanyalah bisa datang seratus prosen, bilamana masyarakat sudah tidak ada lagi kapitalisme dan imperialisme”, jadi, bilamana sudah terselenggara masyarakat sosialis. Demikianlah “sosialisme”; yang disesuaikan dengan kondisi-kondisi yang terdapat di Indonesia, ”itu tidak mungkin berarti diingkarinya ciri-ciri umum sosialisme, seperti penghapusan pengisapan oleh manusia atas manusia, perbaikan nasib… 100% dsb. Mengingkari sifat-sifat khusus Sosialisme Indonesia berarti bahwa ia bukan sesuatu yang bersifat Indonesia; mengingkari sifat-sifat umum Sosialisme Indonesia berarti, bahwa ia bukan sosialisme sama sekali. Kekhususannya harus diintroduksikan, tetapi keumuannya harus dipertahankan. Beginilah dan hanya beginilah kita bisa berbicara tentang Sosialisme Indonesia. Apakah sosialisme sebagai perspektif Revolusi Indonesia itu terjamin akan tercapai? Ketua CC PKI dan Ketua Dewan Kurator UNRA, Bung Aidit, menerangkan bahwa perspektif Revolusi Indonesia tak mungkin lain daripada Sosialisme, “karena Revolusi Indonesia pada tingkat sekarang adalah ditandai oleh kebangunan sosialisme dunia dan kehancuran kapitalisme dunia”. Ini dinyatakan Bung Aidit dalam bukunya Masjarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia (MIRI), yang oleh ahli sejarah dan Kepala Arsip Negara, Drs. Moh. Ali dinamakan suatu buku sejarah modern Indonesia “yang tegas”. Tentang jaminan akan tercapainya perspektif revolusi itu, Bung Aidit dalam bukunya tersebut menunjukkan, bahwa benar Revolusi Nasional-Demokratis akan menyingkirkan perintang-perintang bagi perkembangan kapitalisme, benar kapitalisme nasional sampai batas-batas tertentu akan berkembang, tetapi ini hanya satu segi dari masalahnya, sedang segi lainnya adalah bahwa akan ada juga “perkembangan faktor-faktor sosialis seperti pengaruh politik proletariat yang makin lama makin diakui kaum tani, intelegensia dan elemen-elemen burjuasi kecil lainnya; perusahaan-perusahaan negara dan koperasi-koperasi kaum tani, kaum kerajinan tangan, nelayan dan koperasi-koperasi rakyat pekerja lainnya. Semua ini adalah faktor-faktor sosialis yang menjadi jaminan bahwa hari depan Revolusi Indonesia adalah Sosialisme dan bukan Kapitalisme. ”Bagaimana sekarang menyelenggarakan sebaik-baiknya Sosialisme Indonesia itu?”. Dalam “Amanat Presiden tentang Pembangunan Semesta Berentjana,”, yang berarti juga “Djarek”; dan “Membangun Dunia Kembali”, oleh MPRS telah disahkan sebagai pedoman pelaksanaan Manipol, Presiden Sukarno dengan keras mengritik di satu pihak golongan “evolusionis”, karena “teori yang demikian itu adalah salah”, dan pihak lain golongan “melompat”; atau “fasensprong”; karena “teori yang demikian itu pun tidak benar”. Saya menyokong kritik terhadap di satu pihak “evolusionisme”; dan di pihak lain “fasensprong” ini, karena yang pertama akan berarti penyelewengan ke kanan, oportunisme kanan atau reformisme, sedang yang kedua akan berarti penyelewengan ke kiri, oportunisme kiri atau radikalisme. Baik yang pertama maupun yang kedua akan membikin perjuangan mandek di jalan, sosialisme tidak tercapai dan revolusi gagal. “Evolusionisme”; berarti tidak mengganti sarana-sarana lama dengan sarana-sarana baru, berarti tidak menjebol kekuasaan lama dan mendirikan yang baru, berarti “sumonggo dawuh dan monggo kerso serta sendiko dalem alias menyerah-isme”. Perjuangan harus revolusioner, dan tidak evolusioner,tidak reformis “Fasensprong”; berarti melompati apa yang tidak boleh dilompati, yaitu fase revolusi nasional-demokratis, berarti memimpikan yang tidak-tidak, berarti antirealis, alias avonturisme. Perjuangan harus obyektif dan tidak subyektif, tidak acak-acakan atau awur-awuran. Kita sekarang berada dalam fase revolusi nasional dan demokratis, artinya, revolusi melawan imperialisme dan melawan feodalisme. Fase revolusi ini tidak boleh kita takuti, dia harus kita tempuh. Perincian “Djarek” menegaskan: “Jelaslah, ada dua tujuan dan dua tahap Revolusi Indonesia: Pertama, tahap mencapai Indonesia yang merdeka penuh, bersih dari imperialisme-dan yang demokratis-bersih dari sisa-sisa feodalisme. Tahap ini masih harus diselesaikan… Kedua, tahap mencapai Indonesia ber-Sosialisme Indonesia, bersih dari kapitalisme dan dari exploitation del’homme par l’homme. Tahap ini hanya bisa dilaksanakan dengan sempurna setelah tahap pertama sudah diselesaikan seluruhnya. “Bisakah dipikirkan perumusan yang lebih gamblang daripada ini? Baiklah saya bahas tahap pertama, yang di satu pihak tak boleh ditakuti dan di pihak lain tak boleh dilompati itu. Mengapa sasaran revolusi kita sekarang imperialisme dan feodalisme? Ini mudah dipahami jika orang suka mengingat bahwa 20% dari wilayah tercinta kita, yaitu Irian Barat, masih diduduki kaum imperialis. Juga jika diingat bahwa sebagian penting dari perekonomian kita, terutama minyak, masih dikuasai oleh kapital imperialis BPM-Shell, Stanvac dan Caltex. Andaikata kapital imperialis sudah tidak ada lagi di Indonesia, tentulah Manipol tidak mengancam “semua modal Belanda, termasuk yang berada dalam perusahaan-perusahaan campuran, akan habis tamat riwayatnya sama sekali di bumi Indonesia”. Andaikata kapital imperialis sudah tidak ada lagi di Indonesia, tentulah Manipol tidak mengancam modal monopoli asing yang bukan Belanda akan diperlakukan “sama dengan modal yang asalnya dari negeri Belanda”; artinya juga dibikin “habis tamat riwayatnya sama sekali di bumi Indonesia. “Antievolusionisme” berarti harus melaksanakan ketentuan Manipol ini. Jika sebaliknya, jika ketentuan-ketentuan Manipol ini tidak dijalankan dan jika kita tidak membikin habis tamat riwayatnya kapital imperialisme asing di bumi Indonesia, maka kita sesungguhnya-sadar ataupun tak sadar-menjalankan evolusionisme, menjalankan reformisme atau oportunisme kanan, kita sesungguhnya menjadi takut kepada kemenangan revolusi! Demikian yang mengenai imperialisme. Yang mengenai feodalisme pun demikian pula. Andaikata feodalisme sudah habis, tentulah tidak ada perlunya dibikin Undang-undang Bagi Hasil dan Undang-undang Pokok Agraria atau Undang-undang Landreform. Ya, andaikata feodalisme sudah habis, tentulah “Djarek” tidak menegaskan bahwa “Revolusi Indonesia tanpa landreform adalah sama saja dengan gedung tanpa alas, sama saja dengan pohon tanpa batang, sama saja dengan omong besar tanpa isi“, tentulah “Djarek” tidak menegaskan bahwa ”melaksanakan landreform berarti melaksanakan satu bagian mutlak dari Revolusi Indonesia, dan tentulah “Djarek” tidak menegaskan bahwa “tanah tidak boleh menjadi alat pengisap”; “Djarek” tidak hanya berhenti di sini. Seakan-akan khawatir kalau politik landreformnya tidak akan dituruti oleh golongan-golongan tertentu, maka Presiden Sukarno dalam “Djarek” itu juga menegaskan: ”Gembar-gembor tentang Revolusi, Sosialisme Indonesia, Masyarakat Adil dan Makmur, Amanat Penderitaan Rakyat, tanpa melaksanakan landreform, adalah gembar-gembornya tukang penjual obat di Pasar Tanah Abang atau di Pasar Senen”! Jelaslah, bahwa antievolusionisme harus berarti setuju dan melaksanakan landreform. Jika tidak setuju, dan tidak menjalankan landreform, maka disadari atau tidak orang sudah menjalani evolusionisme, reformisme atau oportunisme kanan, orang sudah takut kepada kemenangan revolusi. Pendeknya kita harus awas-awas terhadap orang-orang yang “revolusi yes, landreform no”, atau “revolusi okay”, “menghabisi riwayat kapitalis imperialis tunggu dulu”. Di Sumatera Utara agak sering terjadi orang-orang berangkat ke luar negeri, pulang memakai jubah dan kupiah haji, padahal dia tidak ke Mekkah, cuma ke Singapura… inilah yang di Medan disebut “lebai Singapura”-mereka lebai-lebai palsu. Begitulah tidak semua orang yang menyebut dirinya “revolusioner” adalah sesungguhnya revolusioner, ada juga revolusioner palsu, ada revolusioner gadungan! Saya sudah menguraikan perkara “evolusionisme”; di dalam praktek. Bagaimana “fasensprong”; di dalam praktek? Fasensprong tidak mau tahu akan revolusi nasional dan demokratis. Fasensprong mau langsung ke sosialisme, sekalipun syarat-syarat untuknya belum tersedia. Fasensprong mengobrak-abrik pengusaha-pengusaha nasional dan pengusaha-pengusaha kecil, tetapi membiarkan pengusaha-pengusaha imperialis seperti BPM-Shell, Stanvac, Caltex dan Unilever. Mereka lebih hebat daripada “sosialisme dengan kemiskinan”; – mereka mau “sosialisme dengan imperialisme”! Terhadap masalah tanah, fasensprong tak mau ambil perduli terhadap perlunya pemilikan perseorangan oleh kaum tani atas tanah: mereka mau langsung “pengkoperasian” pertanian, atau yang tak kalah seringnya, mereka mau “menasionalisasi tanah-tanah”. Jelaslah, bahwa fasensprong sebetulnya tak lain daripada sabotase terhadap revolusi. Bagaimana hubungannya antara tingkat revolusi yang pertama dengan tingkat yang kedua? Bung Aidit dalam karyanya Masjarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia menulis bahwa; ”Dua tingkat revolusi, yang demokratis dan yang sosialis (adalah) dua proses revolusioner yang berbeda dalam watak, tetapi yang satu dengan yang lainnya berhubungan. Tingkat pertama ialah persiapan yang diperlukan untuk tingkat kedua, dan tingkat kedua tidak mungkin sebelum tingkat pertama selesai”. Menyelesaikan “tingkat pertama”; bukan hanya berarti menyelesaikan tugas-tugas ekonominya yang pokok-pokok, terutama terhadap kapital imperialis dan monopoli tuan tanah atas tanah. Menyelesaikan “tingkat pertama”; harus berarti juga dikerjakannya hal-hal yang mendesak sekali seperti mempraktekkan dan bukan hanya menyerukan semboyan “merombak ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional”. Jika penghasilan negara terutama didapat dari pajak-pajak, langsung maupun tak langsung, jika pajak-pajak yang sudah ada dinaikkan dan pajak-pajak baru diadakan, dan jika tarif-tarif transpor, telekomunikasi dsb. dinaikan, juga jika harga minyak, gula, dan lain-lainnya dinaikkan, dan jika sebaliknya perusahaan-perusahaan negara tidak memberikan sumbangan yang sepertinya kepada kas negara, apalagi jika karena belum diberantasnya yang dikatakan Presiden Sukarno dalam Manipol “syaitan korupsi”; dan “syaitan garuk kekayaan hantam kromo”, maka semua ini menandakan semboyan “merombak ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional”; baru semboyan yang diserukan dan belum semboyan yang dipraktekkan. Ketika memasuki tahun ke-2 Manipol, Presiden Sukarno berkata: “Kita harus dengan lebih tegap melangkah untuk secara konsekuen melaksanakan Manipol dan dalam tahun ke-2 Manipol Usdek ini kita harus sungguh-sungguh nanpakken soal retooling ini benar-benar”. Kita sekarang sudah berada di tahun ke-3 Manipol, tahun batas bagi pelaksaan triprogram kabinet, bagi kabinet sendiri, bagi keadaan bahaya juga. Jika dalam tahun ke-2 Presiden Sukarno sudah begitu menekankan mutlaknya melaksanakan secara konsekuen Manipol dan nampakken soal retooling benar-benar,”apalagi sekarang di tahun ke-3 Manipol ini! Beberapa patah kata tentang Pancasila. Harus jelas bagi siapa pun, bahwa Pancasila itu sesuatu keutuhan integral yang tidak boleh direnggut-renggut satu-satu silanya dari sila-sila lainnya, dan bahwa Pancasila itu alat pemersatu. Jika Pancasila direnggut-renggut, maka bisa nanti atas nama “Kebangsaan”; misalnya orang menentang “Ketuhanan Yang Mahaesa”; atau “Kemerdekaan Beragama”; misalnya orang menentang “Kedaulatan Rakyat”; atau “Demokrasi Sosialisme di mana pun di dunia menjamin kemerdekaan beragama”. Sosialisme Indonesia tak terkecuali. Sdr. KDH Sudjarwo dengan tepat menganjurkan “Pancasila” secara ilmiah setaraf dengan interpretasi penciptanya,”; yaitu Bung Karno. Memang kalau kita bertolak dari “Lahirnja Pantja Sila”, pidato 1 Juni 1945 Bung Karno yang sudah banyak saya kutip itu, dalam mebicarakan sila “Ketuhanan Yang Mahaesa”; Bung Karno menekankan “hormat-menghormati satu sama lain”, “yang berkeadaban”, “yang berkebudayaan”; “yang tidak onverdraagzaam”, dan dengan tegas beliau kemudian berkata: “Segenap agama yang ada di Indonesia sekarang ini akan mendapat tempat yang sebaik-baiknya”; UUD’45 dalam pasal 29 yang mengenai “Ketuhanan Yang Mahaesa”; menegaskan bahwa “negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya”. Dalam “Djarek”, Presiden Sukarno menggasak “hantu kebencian”, membela “toleransi politik”; Dan dalam “Membangun Dunia Kembali”; atau pidato PBB-nya yang terkenal itu, Presiden Sukarno menerangkan bahwa sila “Ketuhanan Yang Mahaesa”; dalam Pancasila berarti: “hak untuk percaya”, bukan kewajiban untuk percaya kepada Tuhan, dan berkatalah Presiden: “Bangsa saya meliputi orang-orang yang menganut berbagai macam agama: ada yang Islam, ada yang Kristen, ada yang Budha dan ada yang tidak menganut sesuatu agama”. Kemudian Presiden menunjukkan bahwa “bahkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan pun; diliputi oleh “toleransi”. Pernyataan Presiden ini tepat sekali, karena sesungguhnya “yang tidak menganut sesuatu agama”; atau “yang tidak percaya kepada Tuhan pun”; adalah bangsa Inndonesia-mereka rakyat Indonesia. Dan tentulah kita semua belum lupa pada canang yang dipukul Presiden dalam “Resopim”, bahwa Pancasila adalah alat pemersatu, bahwa Pancasila tidak boleh dijadikan alat pemecah-belah, dan bahwa barang siapa menjadikan Pancasila alat pemecah-belah, sesungguhnya dia itu-dalam istilah Presiden Sukarno sendiri “sinting” Sampailah saya sekarang pada alat yang terpenting, yang terbaik, dan yang satu-satunya untuk menyelenggarakan Sosialisme Indonesia melalui penyelesaian fase pertama, fase revolusi nasional-demokratis, yaitu persatuan nasional. Persatuan nasional ini dengan Nasakom sebagai porosnya, bukan hanya sesuatu yang sudah resmi dan maka itu harus dituruti mutlak oleh setiap warganegara dari golongan politik maupun karya, sipil maupun militer, tetapi dia pun syarat yang tak boleh tidak jika kita mau menyelesaikan tuntutan-tuntutan Revolusi ’45 dengan perbuatan dan tidak dengan lipservice atau lamis-lamis bibir saja. Presiden Sukarno mengatakan dalam “Resopim”; bahwa menolak Nasakom berarti bertentangan dengan UUD’45, dan dalam “Djarek”; beliau berpesan, “Bangsa” kita harus menggembleng dan menggempurkan persatuan dari segala kekuatan-kekuatan revolusioner, – menggembleng dan menggempurkan de samenbundeling van alle revolutionaire krachten in de natie. Demikianlah secara pokok-pokok Sosialisme Indonesia-ilmu dan amalnya: ilmu dan amal pengakhiran pengisapan oleh manusia atas manusia.