NUSWANTORO DIPANTARA NKRI

Google+ Badge

Google+ Badge

Selasa, 31 Oktober 2017

Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu

Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETUALANGAN WIRO DI LATANAHSILAM

SINOPSIS :PAKAIAN PERI ANGSA PUTIH ROBEK DI BAGIAN PINGGANG. BATU BERWARNA TUJUH MENYEMBUL DI ATAS PERUTNYA YANG PUTIH. PERI ANGSA PUTIH TERPEKIK. BARU SADAR APA YANG TERJADI. DIA CEPAT MENGHANTAM TAPI TERLAMBAT. BATU PEMBALIK WAKTU TELAH BERADA DALAM GENGGAMAN LAMANYALA. BEGITU DAPATKAN BATU SAKTI TERSEBUT LAMANYALA SIAP BERKELEBAT KABUR. PADA SAAT ITULAH TIBA-TIBA SUARA PEREMPUAN MENGGERUNG KERAS. "LASEDAYU SUAMIKU! SIAPA YANG BERANI MENCELAKAI DIRIMU!"SATU BAYANGAN KUNING BERKELEBAT. SATU TENDANGAN KERAS MELABRAK DADA LAMANYALA HINGGA TUBUHNYA MENCELAT MENTAL SAMPAI TIGA TOMBAK DAN BATU PEMBALIK WAKTU YANG ADA DALAM GENGGAMAN TANGAN KANANNYA TERLEMPAR KE UDARA LALU JATUH KE TANAH. PERI ANGSA PUTIH CEPAT MEMBURU, GULINGKAN DIRI DI TANAH DAN MENYAMBAR BATU SAKTI ITU.



SATU pemandangan luar biasa terlihat di dalam rimba belantara Lasesatbuntu. Dua sosok aneh berlari cepat mengusung sebuah tandu kayu. Sosok di sebelah depan tinggi kurus hanya mengenakan sehelai cawat. Sekujur tubuhnya
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Minggu, 29 Oktober 2017

Jiwa Pramuka Yudi

Jiwa Pramuka Yudi Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Siang itu yudi sedang duduk di halaman sekolah. Fikiranya gelisah dan terlihat tampak kacau, tangannya memegang Hp dan sering-sering ia lihat, seperti sedang menunggu sms masuk. Penasaran, aku menghampirinya.
“Yud.. kenapa kamu gelisah gitu?” Ucapku mengagetkan Yudi
“Enggak apa-apa sih, cuma lagi bingung aja” jawab Yudi menutupi masalah
“Bingung kenapa?” Sok ingin tahu
“gapapa sih, em, boleh tahu kamu mau kemana?”
“Mau pulang, habis ini mau ikut kemah gabungan, kenapa? mau ikut?”
“Emang aku boleh dan bisa ikut? Serius?”
“Yuupp, kamu ikut Gudep sini.. ayo sekarang pulang, ntar kumpul disini jam 14.00”
“wahhh ok ok ok”

Jam 14.00 tiba, semua DA SMA Harapan sudah berkumpul, namun mataku belum menemukan sosok Yudi. Aku berfikir Yudi tidak akan datang, aku menyibukan diri membantu teman-teman menaikan barang-barang ke atas truk. Tiba-tiba Yudi muncul dengan pakaian pramuka lengkap dan rapi sambil menggendong ransel hitam..
“Lapor saya Yu
... baca selengkapnya di Jiwa Pramuka Yudi Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Sabtu, 28 Oktober 2017

Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan

Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

SATU

MATAHARI baru saja tenggelam. Dalam udara yang beranjak gelap itu keadaan dipekuburan Jati anom nampak diselimuti kesunyian padahal belum lama berselang rombongan pengantar jenazah yang berjumlah hampir seratus orang meninggalkan tempat itu. Di u jung kanan tanah pekuburan, dibawah sepokok batang Kemboja kecil tampak seungguk tanah makam yang masih merah ditaburi oieh bunga-bunga aneka warna. Dikejauhan terdengar suara kicau burung yang kembali ke sarangnya. Lalu sunyi lagi dan udara semakin gelap.

Pada saat itulah tiga sosok berpakaian serba hitam muncul dari arah timur tanah pekuburan.Ketiganya sesaat tegak berhenti meneliti keadaan. Ketika tidak seorangpun kelihatan di tempat itu, ketiganya melangkah bergegas menuju kuburan baru. Dua dari tiga orang ini memanggul pacul. Satunya membawa linggis.

"Ini kuburannya! Kita harus bekerja cepat!" terdengar orang yang membawa linggis berucap.

"Tak usah kawatir. Kuburan baru tanahnya masih lembek. Sebentar saja kita pasti menemukan peti itu!" menjawab pemanggul pacul di sebelah kanan. Lalu bersama temannya dia mulai memacul dan menggali tanah kuburan. Keduanya bekerja keras dan cepat, tidak berhenti-henti menggali sampai akhirnya salah sat
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Senin, 02 Oktober 2017

Doa Tanpa Arti

Doa Tanpa Arti Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Pada suatu malam yang sangat dingin, seorang pemuda duduk di dekat perapian dirumahnya untuk menghangatkan badan. Saat pandangannya menatap jendela rumahnya, dilihatnya seorang kakek sedang berjalan ditengah salju yang putih.

Sang Pemuda kemudian berpikir, ?Ah Malangnya kakek itu, dia harus berjalan ditengah badai salju seperti ini. Baiklah aku akan mendoakan dia saja agar dapat tempat berteduh.? Pemuda itu lalu berdoa kepada Tuhan : ?Tuhan bantulah agar orang tua di depan rumahku ini mendapatkan tempat untuk berteduh. Kasihan Tuhan dia kedinginan.?

Ketika si pemuda mengakhiri doanya dilihatnya sang kakek berjalan mendekati rumahnya dan diapun sempat mendengar suara rintihan sang kakek yang kedinginan ketika sang kakek bersandar di dekat jendela rumahnya. Mendengar itu sang pemuda berdoa lagi kepada Tuhan. ? Tuhan lihatlah sang kakek di luar rumah itu. Kasihan sekali dia Tuhan, biarlah engkau membantunya agar dia tidak kedinginan lagi.bantulah agar dia mendapatkan tempat berteduh yang hangat.? Setelah itu si pemuda pun tidur lelap.

Keesokan harinya si pemuda terbangun karena suara gaduh masyarakat sekitarnya.
... baca selengkapnya di Doa Tanpa Arti Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Rabu, 20 September 2017

SedekAH membawa berkAH untuk semuanyAH?. AH? AH? AH

SedekAH membawa berkAH untuk semuanyAH?. AH? AH? AH Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Di sore hari, langit tampak biru. Susana terasa teduh dan sejuk. Gw berjalan di sore hari menapaki trotoar Kota Bandung yang memiliki 2 fungsi sekaligus, tempat pejalan kaki dan tempat pedagang berjualan. Ketika itu gw bermaksud pergi menuju warung internet. Tujuan gw ke sana Cuma ingin memastikan apakah ujian saringan yang baru saja gw lewati minggu lalu lulus atau tidak? Akhirnya setelah gw cek, Syukurlah gw lulus.

Seketika itu juga gw berteriak…

Gw : “GW LULUS MAS?!”

Mas operator WARNET : “Lulus audisi miss waria 2006? Perwakilan Bandung ya mas? Selamat ya.”

Gw : “Wuaah?! Terserah mas deh. Yang penting saya hepi?! Cihuy?!”

***

Cerita ini bermula ketika…

Di tahun 2006 (tahun yang penuh warna buat hidup gw), gw ngerasa beruntung karena impian gw buat meneruskan sekolah ke jenjang perkuliahan bisa benar-benar terjadi. Sebelumnya sempat terbesit dalam otak gw bahwa sehabis lulus SMA tuh mendingan langsung kerja aja (entah kerja apaan, yang penting gw punya income). Tadinya sih gw udah ada persiapan buat kerja sebagai mentalis seperti Dedy Corbuzier, tapi enggak jadi aja ah bakat gw udah jelas kok di Modelling (model rekonstruksi pembunuhan buat POLWITABES Bandung).

Karena gw ditakdirkan buat kuliah, gw harus benar-benar mensyukuri kenyataan tersebut. Dibalik itu, gw mempunyai obsesi untuk menorehkan prestasi di bid
... baca selengkapnya di SedekAH membawa berkAH untuk semuanyAH?. AH? AH? AH Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Kamis, 31 Agustus 2017

Dibalik Senyum Tulusmu

Dibalik Senyum Tulusmu Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Rintik hujan menetes dari luar kamarku. Aku menatap hampa ke atas langit kelabu yang sejak pagi tidak menampakkan sinarnya. Hari ini seolah ikut berduka dengan keadaanku. Demam. Ya, tepatnya aku demam. Dan ini menjadi alasanku untuk tidak mengikuti pelajaran di sekolah.

Kualihkan tatapanku pada handphone yang sedari tadi bergetar di sisi tempat tidur. Terlihat pesan dari Aninda, salah satu teman akrabku, namun aku tak ingin menyebutnya sebagai sahabat.
“Risya kenapa tadi pagi nggak sekolah?”
“Kurang enak badan, Nin.” balasku singkat.
Seorang wanita cantik masuk dari balik pintu. Senyum cerahnya membuatku tak kuasa untuk membalasnya.
“Bagaimana keadaanmu, sayang? Masih sakit kepalanya?” tanya bunda sambil mengusap lembut dahiku.
“Lumayan, bunda. Mungkin besok bisa sekolah.”
“Kalau belum kuat, izin dulu sehari lagi,” saran bunda.
“InsyaAllah kuat. Risya nggak mau ketinggalan pelajaran.”
“Ya sudah, tenangkan fikiran dulu. Kesehatan Risya itu segalanya buat bunda. Jaga diri baik-baik, nak.”
“Iya bunda.. Makasih ya,” ujarku seraya memeluk bunda. Kupendamkan wajahku di jilbab panjang yang
... baca selengkapnya di Dibalik Senyum Tulusmu Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Selasa, 15 Agustus 2017

JUNGKIR BALIK MORALITAS UAN

JUNGKIR BALIK MORALITAS UAN Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

06 Mei 2008 – 10:20   (Diposting oleh: Editor)

”Para guru di sejumlah sekolah tahu dan bahkan ikut menyebarkan kunci jawaban pada murid-muridnya saat Ujian Akhir Nasional (UAN). Sementara mekanisme distribusi soal yang selama ini disebut aman, setidaknya dalam empat tahun belakangan bisa ditembus para penyedia kunci jawaban soal yang menjualnya hingga Rp 6 juta per paket.”

Itulah isi tayangan Investigasi Trans TV yang ditayangkan pada sore hari tanggal 26 April 2008. Pernyataan bahwa kecil kemungkinannya soal UAN bisa bocor oleh pejabat dinas di Jakarta Selatan seketika terbantahkan oleh hasil pelacakan yang mendapatkan pernyataan dari penjual kunci soal.

Bahwa selama empat tahun belakangan ini, dia dan rekan-rekannya bisa mendapatkan bocoran soal yang didistribusikan ke sekolah siswa yang memesan kunci jawaban. Mereka mengaku bisa mendapat soal yang entah dengan cara bagaimana bisa dikeluarkan oleh kurir.

Titik lemahnya tampaknya pada soa
... baca selengkapnya di JUNGKIR BALIK MORALITAS UAN Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Sabtu, 29 Juli 2017

Kolonialisme Dan Misi Kristen Dalam Sejarah Indonesia


Kolonialisme dan misi Kristen mempunyai hubungan sangat erat. Di negara-negara Muslim, keduanya sering dibantu oleh orientalisme sehingga menjadi gerakan bersama Barat untuk menghadapi Islam. Fakta sejarah pun menunjukkan bahwa gerakan kolonialisme selalui disertai oleh kegiatan misionaris Kristen dan orientalis[1]. Banyak sarjana, baik dari kalangan Muslim maupun Barat, mengakui hal itu. Dari kalangan Muslim misalnya Muhammad Al-Ghazali [2], Musthafa Khalidi, Umar Farukh[3], Abdurrahman Habanakah Al-Maidani[4], Anwar Al-Jundi[5], Muhammad Natsir[6], dan H.M. Rasyidi[7]. Adapun dari kalangan sarjana Barat antara lain Robert Delavignette[8] , Stephen Neill [9], Katie Geneva Cannon [10], Livingstone M. Huff [11], Horst Gründer [12], dan Edward W. Said [13]. Seperti negara Muslim lain yang pernah dijajah oleh bangsa Barat, Indonesia mempunyai pengalaman sejarah mengenai hubungan erat antara kolonialisme dan misi Kristen. Sejarah menunjukkan bahwa Kristenisasi merupakan bagian tidak terpisahkan dari ekspansi kolonialisme. Agama Kristen datang dan menyebar seiring dengan datang dan menyebarnya kolonialisme Barat. Portugis maupun Belanda sama-sama datang dengan membawa misi Kristen. Di dalam Encyclopædie van Nederlandsch-Indië disebutkan, “Mengenai sikapnya terhadap perkara agama di kepulauan ini (Nusantara), orang Belanda berdasarkan contoh sama dengan orang Portugis. Di mana pun dia tinggal dan menjumpai pribumi Kristen, keadaan mereka itu tidak disia-siakannya. Sebaliknya, di mana pun belum ada pribumi Kristen, dia berusaha menyebarkan Kristen di tengah-tengah mereka.” [14] Namun demikian, sebagian sarjana Kristen mengingkari adanya hubungan saling menguntungkan antara kolonialisme dan misi Kristen. W.B. Sidjabat, misalnya, berusaha mengelak bahwa kekuasaan kolonial Belanda ikut membantu penyebaran agama Kristen di Indonesia. Menurutnya, kaum misionaris sama sekali tidak ada kaitannya dengan ambisi duniawi kaum kolonialis. Penyebaran agama Kristen lebih disebabkan oleh kuasa Al-Kitab dan bukan terutama disebabkan oleh upaya orang-orang Kristen. [15] Sarjana Kristen lain yang menolak asumsi di atas adalah Chris Hartono dan Adolf Heuken SJ. Menurut Chris Hartono, pernyataan bahwa meluasnya penjajahan dan kemajuan karya zending sama-sama merupakan wadah ekspansi Barat adalah tidak benar, sekurang-kurangnya tidak tepat, karena di antara keduanya terdapat perbedaan yang hakiki. [16] Sementara itu, Adolf Heuken SJ menyatakan bahwa tidak selamanya pemerintah kolonial memberikan bantuan dan perlindungan kepada misi Kristen. Menurutnya, pemerintah kolonial juga sering menghambat upaya penyebaran Kristen sampai 1942. Lebih lanjut, dia mengatakan, “Tuduhan bahwa misi dimanja oleh pemerintah kolonial merupakan fitnah yang tak pernah disertai data (yang memang tidak ada).” [17] Kedatangan Bangsa Barat dan Penyebaran Agama Kristen Beberapa sarjana Kristen berpendapat bahwa pengkabaran Injil ke beberapa tempat di Indonesia ini sudah dimulai pada zaman Patristik, pada masa sebelum kedatangan Islam. Diduga bahwa orang-orang Kristen Nestorian dari Mesir dan Persia sempat singgah di beberapa tempat di Indonesia dalam perjalanan mereka ke Tiongkok pada abad V. Peristiwa ini terjadi pada masa menjelang timbulnya Kerajaan Sriwijaya. [18] Namun demikian, nasib agama Kristen untuk jangka waktu yang lama tidak begitu jelas setelah periode ini dan tidak meninggalkan bekas. Tidak ada data sejarah yang dapat menjelaskan perkembangan Kristen Nestorian itu. Baru pada awal abad XVI agama Kristen mulai berkembang dan menyebar dengan kedatangan bangsa Barat ke Indonesia. Pada masa itu, Spanyol dan Portugis memelopori bangsa Eropa dalam ekspedisi pelayaran keliling dunia. Orang-orang Spanyol melakukan pelayaran ke arah barat, sedangkan orang-orang Portugis melakukan pelayaran ke arah timur hingga tiba di Indonesia. Ekspansi Portugis dan Spanyol mendapatkan restu dari Paus Alexander VI. Pada 4 Mei 1493, dia membagi dunia baru antara Portugis dan Spanyol. Salah satu syaratnya adalah raja atau negara harus memajukan misi Katolik Roma di daerah-daerah yang telah diserahkan kepada mereka itu. [19] Paus Alexander VI juga mengajarkan bahwa bangsa-bangsa di luar Negara Gereja Vatikan yang tidak beragama Katolik, dinilai sebagai bangsa biadab. Negara atau wilayahnya dinilai sebagai terra nullius (wilayah kosong tanpa pemilik). [20] Semangat Perang Salib sangat kuat mendorong ekspansi Portugis. Mereka memandang semua penganut Islam adalah bangsa Moor dan musuh yang harus diperangi. [21] Oleh karena itulah ketika Alfonso d’Albuquerque berhasil menduduki Malaka pada 1511, dia berpidato, “Tugas besar yang harus kita abdikan kepada Tuhan kita dalam mengusir orang-orang Moor dari negara ini dan memadamkan api Sekte Muhammad sehingga ia tidak muncul lagi sesudah ini… Saya yakin, jika kita berhasil merebut jalur perdagangan Malaka ini dari tangan mereka (orang-orang Moor), Kairo dan Mekah akan hancur total dan Venesia tidak akan menerima rempah-rempah kecuali para pedagangnya pergi dan membelinya di Portugis.” [22] Portugis datang ke Malaka, kemudian ke Nusantara, dengan membawa para misionaris. Penyebaran agama Kristen Katolik menjadi tujuan utama mereka, bukan pekerjaan sambil lalu saja. Di setiap wilayah yang ditaklukkan Portugis, misi Katolik segera masuk dan mengkonversi penduduk dengan cara paksa dan tidak mengenal toleransi beragama. Para misionaris Portugis tidak menghiraukan agama Islam yang telah dianut oleh penduduk di Maluku. Portugis mengadu domba penduduk yang telah berhasil dikristenkan untuk bermusuhan dengan orang-orang Islam. Malah mereka dipakai sebagai senjata untuk memerangi orang-orang Islam, seperti yang pernah terjadi dengan orang-orang Hatiwe yang digunakan tenaganya untuk memerangi Hitu. Agresi-agresi Portugis dengan Kristenisasinya telah memaksa mereka yang tidak rela meninggalkan agama Islam untuk lari meluputkan diri meninggalkan kampung halamannya, mencari tempat yang aman dari incaran Portugis. Penyebaran Kristen Katolik oleh para misionaris Portugis di wilayah-wilayah Islam terkadang dilaksanakan pada hari Jum’at tepat waktu shalat. Pada waktu itu semua orang laki-laki berada di masjid, sedangkan wanita dan anak-anak berada di rumah. Mereka yang dapat meloloskan diri dari kepungan Portugis terpaksa lari meninggalkan keluarganya. Peristiwa semacam ini pernah terjadi di wilayah-wilayah Islam di pulau Ambon, seperti Negeri Lama (Pasolama), Suli, Wai dan lain-lain. [23] Misionaris Portugis paling sukses dalam menyebarkan Kristen Katolik di Maluku adalah Franciscus Xaverius. Dia tiba di Ambon pada Februari 1546. Setelah tiga bulan bekerja di sana, dia mengunjungi Ternate, Halmahera dan Morotai, lalu pulang lagi beberapa waktu ke Ternate dan Ambon, kemudian kembali ke Malaka. Selama 15 bulan bekerja di Maluku, Xaverius berhasil membaptis ribuan orang. [24] Xaverius pernah menulis, ”Jika setiap tahunnya selusin saja pendeta datang ke sini dari Eropa, maka gerakan Islam tidak akan dapat bertahan lama dan semua penduduk kepulauan ini akan menjadi pengikut agama Kristen.” [25]. (Bersambung) Catatan Kaki 1. Hamid Fahmy Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam; Gerakan Bersama Missionaris, Orientalis dan Kolonialis, (Ponorogo: Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS) Institut Studi Islam Darussalam, 2008), hlm. 44–45. 2. Lihat Muhammad Al-Ghazali, Al-Isti‘mâr; Ahqâd wa Athmâ‘, (Iskandariah: Syirkah Nahdhah, 2005). Menurut Al-Ghazali, kolonialisme mempunyai dendam agama dan ambisi duniawi. Oleh karena itu, pemerintah kolonial tidak hanya mengeksploitasi sumber daya alam negeri-negeri Muslim yang menjadi daerah koloni mereka, namun juga menyebarkan agama Kristen untuk menghadapi dan merusak Islam. 3. Lihat Mushtafa Khalidi dan Umar Farukh, At-Tabsyîr wa Al-Isti‘mâr fi Al-Bilâd Al-‘Arabiyah, (Beirut: Mansyurat Al-Maktabah Al-‘Ashriyah, 1986). Menurut kedua penulis ini, misi Kristen menjadi faktor penting dalam menghancurkan persatuan Islam. Sebab, misi Kristen berusaha menggambarkan orang-orang Eropa sebagai pembawa pencerahan baru dan bukan dalam bentuk sebagai penjajah. Apabila mereka berhasil melakukannya, maka hal ini akan mengendurkan dan memecah belah perlawanan umat Islam. (hlm. 37) 4. Lihat Abdurrahman Habanakah Al-Maidani, Ajnihah Al-Makr Ats-Tsalâtsah, (Damaskus: Dar Al-Qalam, 2000). Dalam buku ini, penulisnya memaparkan bahwa misi Kristen, orientalisme, dan kolonialisme adalah gerakan bersama untuk menghancurkan Islam. Ketiganya bertemu dalam tujuan dan proyek bersama. Titik pertemuan itu antara lain adalah dalam kebencian dan dendam terhadap kaum Muslim, eksploitasi ekonomi, memerangi Islam dan upaya penerapannya, serta upaya memisahkan antara Islam dan pemeluknya. (hlm. 187–206) 5. Lihat Anwar Al-Jundi, Al-‘Âlam Al-Islâmî wa Al-Isti‘mâr As-Siyâsî wa Al-Ijtima‘î wa Ats-Tsaqafî, (Beirut: Dâr Al-Kutub Al-Lubnânî, 1983). Menurutnya, pemerintah kolonial yang mencengkeram negeri-negeri Islam menekankan pada dua aktivitas mendasar. Pertama, berusaha untuk membangun opini publik bahwa apa yang dilakukan kolonial merupakan aktivitas yang berkaitan dengan misi pengadaban dan kemanusiaan yang bertujuan untuk memajukan umat manusia. Mereka berasumsi bahwa orang kulit putih adalah pemilik peradaban yang bertanggungjawab terhadap kemajuan peradaban orang kulit berwarna. Kedua, mengubah intelektualitas Islam dari konsep dasarnya dan membangkitkan kesamaran seputar unsur-unsur pemikiran Islam. Hal itu dilakukan sebagai permulaan untuk mengasosiasikannya ke dalam pemikiran Barat yang diasumsikan sebagai pemikiran universal yang dominan. Dengan cara ini, umat Islam akan kehilangan nilai-nilai prinsipilnya, kemudian menerima nilai-nilai peradaban Barat dan takluk seperti kuda jinak di tangan mereka. Untuk melaksanakan kedua hal di atas, pemerintah kolonial mengirimkan misionaris yang memiliki peran besar dalam menciptakan orang-orang yang menerima dan membela pemikiran Barat. Mereka tidak memusuhi kolonialisme, tetapi malah mendukung dan menghormatinya. Oleh karena itu, pemerintah kolonial membantu sekolah-sekolah, rumah sakit, dan organisasi-organisasi yang didirikan oleh misionaris. (hlm. 415–416) 6. Lihat Muhammad Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia, (Bandung: Diponegoro, 1969). Buku ini berisi tulisan-tulisan Natsir yang mengkritik kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang cenderung memberi bantuan dan perlindungan kepada misi Kristen. 8. Lihat Robert Delavignette, Christianity and Colonialism. Menurutnya, ada beberapa posisi agama Kristen dalam kolonisasi. Antara lain melakukan evangelisasi atau Kristenisasi dan pengajaran gereja 9. Lihat Stephen Neill, Colonialism and Christian Missions, (London: Lutterworth Press, 1966). Neill menyatakan bahwa kolonialisme cenderung ditafsirkan dalam istilah serangan. Serangan itu meliputi bidang politik, ekonomi, sosial, pemikiran, dan bentuk serangan yang paling berbahaya adalah serangan misi Kristen. (hlm. 12) 10. Lihat Katie Geneva Cannon, “Christian Imperialism and The Transatlantic Slave Trade”, dalam Journal of Feminist Studies in Religion, Volume 24, Number 1 (2008), hlm. 127–134. 11. Lihat Livingstone M. Huff, “The Crusader and Colonial Imperialism: Some Historical Considerations Concerning Christian-Muslim Interaction and Dialogue”, dalam Missiology; An International Review, Volume 32, Number 2 (April 2004), hlm. 141–148. Dalam artikel ini, Huff menyatakan bahwa imperialisme kolonial yang dilakukan oleh negara-negara Barat adalah salah satu aspek sejarah yang mempengaruhi dan membentuk kesalahpahaman antara orang Muslim dan orang Kristen. 12. Lihat Horst Gründer, “Christian Mission and Colonial Expansion-Historical and Structural Connections”, dalam Mission Studies, Volume 12, Number 1 (1995), hlm. 18–20. 13. Lihat Edward W. Said, Orientalisme, (Bandung: Pustaka, 2001), hlm. 131–132. Menurut Said, mengkolonisasi pada mulanya berarti identifikasi –bahkan penciptaan— kepentingan-kepentingan, yang bisa bersifat komersial, komunikasi, agama, militer ataupun budaya. Umpamanya, berkenaan dengan Islam dan kawasan-kawasan Islam, Inggris sebagai kekuatan Kristen merasa memiliki kepentingan-kepentingan legitimatis yang harus dilindungi. Beberapa organisasi misi berkembang untuk melindungi kepentingan-kepentingan tersebut. Misalnya: Baptist Missionary Society (1792), Church Missionary Society (1799), British and Foreign Bible Society (1804), dan London Society for Promoting Christianity Among the Jews (1808). Misi-misi ini terang-terangan ikut serta dalam ekspansi Eropa. 14. Joh. F. Snelleman, Encyclopædie van Nederlandsch-Indië, Jilid IV (Leiden: Martinus Nijhoff, 1905), hlm. 829. 15. W.B. Sidjabat, Panggilan Kita di Indonesia Dewasa Ini, (Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1964), hlm. 24. 16. Chris Hartono, “Kehadiran Zending di Zaman Kolonial Belanda; Suatu Tinjauan Historis-Teologis”, dalam F.W. Raintung (ed), Tahun Rahmat dan Kemerdekaan; Perenungan Perjalanan Lima Puluh Tahun Republik Indonesia, (Surakarta: Yayasan Bimbingan Kesejahteraan Sosial, 1995), hlm. 21. 17. Adolf Heuken SJ, Ensiklopedi Gereja, Jilid 5, (Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 2005), hlm. 10. 18. W.B. Sidjabat, Panggilan Kita, hlm. 16-17. Lihat juga Th. van den End, Ragi Carita 1; Sejarah Gereja di Indonesia 1500-1860, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), hlm. 19–20. 19. H. Berkhof, Sedjarah Geredja, Jilid II, (Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1952), hlm. 86. Lihat juga Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), hlm. 20–21. 20. Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, Jilid I, (Bandung: Salamadani, 2009), hlm. 158. 21. Bernard H. M. Vlekke, Nusantara; Sejarah Indonesia, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2008), hlm. 97. 22. Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat; Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, (Jakarta: Gema Insani Press, 2005), hlm. 372. 23. Maryam RL Lestaluhu, Sejarah Perlawanan Masyarakat Islam Terhadap Imperialisme di Daerah Maluku, (Bandung: Al-Ma’arif, 1988), hlm. 40–42. 24.H. Berkhof, Sedjarah Geredja, Jilid II, hlm. 86. 25. Alwi Shihab, Membendung Arus; Respons Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 31. www.eramuslim.com – BAGIAN 2 – Oleh: Muhammad Isa Anshory (Peneliti Pusat Studi dan Peradaban Islam) Selain di Maluku, Kristen Katolik juga menyebar di Nusa Tenggara Timur mulai tahun 1556 serta di Sulawesi Utara dan kepulauan Sangir-Talaud mulai tahun 1560-an. Akan tetapi, mereka gagal menyebarkan Kristen Katolik di wilayah barat Indonesia. Portugis sempat melakukan Kristenisasi di ujung timur pulau Jawa, tepatnya di Blambangan dan Panarukan pada 1585-1598. Mereka membaptis sejumlah orang, termasuk dari kalangan keluarga raja Blambangan. Pada akhir abad XVI, penyebaran Kristen Katolik berakhir ketika Blambangan diserang dan diislamkan dari jurusan Pasuruan dan Surabaya. [26] Semenjak itu, tidak ada komunitas Kristen di pulau Jawa hingga datang orang-orang Belanda dalam beberapa gelombang memasuki abad XVII. Pada 1595 orang-orang Belanda mulai datang ke Indonesia. Angkatan pertama ini segera disusul oleh beberapa angkatan berikutnya sehingga jumlah mereka semakin banyak. Tujuan kedatangan mereka itu adalah ikut serta berdagang. Untuk menyatukan orang-orang Belanda yang mengadakan pelayaran dan perdagangan di negeri seberang, pada 1602 dibentuklah organisasi dagang swasta yang bernama Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Selain mengejar keuntungan ekonomis dan ikut membangun imperium Belanda, VOC juga mempunyai tugas untuk menyebarkan agama Kristen. VOC mengatur dan menetapkan bahwa di kapal-kapal dan wilayah-wilayah yang mereka kuasai harus diselenggarakan pemeliharaan ruhani meskipun sangat sederhana. VOC juga harus memelihara orang-orang Kristen yang merupakan warisan Portugis di daerah-daerah yang baru saja ditaklukkannya. Selain itu, sebagai pemerintah Kristen, VOC mempunyai tugas untuk menyebarkan Kristen kepada penduduk-penduduk kafir dan Islam. [27] Sebagaimana Portugis yang mendapatkan mandat dari Paus Alexander VI untuk menyebarkan Kristen di daerah yang ditaklukkan, VOC juga mendapatkan mandat dari Gereja Protestan Belanda (Gereformeerde Kerk), yang waktu itu berstatus sebagai gereja negara, untuk menyebarkan Kristen, sesuai dengan isi pasal 36 Pengakuan Iman Belanda tahun 1561, yang antara lain berbunyi, “Juga jabatan itu (maksudnya tugas pemerintah) meliputi: mempertahankan pelayanan Gereja yang kudus, memberantas dan memusnahkan seluruh penyembahan berhala dan agama palsu, menjatuhkan kerajaan Anti-Kristus, dan berikhtiar supaya kerajaan Yesus Kristus berkembang.” [28] Akan tetapi, selama 200 tahun menguasai beberapa wilayah di Indonesia, pertumbuhan agama Kristen pada zaman VOC mempunyai hasil minim. VOC hanya memprioritaskan daerah-daerah bekas koloni Portugis dan Spanyol, seperti Maluku, Minahasa dan lainnya. Kegiatan para pendeta terbatas pada melayani orang-orang Eropa dan orang-orang pribumi yang telah masuk Kristen. Orang-orang Maluku yang sudah beragama Katolik dipaksa untuk berpindah ke Protestan aliran Calvinisme. [29] VOC lebih memedulikan keamanan keuntungan komersial yang diraih daripada mengonversikan orang-orang Indonesia. Upaya-upaya konversi terhadap pribumi, terutama di Jawa, dihindari karena mereka takut akan pengaruh negatifnya terhadap perolehan keuntungan ekonomi. [30] Setelah VOC runtuh pada 1799, Indonesia tidak lagi milik suatu badan perdagangan, tetapi menjadi wilayah jajahan negara Belanda. Sejak 1795, Belanda diduduki oleh tentara Perancis. Hal ini mendorong pemerintah Inggris menginvasi Jawa dan mengambil alih kekuasaan dari tangan pemerintah Belanda. Masa peralihan sementara ini berlangsung dari 1811 hingga 1816. Di bawah Thomas Stamford Raffles, Gubernur Inggris yang ditunjuk untuk memerintah di Indonesia, agama Kristen –khususnya Kristen Protestan– mulai bisa menghirup udara segar. Orang-orang Kristen Inggris memainkan peran menonjol dalam kerja-kerja misionaris, dan Masyarakat Misionaris London (London Missionary Society) kemudian mendirikan Gereja Baptis Inggris pertama di Batavia (kini Jakarta). [31] Dengan berakhirnya pelbagai perang yang disulut Napoleon, Indonesia kembali jatuh ke tangan pemerintah Belanda. Sejak saat itu dan selanjutnya, agama Kristen mulai mengakar di Indonesia. Memang pada abad XIX, misi Kristen Protestan kepada kaum Muslim mulai digalakkan secara serius dengan bangkitnya gerakan evangelis. [32] Sekembalinya pemerintah Belanda ke Indonesia pada 1816, Raja William I dari Belanda mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa para misionaris akan diutus ke Indonesia oleh pemerintah. Pada 1835 dan 1840, dekrit lain dikeluarkan yang menyatakan bahwa administrasi gereja di Hindia Belanda ditempatkan di bawah naungan Gubernur Jenderal pemerintah kolonial di Indonesia. Pada 1854, sebuah dekrit lain dikeluarkan, yang mencerminkan bahwa kedua badan di atas saling berkaitan. Dekrit itu menyebutkan bahwa administrasi gereja antara lain berfungsi mempertahankan doktrin agama Kristen. Oleh karena itu, sejumlah fasilitas diberikan kepada para misionaris, termasuk subsidi dan sumbangan finansial serta keringanan pajak. [33] Berbagai lembaga misionaris juga dibentuk dan berlomba-lomba mengembangkan agama Kristen di kalangan pribumi. Lembaga misionaris itu tidak hanya berasal dari negara Belanda, namun juga dari negara-negara Eropa lainnya. Menurut Stephen Neill, lembaga misionaris dari negara Eropa lain memang sengaja datang untuk membantu lembaga-lembaga misionaris Belanda. Pertimbangannya adalah karena Belanda negeri kecil, sedangkan Indonesia negeri yang sangat besar. Apabila Indonesia ingin dikristenkan, maka usaha ini tidak akan dapat dicapai oleh Belanda saja. [34] Di antara lembaga misionaris tersebut, misalnya, adalah sebagai berikut: – Nederlandsche Zendeling Genootschap (NZG). Dibentuk pada 1797 di Belanda. Organisasi ini menyebarkan Kristen di Tanah Karo (Sumatra Utara), Jawa Timur, Poso (Sulawesi Tengah), dan Bolaang Mongondow. – Nederlandsche Bijbelgenootschap. Dibentuk pada 1814. Organisasi ini menyebarkan dan menerjemahkan Bibel ke dalam berbagai macam bahasa di Indonesia. – Nederlandsche Zendings Vereeniging. Dibentuk pada 1858. Organisasi ini menyebarkan Kristen di kalangan kaum Muslim dan penganut agama suku di Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. – Het Rijnsche Zendingsgenootschap te Barmen. Dibentuk pada 1829. Organisasi ini menyebarkan Kristen di Tapanuli (Tanah Batak dan Nias), pulau Enggano, kepulauan Mentawai, Simalungun, dan Tanah Karo. – De Utrechtsche Zendingsvereeniging. Berdiri pada 1859 dan menyebarkan Kristen di Maluku. – De Indische Advent Gemeente menyebarkan Kristen kepada keturunan Cina di Jawa, Tapanuli, dan Ambon. – The Missionary Society of the Metodhist Episcopal Church menyebarkan Kristen di Palembang dan Sumatra Selatan. Penduduk pribumi yang masuk Kristen mendapatkan hak-hak istimewa dari pemerintah Hindia Belanda. Menurut Ketetapan Umum Perundang-undangan (Algemeene Bepaling van Wetgeving) tahun 1849, golongan Kristen termasuk kategori Eropa, sehingga penduduk pribumi yang beragama Kristen menikmati hak hukum yang sama dengan saudara-saudara mereka seagama dari kalangan bangsa Eropa. Walaupun posisi anak mas ini segera ditarik kembali dan peraturan pemerintah (Regeeringsreglement) tahun 1854 menempatkan posisi hukum mereka dalam kategori yang sama dengan penduduk pribumi lain pada umumnya, namun hal ini belum menghilangkan kenyataan bahwa penganut Kristen pada umumnya menikmati berbagai keuntungan dari pemerintah Belanda, umpamanya dalam mencari lapangan kerja serta dalam memperoleh kenaikan pangkat dalam pekerjaan mereka. Anak-anak mereka pun, dibandingkan dengan anak-anak orang Islam, mudah mendapat tempat di sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah. [35] Apabila para zendeling dan misionaris cukup berhasil mengkristenkan penduduk di daerah-daerah luar Jawa yang masih menganut agama primitif, namun tidak demikian halnya di Jawa. Meski mereka telah mengerahkan tenaga dan dana yang besar, namun hanya sedikit penduduk Jawa yang masuk Kristen. Perkembangan komunitas Kristen di Jawa sangat lambat. Pengaruh Islam sangat kuat di kalangan pribumi Jawa sehingga menjadi penghalang kokoh bagi upaya Kristenisasi. Dalam suratnya kepada Pengurus Pusat Nederlandsche Zendings Vereeniging pada 8 Mei 1863, D.J. van der Linden mengatakan, “Agama Islam di Pulau Jawa ini bukan seperti pohon yang tidak berbunga lagi. Bahkan sebaliknya, tahun demi tahun buahnya bertambah banyak. Orang Jawa masih merasa yakin bahwa agama Islam memenuhi kebutuhannya. Dia belum siap. Itulah sebab utama kurang berhasilnya perkabaran Injil di Pulau Jawa selama ini.” [36] Pernyataan serupa juga dikemukakan oleh Th. van den End, “Akhirnya, di daerah-daerah di luar Jawa pun waktu panen yang berlimpah tiba; kalau di Jawa Barat masa panen itu tidak kunjung datang. Yang demikian itu karena di sana beton adat, yang membuat masyarakat begitu tertutup, masih diperkuat lagi oleh besinya Islam.” [37] Pertarungan Identitas Agama Kristen bagi pribumi Muslim dipandang sebagai agama penjajah Belanda karena agama ini dianut, disebarkan ke kalangan pribumi, dan didukung oleh orang-orang Belanda. Maka dari itu, pribumi yang masuk agama Kristen bukan hanya dikucilkan dari lingkungannya, tetapi juga dianggap telah menjadi “Belanda” atau antek Belanda. Dengan demikian, rasa bangga berdasarkan kebangsaan akan terusik. [38] Pada masa itu Islam adalah identik dengan kebangsaan. [39] Pandangan ini muncul akibat kuatnya pengaruh Islam dalam diri penduduk pribumi. Bagi mereka, Islam berfungsi sebagai titik pusat identitas untuk melambangkan keterpisahan dari dan perlawanannya terhadap penguasa-penguasa Kristen dan asing. [40] Politik kolonial Belanda sesudah 1850 memang tidak hanya bermotif ekonomi, namun juga perluasan militer, pegawai, politik dan agama. [41] Dalam hal ini, kegiatan zending dan misi turut memperkokoh kekuasaan politik kolonial Belanda. Desa-desa Muslim menjadi benteng pertahanan yang kokoh untuk menjaga indentitas keislaman warganya dan melawan penyebaran agama Kristen. Dalam suratnya kepada Pengurus Pusat Nederlandsche Zendings Vereeniging pada 15 Desember 1884, J. Verhoeven menulis, Dengan memperhatikan pengalaman banyak teman, dan karena banyak bergaul di desa-desa kaum Muslimin di daerah pedalaman, saya menjadi yakin bahwa untuk sementara waktu tidak mungkin mengharapkan kaum penganut Kristus dapat tinggal sedesa bersama kaum penganut Muhammad. Belum lama berselang telah dikemukakan suatu contoh yang membuktikan bahwa susunan pemerintah desa serta keseluruhan tatanan hidup perekonomian dalam suatu desa Muslim merupakan suatu benteng pertahanan yang kokoh, yang untuk sementara waktu tak tertaklukkan, melawan penyebaran agama Kristen. Olehnya juga ditimbulkan keadaan yang menyebabkan setiap individu yang telah masuk Kristen hampir tidak mungkin tetap setia dan mencapai pertumbuhan rohani yang membuat kita dapat menyaksikan kehidupan jemaat yang sehat dan kuat. [42] Untuk menyelamatkan jemaat Kristen dari pengaruh Islam, sekaligus sebagai basis gerakan Kristenisasi, maka didirikanlah desa-desa Kristen. Beberapa desa Kristen di Jawa antara lain adalah Mojowarno di Jombang, Pangharepan di Sukabumi, Cideres di Majalengka, dan Palalongan di dataran Cihea di Priangan. Sebagaimana desa kaum Muslim yang berfungsi sebagai benteng pertahanan terhadap identitas keislaman warganya, desa Kristen juga diharapkan bisa berfungsi sebagai benteng pertahanan terhadap identitas kekristenan warganya. Mengenai harapannya di Mojowarno, A. Kruyt mengatakan, Maka kami berikhtiar untuk di Mojowarno membentuk jemaat inti yang sungguh sehat. Melalui inti ini, kami berupaya untuk mempengaruhi masyarakat Islam di sekitar kita, seperti halnya ragi meragi tepung terigu tiga sukat. Apabila waktu yang ditetapkan Allah sudah tiba, maka orang banyak, bahkan para pembesar pun, akan datang kepada Tuhan, lalu pulau Jawa ini akan memasuki masa yang serba indah dan serba gemilang. [43] Sementara itu, J. Verhoeven menjelaskan alasan keinginannya mendirikan desa Kristen sebagai berikut: 1. Agar orang-orang yang sudah dibawa masuk ke dalam jemaat dapat tetap menjadi anggota, dengan melepaskan mereka dari ikatan yang menghimpit mereka jika terpaksa tetap menjadi warga desa Muslim, dan memindahkan mereka ke dalam lingkungan dimana Roh Kudus dapat berkuasa untuk menyegarkan hati sanubari, keluarga, serta lingkungan mereka. 2. Agar kaum Kristen bumiputra tidak lagi harus tunduk kepada pemerintahan desa yang antara lain beranggotakan tokoh-tokoh yang harus kita pandang sebagai musuh wajar orang-orang Kristen, dan juga agar mereka akan dapat menjauhi oknum-oknum yang keberadaannya merusak bagi kaum muda dan kaum tua pula. 3. Agar mereka dapat sungguh-sungguh tumbuh sebagai jemaat; agar dapat diadakan pengaruh yang baik terhadap pendidikan anak-anak warga jemaat, dan agar dengan demikian kaum muda dan kaum dewasa dapat bertumbuh dalam takwa terhadap Tuhan. 4. Agar dalam melakukan usaha pertanian dan usaha pencarian halal lainnya, dapat diusahakan kerja sama dan jiwa gotong royong yang diperlukan, agar tangan-tangan yang rajin dapat menghasilkan lebih daripada hanya kebutuhan yang paling pokok saja, serta juga agar lama-lama jemaat ini dapat berswadaya dalam memenuhi segala kebutuhannya, termasuk alat-alat dan barang keperluan sekolah, yang kini masih menjadi tanggungan utusan Injil atau perhimpunan yang mengutusnya, ataupun sama sekali tidak dapat diperolehnya. 5. Agar kami (para zendeling) dapat menunjukkan dengan lebih tegas kepada kaum Muslim di sekitar kami –kami sungguh-sungguh ingin hidup dalam kedamaian dan kerukunan dengan mereka—bahwa kaum Kristen merupakan sahabat-sahabat mereka, dan bahwa agama Kristen menginginkan kesejahteraan sejati untuk semua bangsa 6. Agar Zending Injili paling sedikit mengupayakan, agar dalam lingkungan desa-desa Kristen disediakan lapangan, dimana pihak pemerintah dengan berangsur-angsur akan dapat melaksanakan “pembaruan-pembaruan” yang dibutuhkan oleh kaum bumiputra Kristen kami, yang dikehendaki pemerintah, namun dianggap “belum sampai masanya”. [44] Masalah identitas merupakan masalah penting. Identitas menjadi faktor pemersatu. Selama Islam masih menjadi identitas penduduk pribumi, sulit untuk mengharapkan mereka masuk Kristen. Agaknya hal ini disadari oleh sebagian misionaris maupun zendeling. Oleh karena itu, mereka tidak hanya mendirikan desa-desa Kristen, namun juga berusaha memisahkan identitas keislaman dari penduduk pribumi. Strategi ini terutama dilakukan di Jawa pada abad XX, seperti yang akan dibicarakan nanti. (Bersambung) Catatan Kaki 26. Th. Muller Kruger, Sedjarah Geredja di Indonesia, (Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1959), hlm. 25. Lihat juga Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan, hlm. 44. 27. Th. Muller Kruger, Sedjarah Geredja di Indonesia, hlm. 31. 28. Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan, hlm 49–50. 29. C. Guillot, Kiai Sadrach; Riwayat Kristenisasi di Jawa, (Jakarta: Grafiti, 1985), hlm. 4-5. 30. Alwi Shihab, Membendung Arus; Respons Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 33. 31. Ibid, hlm. 35. 32. Jane I. Smith, “Christian Missionary Views of Islam in The Nineteenth and Twentieth Centuries”, dalam Islam and Christian-Muslim Relations, Volume 9, Number 3 (Oktober 1998), hlm. 357. 33. Alwi Shihab, Membendung Arus, hlm. 39–40. Lihat juga H. Berkhof, Sedjarah Geredja, Jilid II, hlm. 160 34. Stephen Neill, Colonialism and Christian Missions, hlm. 188. 35. Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942, (Jakarta: LP3ES, 1996), hlm.9–10. 36. Th. van den End, Sumber-Sumber Zending Tentang Sejarah Gereja di Jawa Barat 1858–1963, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), hlm. 100. 37. Th. van den End, Ragi Carita 2; Sejarah Gereja di Indonesia 1860-an–Sekarang, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), hlm. 223. 38. Th. van den End, Sumber-Sumber Zending, hlm. 100. 39. Deliar Noer, Gerakan Modern Islam., hlm. 8. 40. Harry J. Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit; Islam Indonesia Pada Masa Pendudukan Jepang, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1980), hlm. 32. 41. Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional; Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme, Jilid II, (Jakarta: Gramedia, 1999), hlm. 5. 42. Th. van den End, Sumber-Sumber Zending, hlm.219. 43.Th. van den End, Ragi Carita 2, hlm.250. 44. Th. van den End, Sumber-Sumber Zending, hlm.221–222. www.eramuslim.com – BAGIAN 3 – Oleh Muhammad Isa Anshory – (Peneliti Pusat Studi dan Peradaban Islam) Politik Etis dan Politik Kristenisasi Politik etis merupakan reaksi terhadap politik liberal (1870-1900). Masa politik liberal merupakan masa eksploitasi Indonesia oleh perusahaan-perusahaan swasta setelah dihentikannya sistem tanam paksa (cultuurstelsel) secara bertahap. Pengejaran untung oleh para pengusaha swasta Eropa menyebabkan perekonomian pribumi porak poranda. Maka dari itu, muncullah kritikan dan kecaman terhadap penerapan politik liberal di kalangan orang Belanda. Pada 1888, P. Brooshooft, redaksi surat kabar di Semarang, De Locomotief, menuntut pemerintah Belanda agar memperbaiki keadaan pribumi di Hindia Timur dan memberi otonomi lokal yang lebih besar. [46] Sebuah kritikan datang dari Mr. Conrad Th. van Deventer pada 1899 melalui artikelnya “Een eereschuld” (Utang Budi) di majalah ternama “De Gids”. Senada dengan P. Brooshooft, van Deventer menuntut pemerintah membayar budi atas dana berjuta-juta dari keuntungan sistem tanam paksa. Jumlah yang harus dikembalikan sekitar 187 juta gulden. Uang ini dipergunakan untuk memperbaiki sistem pendidikan dan kepentingan publik lainnya. [47] Sementara itu di Negeri Belanda sendiri, tuntutan untuk meninggalkan politik eksploitasi semakin kuat. Semua partai memberi tekanan pada politik kolonial yang didasarkan pada suatu kewajiban moril dan diarahkan pada perbaikan nasib penduduk pribumi. Partai Liberal yang menguasai politik selama lima puluh tahun terakhir telah keluar dari kekuatan politik. Koalisi partai agama (Partai Roma Katolik, Partai Anti-Revolusioner, dan Partai Kristen Historis) dan kelompok kanan berhasil memenangkan pertarungan politik dan menetapkan untuk kembali pada prinsip-prinsip Kristen dalam pemerintahan. [48] Tiga partai agama tersebut memiliki program yang banyak menitikberatkan pada agama, kerja bebas, dan kewajiban moral dari negeri induk. Mereka menuntut supaya Hindia Belanda dibuka untuk kegiatan misi, juga menuntut dukungan pemerintah kolonial terhadap kegiatan-kegiatan itu. Kedudukan legal agama dan orang-orang Kristen harus diatur dengan undang-undang. [49] Partai Anti-Revolusioner, di antaranya, menyebutkan programnya: Pengkristenan Nusantara tetap merupakan panggilan rakyat Kristen Eropa (Belanda), yang jika ditinjau dari segi kenegaraan maupun kemasyarakatan adalah juga sangat penting. Maka dari itu, pemerintah kolonial harus memberikan kebebasan yang seluas-luasnya dan tunjangan keuangan dalam melakukan pendidikan dan perawatan (misi). [50] Partai agama juga menentang eksploitasi ekonomi dan finansial, terutama penggunaan uang-uang Hindia untuk kepentingan negeri Belanda. Politik eksploitasi perlu diganti dengan politik kewajiban etis, atau poltik sosial. Selain itu, mereka menuntut agar diberikan perhatian lebih banyak kepada kepentingan penduduk. [51] Politik ekspansi yang dijalankan secara keras juga ditentang oleh kaum agama. Mereka menegaskan bahwa kaum Nasrani tidak diperbolehkan memiliki daerah jajahan, kewajibannya ialah mendatangkan peradaban dan agama Kristen. Dalam prakteknya perubahan politik kolonial hanya merupakan eksploitasi untuk perbendaharaan Belanda menjadi eksploitasi untuk kepentingan sosial, baik Belanda maupun asing. [52] Oleh karena latar belakang tadi, akhirnya pada September 1901 Ratu Wihelmina menyampaikan pidato tahunan kerajaan, Sebagai bangsa Kristen, Belanda mempunyai kewajiban untuk memperbaiki keadaan orang-orang Kristen pribumi di daerah kepulauan Hindia (Indonesia), memberikan bantuan lebih banyak kepada kegiatan zending Kristen, dan memberikan penerangan kepada segenap petugas bahwa Belanda mempunyai kewajiban moral terhadap penduduk wilayah itu. [53] Pidato Ratu Wihelmina ini dianggap sebagai pertanda dimulainya politik etis di Indonesia yang jelas sekali memperlihatkan semangat Kristen. Memang, sebagaimana dikemukakan oleh Sartono Kartodirdjo, politik kolonial Belanda pada abad XX tidak hanya terbentuk oleh kristianisme, tetapi juga liberalisme dan humaniterisme. [54] Namun demikian, “warna Kristen” tetap mendominasi dalam politik etis, terlebih dengan duduknya beberapa tokoh partai agama dalam pemerintahan di Hindia Belanda, yang dengan terus terang mendukung Kristenisasi. Atas nama “kewajiban moral bagi orang Belanda untuk mengangkat derajat penduduk pribumi”, gerakan penyebaran agama Kristen mendapatkan dukungan pemerintah karena dianggap sejalan dengan misi pengadaban (civilizing mission). Istilah “politik etis” di kalangan sejarawan mempunyai sekian banyak batasan, penanggalan, dan tafsiran. Elsbeth Locher-Scholten menyimpulkan bahwa politik etis bisa diartikan sebagai kebijakan yang bertujuan melebarkan kekuasaan nyata Belanda atas seluruh wilayah kepulauan Indonesia serta mengembangkan negeri dan bangsa wilayah ini menuju pemerintahan sendiri di bawah pimpinan Belanda dan menurut model Barat. Berakhirnya politik etis dianggap terjadi pada 1910, 1912, 1920, 1927, 1930 ataupun 1942. Nama politik etis itu sendiri diberikan oleh para pelopor yang menginginkan kebijakan kolonial yang baru. Mereka berasal dari golongan partai-partai agama, sosialis, dan liberal progresif (vrijzinnig-democratish). [55] Pada 1900-an, kata “etis” merupakan kata yang sedang musim. Istilah “politik etis” merupakan bagian dari mentalitas tertentu yang mencolok di berbagai bidang dan mengungkapkan mentalitas itu. Kesadaran moral yang meningkat ini pada satu segi merupakan sebab meningkatnya Calvinisme sesudah tahun 1870, yang memang dari dulu sarat muatan moral. Dari segi lain, kesadaran ini berakar dalam kelompok yang pada waktu yang sama meninggalkan Calvinisme. Pada masa meningkatnya sekulerisasi, etika atau ilmu kesusilaan merupakan endapan kepercayaan lama yang sangat dihargai. Di dalam aliran baru yang banyak muncul, yang bervariasi dari sosialime sampai teosofi, etika ini bisa memberikan pegangan hidup yang baru. Perjuangan melawan kepincangan sosial pada akhir abad XIX menguatkan kesadaran akan moral ini. Di samping itu, pergeseran dari karya amal individual (gerakan kebangunan Protestan Réveil) kepada bentuk organisasi yang lebih besar ikut mendorong kepekaan kesadaran moral. Dapatlah dikatakan bahwa “keadaan kurang sejahtera” sebagai varian kolonial “permasalahan sosial” justru menggugat kesadaran etis ini. [56] Untuk meningkatkan kemakmuran pribumi, pemerintah Hindia Belanda menyebutkan tiga prinsip politik etis, yaitu: educatie, emigratie, irrigratie (pendidikan, perpindahan penduduk, pengairan). Namun dalam pelaksanaannya, ketiga prinsip ini tidak dapat dilepaskan dari upaya mempertahankan penjajahan. Mereka beranggapan bahwa apabila Indonesia merdeka, segalanya akan hilang. [57] Tujuan kaum penganjur politik etis bukanlah kemerdekaan Indonesia, melainkan kerja sama antara dua golongan yang setaraf dalam rangka suatu Hindia Belanda yang tetap bergabung dengan negeri Belanda di Eropa. Hanya sedikit sekali orang Belanda yang berpikir lebih jauh, yaitu yang mencita-citakan suatu Indonesia yang sungguh-sungguh merdeka. [58] Kerstening-politiek (politik pengkristenan) merupakan bagian tidak terpisahkan dari politik etis. Cita-cita dan tujuan yang termuat dalam politik etis berjalan sejajar dengan politik Kristen sehingga kaum etisi mendapat sokongan penuh dari partai-partai agama di negeri Belanda. [59] Mereka yang diangkat sebagai pelaksana politik etis setelah pidato kerajaan tahun 1901 adalah orang-orang yang dikenal loyal terhadap Kristenisasi, seperti Abraham Kuyper dan Alexander Willem Frederik Idenburg. Abraham Kuyper diangkat sebagai Perdana Menteri pada 1901. Alexander Willem Frederik Idenburg diangkat sebagai Menteri Urusan Penjajahan (1902—1909) dan selanjutnya sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda (1909—1916). Abraham Kuyper sejak 1879 telah mengkritik kecenderungan kebijakan pemerintah Belanda yang mengeksploitasi Hindia (Indonesia) demi kas negara Belanda atau kas para pengusaha swasta Belanda. Dia mengusulkan agar kebijakan itu diganti dengan kebijakan yang berkesusilaan. Untuk itu, harus ada upaya menjalankan pemerintahan Hindia demi kepentingan Hindia. Menurut Kuyper, pemerintahan Hindia demi Hindia itu berarti: pemisahan urusan keuangan Hindia dari keuangan negeri Belanda, tidak ada westernisasi yang dipaksakan tetapi Kristenisasi dijalankan, pemerintahan yang adil, kerja bebas dan perluasan berangsur-angsur kedaulatan atas “tanah milik Kerajaan di luar Jawa”. [60] Dalam gagasan “Hindia demi Hindia”, Belanda tetap menjadi wali atas Hindia. Konsep perwalian Belanda atas Hindia ini, menurut Kuyper, adalah memberi pendidikan kesusilaan yang diartikan dengan mengkristenkan, mengelola milik pihak yang di bawah perwalian dengan seksama demi kepentingannya, dan memungkinkan bagi pihak tersebut posisi yang mandiri di masa depan, jika Tuhan menghendakinya. [61] Alexander Willem Frederik Idenburg juga dikenal konsisten melakukan kerstening-politiek. Ketika pada 1909 dia diangkat sebagai gubernur jenderal di Bogor, para pegawai pemerintahan kolonial heran karena Gubernur Jenderal ini adalah orang yang taat pergi ke gereja. Dia bahkan disebut sebagai “orang Kristen pertama di atas Tahta Buitenzorg (Bogor)”. [62] Idenburg berpendapat bahwa satu-satunya jalan untuk melanjutkan penjajahan adalah pengkristenan. Meminjam kata Robert E. Speer, Idenburg menyatakan, Pilihan untuk Dunia Islam bukanlah Muhammad dan Kristus. Bukan pula Muhammad atau Kristus. Tetapi, hanya Kristus. Kristus atau hancur dan mati. Islam (penyerahan kepada Tuhan) yang sebenarnya adalah menyerah kepada Kristus. Barulah boleh hidup dan bebas. Idenburg kemudian membela secara panjang lebar keuntungan-keuntungan bagi pemerintah Belanda bila rakyat telah dikristenkan. Rakyat dengan demikian tidak akan mau dipisahkan lagi dengan pemerintah Belanda, seperti dikatakannya, Kebenaran cita Kristen dapat dibuktikan dalam praktek. Rakyat Hindia Belanda dimana agama Kristen telah berakar (Minahasa, Maluku, Batak) meskipun mengenal aspirasi nasional, tetapi mereka umumnya merasa ada ikatan kokoh dengan pemerintah Belanda dan tidak menghendaki pemecahan masalahnya di luar pemerintah Belanda. [63] Dengan demikian, “kewajiban moral untuk mengangkat derajat penduduk pribumi” dalam prakteknya adalah upaya untuk membaratkan (mensekulerkan) dan mengkristenkan penduduk pribumi. Memang Barat tidak selalu berarti Kristen, namun nilai-nilai dan semangat Kristen tidak bisa dilepaskan dari worldview Barat. Itulah makanya meski beberapa individu yang duduk dalam pemerintahan Hindia Belanda dianggap sebagai orang yang liberal dan moderat, namun kecenderungan untuk mendukung Kristen dan Kristenisasi dalam menghadapi Islam tidak bisa dihindarkan. [64] Kristen dipandang sebagai agama yang berperadaban tinggi, sedangkan Islam dipandang sebagai agama yang berperadaban rendah. Belanda menganggap bahwa perluasan kontrol politik atas suatu daerah akan mendatangkan keamanan dan ketertiban yang unggul mempunyai kewajiban untuk menyebarkan kekayaan peradabannya ke bangsa lain. Perkembangan dan tersebarnya kegiatan misi Kristen ada hubungan erat dengan doktrin peradaban itu. [65] (bersambung) Catatan Kaki 46. Robert van Niel, Munculnya Elit Modern Indonesia, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1984), hlm. 20. 47. Bernard H.M. Vlekke, Nusantara, hlm. 732. 48. Robert van Niel, Munculnya Elit Modern Indonesia, hlm. 51. 49. Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru, Jilid II, hlm. 31. 50. O. Hashem, Menaklukkan Dunia Islam, (Surabaya: YAPI, 1968), hlm. 26. 51.Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia, Jilid V, (Jakarta: Balai Pustaka, 1993), hlm. 28. 52. Ibid, hlm. 31. 53. O. Hashem, Menaklukkan Dunia Islam, hlm. 25. 54. Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru, Jilid II, hlm. 5. 55. Elsbeth Locher-Scholten, Etika Yang Berkeping-Keping; Lima Telaah Kajian Aliran Etis Dalam Politik Kolonial 1877–1942, (Jakarta: Djambatan, 1996), hlm. 239 dan 270. 56. Ibid, hlm. 242. 57. Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, Jilid I, hlm. 302. 58. Th. van den End, Ragi Carita 2, hlm. 7. 59. Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia, Jilid V, hlm. 77. 60. Elsbeth Locher-Scholten, Etika Yang Berkeping-Keping, hlm. 246. 61. Ibid, hlm. 248. 62. Karel A. Steenbrink, Mencari Tuhan Dengan Kacamata Barat; Kajian Kritis Mengenai Agama di Indonesia, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988), hlm. 239. 63. O. Hashem, Menaklukkan Dunia Islam, hlm. 26—27. 64. Mr. J.P. Graaf van Limburg Stirum dikenal sebagai orang yang liberal. Dalam suatu diskusi Indisch Genootschap pada 31 Maret 1891, dia menyatakan, ”Zending Kristen merupakan rekan sepersekutuan bagi pemerintah kolonial, sehingga pemerintah akan membantu menghadapi setiap rintangan yang menghambat perluasan zending.” Ternyatakemudian dia diangkat sebagai Gubernur Jenderal sejak 1916 sampai dengan 1921. Lihat H. Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, (Jakarta: LP3ES, 1996), hlm. 26. 65. Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia, Jilid V, hlm. 40. www.eramuslim.com – BAGIAN 4 – Oleh: Muhammad Isa Anshory(Peneliti Pusat Studi dan Peradaban Islam) Kristenisasi Meningkat Pengaruh politik etis terhadap peningkatan kegiatan misi Kristen sangat besar. Pidato Ratu Wihelmina pada 1901 lebih merupakan penegasan sikap terhadap kebijakan mendukung Kristenisasi yang telah berjalan sebelumnya, namun dilaksanakan secara kurang jelas atau pun secara lebih berhati-hati. Arus Kristenisasi terus berkembang dan mencapai puncaknya ketika Abraham Kuyper, pemimpin Partai Kristen Anti-Revolusioner, menduduki kursi Perdana Menteri Belanda pada 1901. Selama masa itu, banyak anggota Parlemen Belanda menuntut agar pemerintah membatasi pengaruh Islam di Indonesia. Van Baylant, misalnya, sambil memperingatkan pemerintah akan seriusnya bahaya penyebaran Islam, serta merta menuntut ditingkatkannya kegiatan misi Kristen. Sementara itu, W.H. Bogat meluncurkan kampanye anti-Islam yang keras dan menuduh agama ini sebagai penyebab “kurang bermoralnya masyarakat”. [66] Diangkatnya Idenburg sebagai Menteri Urusan Penjajahan (1902—1909) dan selanjutnya sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda (1909—1916) juga turut mempengaruhi arus Kristenisasi. Setelah tahun 1909, kelompok misi Kristen dengan cepat meluaskan kegiatan mereka di kepulauan Indonesia. Misi-misi yang beroperasi dalam ruang lingkup yang luas untuk pembangunan kesejahteraan dan ekonomi di tengah bangsa Indonesia mendapat bantuan dari negara. Pembatasan jumlah dan tempat misi dihapuskan sehingga daerah baru di kepulauan ini pun terbuka bagi kegiatan misi Kristen. [67] Idenburg menjadikan Kristenisasi sebagai tugas politik utama pemerintahannya. Di hadapan Tweede Kamer, dia mengucapkan, “Penyebaran agama Kristen di Hindia Belanda sebagai dasar peradaban yang tinggi adalah tugas politik utama.” [68] Pemerintah kolonial mencoba untuk melanjutkan pokok-pokok ajaran Kristen di dalam pelaksanaan tugas sehari-hari dan tata pemerintahan Hindia Belanda. Sebagai contoh ialah “Edaran Minggu” atau “Edaran Pasar”, keduanya diterbitkan oleh Gubernur Jenderal Idenburg pada 1910. “Edaran Minggu” memberi sugesti bahwa tidak pantas untuk mengadakan pesta kenegaraan pada hari Minggu dan terutama meminta kepada seluruh administratur dan pegawai sipil untuk menghindari kegiatan-kegiatan resmi atau setengah resmi pada hari Minggu. “Edaran Pasar” melarang diadakannya hari pasar orang Indonesia apabila ini jatuh pada hari Minggu. Hal ini agak sering terjadi karena hari pasar orang Jawa berlangsung dalam lingkaran lima hari, bukan tujuh hari. [69] Selain mendapat bantuan dari negara, peningkatan Kristenisasi pada masa politik etis juga karena adanya perubahan strategi. Apabila dalam abad XIX umumnya strategi zending Protestan maupun misi Katolik masih diarahkan pada Kristenisasi langsung, tetapi dalam abad ke XX strategi ini diganti. Kegiatan mereka tidak dimulai dengan mengabarkan intisari agama Kristen, tetapi dimulai dengan mendirikan sekolah dan rumah sakit, rumah yatim piatu dan beberapa kegiatan sosial lainnya. Melalui kegiatan di bidang pendidikan dan kesehatan itu, zending sanggup memikat hati orang yang masih bersikap menolak terhadap Kristenisasi secara langsung. Di samping itu, sebagian para zendeling yakin bahwa sekolah perlu untuk menuntun orang masuk ke dalam lingkungan peradaban Barat (Kristen) sehingga mereka dapat memahami pemberitaan agama Kristen. Dinas medis tentu dilihat pula sebagai pelayanan Kristen kepada sesama manusia yang sedang menderita sengsara. [70] Melalui Kristenisasi tidak langsung ini, akhirnya diharapkan dapat diperoleh penganut yang lebih besar. Strategi ini disebut pre-evangelisation, yaitu suatu usaha yang perlu diadakan untuk mempersiapkan daerah supaya siap menerima pesan dan intisari dari agama Kristen. [71] Meski membutuhkan biaya besar dan waktu lama, Kristenisasi lewat pendidikan berhasil mengkonversi banyak pribumi Muslim. Sebagai contoh adalah sekolah yang didirikan oleh Frans van Lith di Muntilan Magelang Jawa Tengah. Di desa kecil Semampir dia mendirikan sebuah sekolah desa dan sebuah bangunan gereja. Saat itulah dia memulai kompleks persekolahan Katolik di Muntilan, mulai dari Normaalschool pada 1900, sekolah guru berbahasa Belanda atau Kweekschool pada 1904, kemudian pendidikan guru-guru kepala pada 1906. Anak-anak lelaki yang masuk sekolah ini semuanya Muslim. Akan tetapi, mereka semua tamat sebagai orang Katolik. Beberapa dari kelompok siswa pertama bahkan melanjutkan studi mereka untuk menjadi imam. [72] Teman van Lith, Hoevenaars, juga menempuh cara serupa. Dia membangun berbagai sekolah di Mendut dan mengumpulkan para murid yang masih belia. Para guru sekolah tersebut semuanya beragama Katolik, namun para muridnya seluruhnya berasal dari keluarga Muslim. Sebagaimana misionaris lainnya, Hoevenaars berpikir bahwa agama Islam yang mereka anut hanyalah kepatuhan superfisial atau nominal sehingga tidak akan menghalangi para murid untuk berpindah ke agama Katolik. [73] Mantan murid sekolah-sekolah Muntilan dan Mendut kebanyakan menjadi guru pada jejaring sekolah-sekolah dasar Katolik yang dikembangkan dengan cepat di berbagai kota dan kampung di Jawa. Para guru itu kemudian berupaya menghasilkan jemaat-jemaat Katolik baru. [74] Strategi lain dalam menyebarkan agama Kristen di Jawa pada dekade pertama abad XX adalah penyesuaian ajaran Kristen dengan budaya Jawa. Strategi ini terutama ditempuh oleh kalangan Yesuit atau malah misi Katolik pada umumnya. Agama Islam harus dipisahkan dengan budaya Jawa, setidak-tidaknya dalam teori dan juga dalam praktek sejauh hal itu dimungkinkan. Semua konfrontasi langsung dengan agama Islam mesti dihindari. Dalam strategi ini, penyangkalan atas jati diri Muslim Jawa atau setidak-tidaknya peremehan atas unsur Muslim dalam budaya Jawa tetap merupakan sebuah faktor yang kuat. [75] Untuk itulah di sekolah Muntilan, penggunaan bahasa Melayu dihindari sejauh mungkin. Sebab, bahasa Melayu identik dengan bahasa kaum Muslim. Penggunaan bahasa Melayu dikhawatirkan akan menyiratkan dukungan terhadap agama Islam. Imam Yesuit Frans van Lith mengatakan, Dua bahasa di sekolah-sekolah dasar (yaitu bahasa Jawa dan Belanda) adalah batasannya. Bahasa ketiga hanya mungkin bila kedua bahasa yang lain dianggap tidak memadai. Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa pertama di Nusantara. [76] Dengan bantuan pemerintah kolonial dan strategi pre-evangelisation, kegiatan misi Kristen di Jawa meningkat tajam pada masa politik etis. Walaupun orang Kristen tetap terbilang sebagai minoritas kecil, namun jumlah pribumi Muslim Jawa, terutama di Jawa Tengah, yang murtad ke agama Kristen cukup besar. [77] Mengutip kesimpulan seorang anggota muda Yesuit, Karel A. Steenbrink mengatakan, “Barangkali tidak ada wilayah misi lain di seantero dunia dimana imam pribumi dikembangkan sedemikian cepat dan berhasil seperti di Jawa Tengah.” [78] Total populasi penduduk Pulau Jawa pada 1906 adalah 28.746.688 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 24.270.600 adalah Muslim. Lapangan yang sangat luas dan sulit ini digarap oleh enam lembaga zending. [79] C. Albers, Jr. dan J. Verhoeven, Sr. melaporkan pada tahun tersebut bahwa pengaruh Islam menjadi rintangan berat bagi para zendeling dan misionaris. Akan tetapi, berkat bantuan medis dan penyelenggaraan sekolah, mereka berhasil mengkonversi pribumi Muslim ke agama Kristen. Menurut statistik terakhir, di Pulau Jawa terdapat sekitar 18.000 Muslim dan 2.000 orang kafir dari Cina dan bangsa Timur lainnya yang telah dikonversi ke Kristen. Jumlah Muslim yang murtad ke Kristen tersebut setiap tahunnya bertambah antara 300–400 orang dewasa. [80] Mereka mayoritas berasal dari kelas masyarakat kurang mampu. Hampir semua posisi jabatan dan kepercayaan dalam pemerintahan pribumi tertutup untuk orang Kristen pribumi. [81] Pada 1924, Samuel M. Zwemer menyatakan bahwa jumlah Muslim di Jawa dan Sumatra yang murtad ke Kristen tidak kurang dari 45.000 orang. [82]. [bersambung] Catatan Kaki 66. Alwi Shihab, Membendung Arus, hlm. 148. 67. Robert van Niel, Munculnya Elit Modern Indonesia, hlm. 116. 68. O. Hashem, Menaklukkan Dunia Islam, hlm. 27. 69. Robert van Niel, Munculnya Elit Modern Indonesia, hlm. 117. 70. Th. van den End, Ragi Carita 2, hlm. 301. 71. Karel A. Steenbrink, Mencari Tuhan Dengan Kacamata Barat, hlm. 244. 72. Karel A. Steenbrink, Orang-Orang Katolik di Indonesia 1808–1942; Suatu Pemulihan Bersahaja 1808–1903, Jilid I, (Maumere: Ledalero, 2006), hlm.384. 73. Karel A. Steenbrink, Orang-Orang Katolik di Indonesia, Jilid II, hlm. 627–629. 74. Ibid, hlm. 640. 75. Ibid, hlm. 686. 76. Ibid, hlm. 726. 77. Ibid, hlm. 664. 78. Ibid, hlm. 637. 79. Samuel M. Zwemer, Islam; A Challenge to Faith, (New York: Student Volunteer Movement for Foreign. Missions, 1907), hlm. 206. 80. C. Albers, Jr. dan J. Verhoeven, Sr. “Islam in Java” dalam Samuel M. Zwemer et. al (ed), The Mohammedan World of To Day. (New York: The Young People’s Missionary Movement, 1906), hlm. 237. 81. Ibid, hlm. 238. 82 Samuel M. Zwemer, The Law of Apostasy in Islam, (New York: Marshall Brothers Ltd, 1924), hlm. 15

Jumat, 28 Juli 2017

Mengapa Saya?

Mengapa Saya? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Arthur Ashe adalah petenis hitam dari amerika yg pertama kali merebut gelar grandslam. Gelar yg di menangkan US open( 1968), Australia open (1970) dan wimbledon (1975).

Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yg mengharuskannya menjalani operasi by pass.

Setelah 2 kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus mengalami kenyataan pahit, terinfeksi Virus HIV melalui tranfusi darah yg ia terima.

Seorang penggemarnya menulis surat kepadanya, "Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?"

Arthur menjawab: "Di dunia ini ada 50 juta anak yg ingin bermain tenis, diantaranya:

* 5 juta orang yg bisa belajar bermain tenis

* 500 ribu orang belajar menjadi pemain tenis profesional

* 50 ribu orang datang ke arena untuk bertanding

* 5000 orang mencapai turnamen Grand Slam

* 50 orang berhasil sampai ke Wimbledon

* 4 orang di semifinal

* 2 orang di final

<
... baca selengkapnya di Mengapa Saya? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

SURAH AL BAQARAH full by ABDULRAHMAN AL SUDAIS

SURAH AL KAHF (full) recited by Abdulrahman Al Sudais

Sabtu, 15 Juli 2017

Gerakan 30 September 1965/PKI (G30SPKI)


- Dimasa demokrasi terpimpin, PKI memperoleh kesempatan yang besar untuk meraih cita-citanya. PKI bercita-cita mengubah negara kesatuan yang berdasarkan Pancasila dengan negara yang berideologi komunis. D.N Aidit sebagai pimpinan PKI mendukung konsep demokrasi terpimpin yang berporoskan Nasionalis, Agama, dan Komunis (NASAKOM). A. Tahap Persiapan. PKI melakukan berbagai kegiatan untuk memperoleh simpati dan dukungan luas dari pemerintah dan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan antara lain: 1. Mengirim Sukarelawan dalam konfrontasi dengan Malaysia. 2. Melakukan "Aksi Sepihak" tahun 1963, terutama di Jawa, Bali, dan Sumatera Utara dengan membagikan tanah kepada petani. 3. Melakukan demonstrasi, menuntut kenaikan upah di pabrik-pabrik, perusahaan, dan perkebunan. 4. Memberikan latihan politik dan militer kepada anggota pemuda rakyat dan gerwani. PKI akhirnya menuntut pemerintah agar membentuk angkatan ke-5 yang terdiri dari dari buruh, petani, dan nelayan yang dipersenjatai. 5. Menghancurkan lawan politiknya dengan jalan mendukung pemerintah untuk membubarkan Masyumi, Murba, Manikebu (Manifesto Kebudayaan) 6. Menyebakan isu tentang adanya Dewan Jendral dalam Angkatan Darat yang akan mengambil alih kekuasaan secara paksa dengan bantuan Amerika Serikat. Tuduhan ini dibantah oleh Angkatan Darat. Sebaliknya, Angkatan Darat menuduh PKI yang akan melakukan kudeta. B. Tahap Pelaksanaan Berita tentang semakin memburuknya kesehatan Presiden Soekarno menimbulkan ketegangan di kalangan pemimpin politik nasional. Ketegangan ini mencapai puncaknya pada pemberontakan tanggal 30 September 1965 terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap para perwira Angkatan Darat yang dipimpin langsung oleh Letkol Untung (Komandan Batalyon I Cakrabirawa). Operasi itu dibantu oleh satu Batalyon dari Divisi Diponegoro, satu Batalyon dari Divisi Brawijaya dan orang sipil dari pemuda rakyat. Para perwira tinggi yang diculik dan dibunuh adalah: 1, Letnan Jendral Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat) 2. Mayor Jendral R.Suprapto (Deputi II Pangad) 3. Mayor Jendral S.Parman (Deputi III Pangad) 4. Brigadir Jendral D.I Panjaitan (Asisten IV Pangad) 5. Brigadir Jendral Sutoyo Siswomihardjo (Inspektur Kehakiman/ Oditur Jendral Angkatan Darat). Jendral A.H Nasution yang menjadi sasaran utama penculikan berhasil meloloskan diri. Akan tetapi, Ade Irma Suryani (Putrinya) tewas tertembak para penculik. Sementara itu Letnan Satu Piere A. Tendean (ajudan Jendral Nasution) menjadi sasaran penculikan. Aksi penculikan juga menewaskan Brigadir Polisi Karel Satsuit Tubun (pengawal rumah Wakil Perdana Menteri II Dr. J, Leimena). Rumah J Leimena berdampingan dengan Rumah A.H Nasution. PKI Sudah menguasai Studio RRI Pusat dan gedung telekomunikasi. Melalui RRI, pada tanggal 1 Oktober 1965, Letkol Untung menyiarkan pengumuman tentang Gerakan 30 September yang ditunjukan kepada jendral- jendral anggota Dewan Jendral yang akan melakukan kudeta (perebutan kekuasaan). Presiden Soekarno berangakat menuju Bandara Halim Perdana Kusuma. Presiden Soekarno segera mengeluarkan perintah agar seluruh rakyat Indonesia tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaaan serta memelihara kesatuan dan persatuan bangsa Sementara itu di Yogyakarta, pemberontak G30S/PKI yang dipimpin Mayor Mulyono menculik Kolonel Katamso (Komandan Korem 072) dan Letkol Sugiyono (kepala Staf). Kedua perwira itu dibunuh di asrama Batalyon L di Desa Keuntungan (di luar kota Yogyakarta. C. Menumpas Gerakan 30 September 1965/PKI Operasi Penumpasan G 30S/PKI dilancarkan pada tanggal 1 Oktober 1965. Mayor Jendral Soeharto yang menjabat panglima Komando Strategis Angkatan darat (Kostrad) mengambil alih komando Angkatan Darat karena menteri panglima Angkatan Darat (Letjend Ahmad Yani) belum diketahui nasibnya. Panglima Kostrad memimpin operasi penumpasan terhadap G30S/PKI dengan menghimpun pasukan lain, termasuk Divisi Siliwangi, Kavaleri, dan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhi Wibowo. Studio RRI Pusat, gedung besar telekomunikasi dapat direbut kembali. Operasi diarahkan ke Halim Perdana Kusuma. Halim Perdana Kusuma dapat dikuasai pasukan yang dipimpin oleh Kolonel Sarwo Edhi Wibowo pada tanggal 2 Oktober 1965. Karena tidak ada dukungan dari masyarakat dan angggota angkatan bersenjata lainnya, para pemimpin dan tokoh pendukung G30S/PKI termasuk pemimpin D.N Aidit melarikan diri. Atas petunjuk Sukitman (seorang polisi), diktahui bahwa perwira-perwira Angkatan Darat yang diculik dan dibunuh telah dikuburkan/ditanam di Lubang Buaya. Pada Tanggal 3 Oktober 1965, ditemukan mukan tempat kuburan para jendral itu. Pengambilan jenazah dilakukan pada tanggal 4 Oktober 1965 oleh RKPAD dan Marinir/ Seluruh Jendral korban G30S/PKI dibawa ke Rumah sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto untuk dibersihkan dan disemayamkan di Markas Besar Angkatan Darat. Keesokan harinya bertepatan dengan hari ulang tahun ABRI, 5 Oktober 1965 para jenazah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Mereka diberi gelar pahlawan Revolusi. Untuk mengikis habis sisa-sisa G30S/PKI dilakukan operasi-operasi penumpasan, Yakni: 1. Operasi Merapi di Jawa Tengah dilakukan RPKAD dipimpin oleh Kolonel Sarwo Edhi Wibowo 2. Operasi Trisula di Blitar Selatan dilakukan Kodam VIII/Brawijaya yang dipimpin oleh Mayjen M.Yasin dan Kolonel Witarmin 3. Operasi Kikis di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dengan adanya operasi-operasi diatas, para pemimpin/tokoh-tokh PKI dapat ditangkap sekaligus ditembak mati. Operasi penumpasan itu mengakibatkan kekuatan PKI dapat dilumpuhkan. Dalam rangka menyelesaikan Gerakan 30 September, pada tanggal 6 Oktober 1965 Presiden Soekarno mengadakan sidang paripurna Kabinet Dwikora. Dalam sidang tersebut Presiden Soekarno menyatakan sikapnya demikian: "Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi, Bung Karno menandaskan bahwa mengutuk pembunuh-pembunuh buas yang dilakukan oleh petualang-petualang kontra revolusi dari apa yang menanamkan Dewan Revolusi. Hanya saya yang bisa mendemisioner kabinet dan bukan orang lain". D. Kesatuan aksi dalam menumbangkan Orde Lama. Aksi yang dilakukan oleh Gerakan 30 September segera mendapat perlawanan dan reaksi keras dari masyarakat yang menemukan bukti keterlibatan PKI dalam gerakan tersebut. Akhir Oktober 1965, Persatuan aksi yang di bentuk para Mahasiswa, Pelajar dan berbagai organisasi lainnya menuntut pemerintah untuk membubarkan PKI dan Organisasi pendukungnya. Pemerintah tidak segera menanggapi tuntutan masyarakat dan Nasakom tetap dijadikan prinsip kegiatan politik nasional. Kesatuan aksi pada tanggal 26 Oktober 1965 membentu satu Front, yaitu "Front Pancasila". Gelombang demonstrasi menuntut dibubarkannya PKI di berbagai daerah, Hal itu menjurus ke arah konflik politik yang mengakibatkan korban jiwa yang besar didalam masyarakat, terutama di Jawa, Bali dan Sumatera Utara. Pada tanggal 10 Januari 1966, kesatuan aksi yang tergabung dalam "Front Pancasila" melakukan demonstrasi di muka gedung DPR-GR. Mereka mengajukan tiga tuntutan hati nurani rakyat yang dikenal dengan nama "Tritura" (Tiga Tuntutan Rakyat). Isi Tritura adalah: 1. Bubarkan PKI 2. Bersihkan Kabinet dari unsur-unsur G30S/PKI 3. Turunkan Harga Barang Aksi Menetang PKI ditunjukan saat pelantikan anggota kabinet Dwikora yang disempurnakan pada tanggal 24 Februari 1966. Para demonstran menggelar aksi untuk menggagalkan persemian kabinet. Dalam bentrokan di depan Istana Merdeka, seorang mahasiswa yang bernama Arief Rachman Hakim gugur terkena tembakan resimen Cakrabirawa. Pada tanggal 25 Maret 1966, Presiden Soekarno membubarkan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI)

kekejaman PKI pkc atheis cina komunis


Cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI) berawal dari kedatangan sejumlah tokoh komunis Belanda pada tahun 1913. Salah satu tokoh komunis Belanda Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet kemudian mendirikan organisasi ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging) pada tahun 1914. Saat itu kondisi Indonesia masih dalam penjajahan Belanda. Tokoh komunis Belanda ingin mengubah pemerintahan kapitalis Belanda menjadi komunis. Mereka melakukan berbagai upaya untuk mengganggu stabilitas politik Hindia Belanda. Sementara itu, organisasi ISDV didukung penuh dan didanai oleh Uni Soviet. Sneevliet mencoba menyebarkan pengaruhnya, namun kurang diterima oleh masyarakat karena paham mereka dinilai tidak sesuai dengan kultur Indonesia. Sehingga mereka melancarkan misi penyusupan ke dalam tubuh Sarekat Islam (SI) yang telah lebih dulu mengakar kuat di masyarakat. Mereka berhasil mempengaruhi tokoh-tokoh muda SI seperti Semaoen, Darsono, Tan Malaka, dan Alimin Prawirodirdjo. Hal ini menyebabkan SI pecah menjadi “SI Putih” yang dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto dan “SI Merah” yang dipimpin Semaoen. SI merah berlandaskan asas sosialisme-komunisme. Melalui pengaruhnya dalam tubuh SI, ISDV mengalami perkembangan yang cukup pesat. Semaoen yang juga memimpin ISDV berhasil meningkatkan anggotanya dari 1700 orang pada tahun 1916 menjadi 20.000 orang pada tahun 1917 di sela-sela kesibukannya sebagai Ketua SI merah di Semarang. Tahun 1917, tokoh-tokoh komunis yang tergabung dalam ISDV menghasut buruh dan petani yang sudah menjadi anggota untuk membakar perkebunan dan perkantoran Belanda. Para tokoh tersebut ditangkap dan dikembalikan ke Belanda. Adapun para buruh dan petani yang tertangkap dihukum mati, dipenjara, disiksa, dikerjapaksakan oleh Hindia Belanda. Tujuan pembakaran bukan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, tapi untuk mengganggu stabilitas pemerintahan kapitalis Hindia Belanda yang ingin mereka ubah menjadi pemerintahan komunis. Setelah para tokohnya dipulangkan ke Belanda, ISDV tidak dibubarkan. Pengurusnya diganti. Pada tahun 1920 ISDV diganti menjadi PKH (Perserikatan Komunis Hindia Belanda). PKH dipimpin oleh Semaoen dan Darsono. PKH adalah partai komunis pertama di Asia yang menjadi bagian dari Komunis Internasional. Sneevliet mewakili partai ini pada kongres kedua Komunis Internasional pada 1920. Pembentukan Partai Komunis Indonesia Berdasarkan Konferensi Komunis di Moskow, Uni Soviet menuntut pendirian partai komunis di seantero dunia dalam rangka merebut kekuasaan. Merujuk hasil konferensi tersebut, Tahun 1926 di Semarang PKH berubah nama menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia) dipimpin oleh Muso dan Alimin. Pemberontakan PKI 1926 Desember 1925 di Prambanan, Yogyakarta diadakan pertemuan partai yang dipimpin oleh Alimin untuk merencanakan pemberontakan. Pertemuan itu dihadiri sejumlah tokoh-tokoh PKI dari Jawa dan Sumatra Barat. Pada November 1926, PKI memimpin pemberontakan melawan pemerintahan kolonial di Jawa Barat dan Sumatra Barat. Perkebunan dibakar, stasiun dan terminal diserbu bukan dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hal ini dilakukan untuk mengubah pemerintahan kapitalis Belanda menjadi pemerintahan komunis di bawah kendali Uni Soviet. Akibat kerusuhan ini para pimpinan PKI dibuang dan mendapatkan suaka politik ke Uni Soviet. Akan tetapi, kader-kader partai yang terdiri dari para petani dan buruh yang terlibat kerusuhan sebanyak 13.000 orang dibuang ke Boven Digul, sebuah kampung tahanan di Papua. Ratusan petani dan buruh disiksa, dibunuh, digantung di jalan-jalan oleh Belanda. Tahun 1927 PKI dinyatakan terlarang oleh pemerintahan Belanda. Setelah pelarangan itu, PKI menata kembali gerakannya di bawah tanah. Tahun 1935, Muso dan beberapa pimpinan PKI lainnya kembali ke Indonesia, namun tidak tinggal lama. Mereka bergerilya untuk menghimpun kembali mantan anggota PKI. Mereka membentuk gerakan bawah tanah. Kemudian mereka kembali lagi ke Uni Soviet dan mengatur gerakan bawah tanah tersebut dari Uni Soviet. Pemberontakan PKI 1945-1946 Pada Oktober 1945, PKI membentuk suatu gerakan bawah tanah dengan kedok organisasi kepemudaan API (Angkatan Pemuda Indonesia) dan AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia). Di pertengahan Oktober, AMRI di Slawi, Tegal, mulai melancarkan aksi teror, yang dilanjutkan dengan aksi penangkapan dan pembunuhan sejumlah pejabat pemerintah di Tegal. Sementara di Serang, Banten,terjadi perebutan pemerintahan Keresidenan Banten oleh Tokoh Komunis Banten Ce’ Mamat yang terpilih sebagai Ketua KNI (Komite Nasional Indonesia) dan membentuk DPRS (Dewan Pemerintahan Rakyat Serang). Disusul keberhasilan laskar Ubel-Ubel yang dipimpin Tokoh Komunis Tangerang, Ahmad Khoirun dalam mengambil alih kekuasaan pemerintahan Tangerang dari Bupati Agus Padmanegara. Kemudian PKI menampakan diri secara terbuka pada 21 Oktober 1945. PKI mulai unjuk gigi dengan melancarkan serangan dan mengambil alih kekuasaan di daerah-daerah. Pada 4 November 1945, API dan AMRI menyerbu Kantor Pemda Tegal dan Markas TKR (Tentara Keamanan Rakyat), tapi gagal. Lalu membentuk Gabungan Badan Perjuangan Tiga Daerah untuk merebut kekuasaan di Keresidenan Pekalongan yang meliputi Brebes, Tegal serta Pemalang. Selanjutnya, pada Desember 1945, PKI Banten pimpinan Ce’ Mamat menculik dan membunuh Bupati Lebak, R. Hardiwinangun, di Jembatan Sungai Cimancak. Sementara, Ubel-Ubel Mauk yang dinamakan Laskar Hitam di bawah pimpinan Usman membunuh Tokoh Nasional Oto Iskandar Dinata. Pada Februari 1946, Kota Cirebon tidak luput dari pemberontakan PKI Cirebon di bawah pimpinan Mr.Yoesoef dan Mr.Soeprapto. Namun, pemberontakan digagalkan oleh TRI (Tentara Republik Indonesia). Kota Cirebon berhasil direbut kembali. Pada Maret 1946, Istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura, Sumatera, diserbu oleh pasukan PKI. Sultan Langkat bersama keluarganya dibunuh dan hartanya dijarah. Pada tahun 1947, kader PKI Amir Syarifuddin Harahap berhasil jadi Perdana Menteri Republik Indonesia dan membentuk kabinet. Pemberontakan PKI 1948 Pada 11 Agustus 1948 Musso (pemimpin PKI tahun 1920-an) tiba di Yogyakarta dari Unisoviet menggalang kekuatan kembali. Ditambah lagi partai-partai dalam tubuh FDR (Front Demokrasi Rakyat) bentukan Amir Syarifuddin (Perdana Menteri kedua di Indonesia) menyatakan bersatu dengan PKI. Sebelumnya pada Januari – Desember 1947, Amir Syarifuddin memasukkan kader-kader PKI ke Legislatif, Eksekutif, pegawai negeri sipil, pegawai negeri militer, menjadi komandan-komandan tentara dan polisi. Setelah itu, mereka meningkatkan aksi teror, mengadu domba kesatuan-kesatuan TNI dan menjelek-jelekan kepemimpinan Soekarno-Hatta. Puncak aksi PKI adalah pemberontakan terhadap RI pada 18 September 1948 di Madiun, Jawa Timur. Tujuan pemberontakan itu adalah meruntuhkan negara RI dan menggantinya dengan negara komunis. Dalam aksi ini beberapa pejabat, perwira TNI, pimpinan partai, alim ulama dan rakyat yang dianggap musuh dibunuh dengan kejam. Tindakan kekejaman ini membuat rakyat marah dan mengutuk PKI. Tokoh-tokoh pejuang dan pasukan TNI memang sedang menghadapi Belanda, tetapi pemerintah RI mampu bertindak cepat. Panglima Besar Soedirman memerintahkan Kolonel Gatot Subroto di Jawa Tengah dan Kolonel Sungkono di Jawa Timur untuk menjalankan operasi penumpasan pemberontakan PKI. Pada 30 September 1948, Madiun dapat diduduki kembali oleh TNI dan polisi. Dalam operasi ini Muso berhasil ditembak mati sedangkan Amir Syarifuddin dan tokoh-tokoh lainnya ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Berikut ini gambaran situasi mencekam dan mengerikan dalam peristiwa berdarah pemberontakan PKI tahun 1948 yang dipaparkan panjang oleh Oleh Agus Sunyoto, peneliti sejarah peristiwa Madiun 1948 yang diterbitkan dalam buku berjudul “LUBANG-LUBANG PEMBANTAIAN: GERAKAN MAKAR FDR/PKI 1948 DI MADIUN” (1990). Kebiadaban PKI Madiun 1948 Terhadap Ulama NU Tanggal 18 September 1948 pagi sebelum terbit fajar, sekitar 1500 orang pasukan FDR/PKI – 700 orang diantaranya dari Kesatuan Pesindo pimpinan Mayor Pandjang Djoko Prijono – bergerak ke pusat Kota Madiun. Kesatuan CPM, TNI, Polisi, aparat pemerintahan sipil terkejut ketika diserang mendadak. Terjadi perlawanan singkat di markas TNI, kantor CPM, kantor Polisi. Pasukan Pesindo bergerak cepat menguasai tempat-tempat strategis di Madiun. Saat fajar terbit, Madiun sudah jatuh ke tangan FDR/PKI. Sekitar 350 orang ditahan. KEBERHASILAN FDR/PKI menguasai Madiun disusul terjadinya aksi penjarahan, penangkapan sewenang-wenang terhadap musuh PKI, menembak musuh PKI, kegemparan dan kepanikan pun pecah di kalangan penduduk, diiringi tindakan-tindakan bersifat fasisme yang berlangsung dengan mengerikan. Semua pimpinan Masyumi dan PNI ditangkap atau dibunuh. Orang-orang berpakaian Warok Ponorogo dengan senjata revolver dan kelewang menembak atau menyembelih orang-orang yang dianggap musuh PKI. Mayat-mayat bergelimpangan di sepanjang jalan. Bendera merah putih dirobek diganti bendera merah berlambang palu arit. Potret Soekarno diganti potret Moeso. Seorang wartawan Sin Po yang berada di Madiun, menuliskan detik-detik ketika PKI pamer kekejaman itu dalam reportase yang diberi judul: ‘Kekedjeman kaoem Communist; Golongan Masjoemi menderita paling heibat; Bangsa Tionghoa “ketjipratan” djoega. Pada detik, menit dan jam yang hampir sama, di Kota Magetan sekitar 1.000 orang pasukan FDR/PKI – 700 orang diantaranya dari Kesatuan Pesindo pimpinan Mayor Moersjid — bergerak cepat menyerbu Kabupaten, kantor Komando Distrik Militer (Kodim), Kantor Onder Distrik Militer (Koramil), Kantor Resort Polisi, rumah kepala pengadilan, dan kantor pemerintahan sipil di Magetan. Sama dengan penyerangan mendadak di Madiun, setelah menguasai Kota Magetan dan menawan Bupati, Patih, Sekretaris Kabupaten, Jaksa, Ketua Pengadilan, Kapolres, komandan Kodim, dan aparat Kabupaten Magetan, terjadi aksi penangkapan terhadap tokoh-tokoh Masyumi dan PNI di kampung-kampung, pesantren-pesantren, desa-desa, pabrik gula, diikuti penjarahan, penyiksaan, dan bahkan pembunuhan. Wartawan Gadis Rasid yang menyaksikan pembantaian massal di Gorang-gareng, Magetan, menulis reportase tentang kebiadaban FDR/PKI tersebut. Pembunuhan, perampokan dan penangkapan yang dilakukan FDR/PKI itu diberitakan surat kabar Merdeka 1 November 1948. Meski tidak sama dengan aksi serangan di Madiun dan Magetan yang sukses mengambil alih pemerintahan, serangan mendadak yang sama pada pagi hari tanggal 18 September 1948 itu dilakukan oleh pasukan FDR/PKI di Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, Purwodadi, Kudus, Pati, Blora, Rembang, Cepu. Sama dengan di Madiun dan Magetan, aksi serangan FDR/PKI meninggalkan jejak pembantaian massal terhadap musuh-musuh mereka. Antropolog Amerika, Robert Jay, yang ke Jawa Tengah tahun 1953 mencatat bagaimana PKI melenyapkan tidak hanya pejabat pemerintah, tapi juga penduduk, terutama ulama-ulama ortodoks, santri dan mereka yang dikenal karena kesalehannya kepada Islam: mereka itu ditembak, dibakar sampai mati, atau dicincang-cincang. Mesjid dan madrasah dibakar, bahkan ulama dan santri-santrinya dikunci di dalam madrasah, lalu madrasahnya dibakar. Tentu mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena ulama itu orang-orang tua yang sudah ubanan, orang-orang dan anak-anak laki-laki yang baik yang tidak melawan. Setelah itu, rumah-rumah pemeluk Islam dirampok dan dirusak. Tindakan kejam FDR/PKI selama menjalankan aksi kudeta itu menyulut amarah Presiden Soekarno yang mengecam tindakan tersebut dalam pidato yang berisi seruan bagi “rakyat Indonesia untuk menentukan nasib sendiri dengan memilih: ikut Muso dengan PKI-nya yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesia merdeka-atau ikut Soekarno-Hatta, yang Insya Allah dengan bantuan Tuhan akan memimpin Negara Republik Indonesia ke Indonesia yang merdeka, tidak dijajah oleh negara apa pun juga. Presiden Soekarno menyeru agar rakyat membantu alat pemerintah untuk memberantas semua pemberontakan dan mengembalikan pemerintahan yang sah di daerah. Madiun harus lekas di tangan kita kembali.” Seruan Presiden Soekarno disambut oleh Menteri Hamengkubuwono yang disusul sambutan Menteri Soekiman dan Jenderal Soedirman yang membacakan surat keputusan pengangkatan Mayor Jenderal Soengkono sebagai panglima militer Jawa Timur. Tanggal 23 September 1948 Menteri Agama KH Masjkoer mengucapkan pidato radio yang tegas menyebutkan bahwa tindakan merebut kekuasaan bertentangan dengan agama dan sama seperti perbuatan permusuhan orang-orang yang pro Belanda. Dengan janji-janji palsu rakyat dipengaruhi, dibujuk, dihasut, dipaksa dan dijadikan tameng oleh PKI Moeso. Pidato Menteri Agama KH Masjkoer yang menyatakan bahwa rakyat dipengaruhi, dibujuk, dihasut, dipaksa dan dijadikan tameng oleh PKI Moeso tidak mengada-ada. Itu bukti sewaktu pidato Presiden Soekarno dicetak sebagai selebaran yang disebarkan kepada penduduk melalui pesawat terbang. Seketika – usai membaca selebaran berisi pidato Presiden Soekarno – penduduk yang dipersenjatai oleh PKI beramai-ramai meletakkan senjata. Mereka duduk di trotoar jalan dalam keadaan bingung. Mereka terkejut dan bingung sewaktu sadar bahwa gerakan yang mereka lakukan itu ternyata ditujukan untuk melawan Presiden Soekarno. Mereka pun mulai bertanya-tanya tentang siapa sejatinya Moeso yang mengaku pemimpin rakyat itu. Sejarah mencatat, bahwa antara tanggal 18 – 21 September 1948 gerakan makar FDR/PKI yang dilakukan dengan sangat cepat itu tidak bisa dimaknai lain kecuali sebagai pemberontakan. Sebab dalam tempo hanya tiga hari, FDR/PKI telah membunuh pejabat-pejabat negara baik sipil maupun militer, tokoh masyarakat, tokoh politik, tokoh pendidikan, bahkan tokoh agama. Dengan kekejaman khas kaum komunis – seperti kelak dipraktekkan lagi di Kampuchea selama rezim Pol Pot berkuasa — bagian terbesar dari mayat-mayat yang dibunuh dengan sangat kejam oleh FDR/PKI itu dimasukkan ke dalam sumur-sumur “neraka” secara tumpuk-menumpuk dan tumpang-tindih. Sebagian lagi di antara tawanan FDR/PKI ditembak di “Ladang Pembantaian” di Pabrik Gula Gorang-gareng maupun di Alas Tuwa. Setelah gerakan makar FDR/PKI berhasil ditumpas oleh TNI yang dibantu masyarakat, awal Januari tahun 1950 sumur-sumur “neraka” yang digunakan FDR/PKI mengubur korban-korban kekejaman mereka dibongkar oleh pemerintah. Berpuluh-puluh ribu masyarakat dari Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo, Trenggalek berdatangan menyaksikan pembongkaran sumur-sumur “neraka”. Mereka bukan sekedar melihat peristiwa langka itu, kebanyakan mereka mencari anggota keluarganya yang diculik PKI. Diantara sumur-sumur “neraka” yang dibongkar itu, informasinya diketahui justru berdasar pengakuan orang-orang PKI sendiri. Dalam proses pembongkaran sumur-sumur “neraka” itu terdapat tujuh lokasi ditambah dua lokasi pembantaian di Magetan, yaitu: 1. sumur “neraka” Desa Dijenan, Kec.Ngadirejo, Kab.Magetan; 2. Sumur “neraka” I Desa Soco, Kec.Bendo, Kab.Magetan; 3. Sumur “neraka” II Desa Soco, Kec.Bendo, Kab,Magetan; 4. Sumur “neraka” Desa Cigrok, Kec.Kenongomulyo, Kab.Magetan, 5. Sumur “neraka” Desa Pojok, Kec.Kawedanan, Kab.Magetan; 6. Sumur “neraka” Desa Batokan, Kec.Banjarejo, Kab.Magetan; 7. Sumur “neraka” Desa Bogem, Kec.Kawedanan, Kab.Magetan; dan dua lokasi killing fields yang digunakan FDR/PKI membantai musuh-musuhnya, yaitu ruang kantor dan halaman Pabrik Gula Gorang-gareng dan Alas Tuwa di dekat Desa Geni Langit di Magetan. Fakta kekejaman FDR/PKI dalam gerakan pemberontakan tahun 1948 disaksikan puluhan ribu warga masyarakat yang menonton pembongkaran sumur-sumur “neraka” itu, yang setelah diidentifikasi diperoleh sejumlah nama pejabat pemerintahan sipil maupun TNI, ulama, tokoh Masjoemi, tokoh PNI, Polisi, Camat, Kepala Desa, bahkan Guru. Berikut daftar sebagian nama-nama korban kekejaman FDR/PKI tahun 1948 yang diperoleh dari pembongkaran sumur “neraka” Soco I dan sumur “neraka” Soco II, yang terletak di Desa Soco, Kec. Bendo, Kab.Magetan: SUMUR “NERAKA” SOCO I: 1. Soehoed, camat Magetan; 2. R. Moerti, Kepala Pengadilan Magetan; 3. Mas Ngabehi Soedibyo, Bupati Magetan; 4. R. Soebianto; 5. R. Soekardono, Patih Magetan; 6. Soebirin; 7. Imam Hadi; 8. R. Joedo Koesoemo; 9. Soemardji; 10. Soetjipto; 11. Iskak; 12. Soelaiman; 13. Hadi Soewirjo; 14. Soedjak; 15. Soetedjo; 16. Soekadi; 17. Imam Soedjono; 18. Pamoedji; 19. Soerat Atim; 20. Hardjo Roedino; 21. Mahardjono; 22. Soerjawan; 23. Oemar Danoes; 24. Mochammad Samsoeri; 25. Soemono; 26. Karyadi; 27. Soerdradjat; 28. Bambang Joewono; 29. Soepaijo; 30. Marsaid; 31. Soebargi; 32. Soejadijo. 33. Ridwan; 34. Marto Ngoetomo; 35. Hadji Afandi; 36. Hadji Soewignjo; 37. Hadji Doelah; 38. Amat Is; 39. Hadji Soewignyo; 40. Sakidi; 41. Nyonya Sakidi; 42. Sarman; 43. Soemokidjan; 44. Irawan; 45. Soemarno; 46. Marni; 47. Kaslan; 48. Soetokarijo; 49. Kasan Redjo; 50. Soeparno; 51. Soekar; 52. Samidi; 53. Soebandi; 54. Raden Noto Amidjojo; 55. Soekoen; 56. Pangat B; 57. Soeparno; 58. Soetojo; 59. Sarman; 60. Moekiman; 61. Soekiman; 62. Pangat/Hardjo; 63. Sarkoen B; 64. Sarkoen A; 65. Kasan Diwirjo; 66. Moeanan; 67. Haroen; 68. Ismail. ada sekitar 40 mayat tidak dikenali karena bukan warga Magetan. SUMUR “NERAKA” SOCO II: 1. R. Ismaiadi, Kepala Resort Polisi Magetan; 2. R.Doerjat, Inspektur Polisi Magetan; 3. Kasianto, anggota Polri; 4. Soebianto, anggota Polri; 5. Kholis, anggota Polri; 6. Soekir, anggota Polri; 7. Bamudji, Pembantu Sekretaris BTT; 8. Oemar Damos, Kepala Jawatan Penerangan Magetan; 9. Rofingi Tjiptomartono, Wedana Magetan; 10. Bani, APP. Upas; 11. Soemingan, APP.Upas; 12. Baidowi; 13. Naib Bendo; 14. Reso Siswojo; 15. Kusnandar, Guru; 16. Soejoedono, Adm PG Rejosari; 17. Kjai Imam Mursjid Muttaqin, Mursyid Tarikat Syattariyah Pesantren Takeran; 18. Kjai Zoebair; 19. Kjai Malik; 20. Kjai Noeroen; 21. Kjai Moch. Noor.” Tindak kebiadaban FDR/PKI selama melakukan aksi makarnya tahun 1948 yang disaksikan puluhan ribu penduduk laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak yang menonton pengangkatan jenazah para korban dari sumur-sumur “neraka” yang tersebar di Magetan dan Madiun, adalah rekaman peristiwa yang tidak akan terlupakan. Peristiwa pembongkaran sumur-sumur “neraka” itu telah memunculkan asumsi abadi dalam ingatan bawah sadar masyarakat bahwa PKI memiliki hubungan erat dengan pembunuhan manusia yang dimasukkan ke dalam sumur “neraka”. Itu sebabnya, ketika tanggal 1 Oktober 1965 tersiar kabar para jenderal TNI AD diculik PKI dan kemudian ditemukan sudah menjadi mayat di dalam sumur “neraka” Lubang Buaya di dekat Halim, amarah masyarakat seketika meledak terhadap PKI, termasuk di lingkungan aktivis Gerakan Pemuda Ansor yang sejak 1964 membentuk Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di berbagai daerah yang dilatih kemiliteran karena memenuhi keinginan Presiden Soekarno membentuk kekuatan sukarelawan untuk mengganyang Malaysia, di mana anggota Banser yang emosinya tak terkendali – terutama setelah tewasnya 155 orang anggota Ansor Banyuwangi yang dibunuh PKI – dimanfaatkan oleh pihak militer untuk bersama-sama menumpas kekuatan PKI yang telah membunuh para jenderal mereka. Pemberontakan PKI 1965 Pada 1950, PKI mulai bangkit kembali ditandai dengan kegiatan penerbitannya untuk melancarkan propaganda mereka melalui Harian Rakjat dan Bintang Merah. Kepemimpinan PKI diisi oleh tokoh-tokoh muda diantaranya, DN Aidit, Sudisman, Lukman, Njoto dan Sakirman. Pada Pemilu 1955, PKI menjadi partai terbesar ke-empat di Indonesia. Memasuki tahun 1960-an, posisi PKI semakin kuat dengan diterimanya ide Nasakom (Nasionalis, Agama, dan Komunis) yang digagas oleh Soekarno. Kuatnya kedudukan PKI disebabkan oleh kerjasama yang semakin erat dengan Soekarno, unsur-unsur ABRI yang dipengaruhi maupun berideologi komunisme, persiapan di daerah basis pedesaan dengan basis pokok daerah antara Gunung Merapi dan Merbabu, yakni segitiga Solo-Boyolali-Klaten, perhitungan cukup kuatnya kekuatan bersenjata PKI, serta kemungkinan berakhirnya peranan politik Presiden Sukarno sehubungan dengan kesehatannya, dan perhitungan lain seperti dukungan dari Komunisme Internasional, antara lain RRC. Pada periode ini memang komunisme di berbagai belahan dunia mulai menancapkan kekuasaannya, terutama di RRC dan Vietnam. PKI terus melancarkan propaganda, agitasi (hasutan), pelecehan agama, dan fitnah kepada kelompok yang anti komunis, khususnya umat Islam. Sehingga atas desakan PKI, Soekarno membubarkan Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia) pada 17 Agustuts 1960 dengan dalih tuduhan keterlibatan Masyumi dalam pemberontakan PRRI, padahal hanya karena anti Nasakom. Pada bulan Maret 1962, pentolan PKI DN Aidit dan Nyoto resmi masuk dalam pemerintahan Soekarno, diangkat menjadi Menteri Penasehat. Pada tahun 1963, atas desakan PKI akhirnya Soekarno membubarkan GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia) karena anti Komunis. Tak hanya itu di tahun yang sama, terjadi Penangkapan Tokoh-Tokoh Masyumi dan GPII serta Ulama Anti PKI, antara lain : KH. Buya Hamka, KH.Yunan Helmi Nasution, KH. Isa Anshari, KH. Mukhtar Ghazali, KH. EZ. Muttaqien, KH. Soleh Iskandar, KH. Ghazali Sahlan dan KH. Dalari Umar. Pada bulan Desember 1964, Chaerul Saleh Pimpinan Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak) yang didirikan oleh mantan Pimpinan PKI, Tan Malaka, menyatakan bahwa PKI sedang menyiapkan kudeta. Akibatnya, sekali lagi atas desakan PKI, Soekarno membekukan Partai Murba dengan dalih telah memfitnah PKI. Kemudian, Partai tersebut dibubarkan pada tahun 1965 karena dianggap musuh oleh PKI. Pada bulan puasa di tahun 1965, Training Centre Pelajar Islam Indonesia (PII) di Kanigoro Kediri diserbu oleh orang-orang PKI bersenjata tajam. Para penyerbu beralasan bahwa pengajar pada training itu adalah anggota partai terlarang (Masyumi). Para pelajar yang masih muda itu kemudian digiring keluar oleh orang-orang PKI yang berjumlah besar, sambil dihina dan diolok-olok. Tidak cukup sampai di situ, kitab suci Al Qur’an yang ada dimasukkan ke dalam karung kemudian disepak-sepak dengan kaki. Upaya untuk memberangus organisasi keagamaan dari kalangan Islam juga nampak dari tuntutan pembubaran Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Serikat Buruh Islam Indonesia (SBII), yang menurut PKI keduanya mempunyai hubungan genealogis dengan Masyumi. Di Surabaya juga terjadi insiden yang dikenal dengan Insiden Bangkuning. Bangkuning adalah sebuah kampung yang terletak agak ke dalam, dari Jalan Raya Darmo, Surabaya. Di sana ada sebuah masjid kuno peninggalan Raden Rahmat yang lebih dikenal dengan nama Sunan Ampel. Suatu hari, sekelompok Pemuda Rakyat dan Gerwani (ormas PKI) tiba-tiba menyerbu Masjid Bangkuning, masuk ke dalamnya, menginjak-injak dengan kaki dan sepatu berlumpur, menari-nari sambil menyanyikan lagu genjer-genjer. Kemudian menguasai masjid tersebut dan menjadikannya sebagai markas kegiatan mereka. Perbuatan ini kemudian memicu amarah umat Islam, yang kemudian menyebabkan Banser mengambil alih masjid tersebut. Pelecehan dan penodaan agama dilakukan secara intensif dan terus menerus oleh PKI. Lobi intensif yang dilakukan Menteri Agama Saifuddin Zuhri kepada Bung Karno akhirnya menghasilkan Penpres No. 1 tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan Penodaan Agama. Pada 30 September 1965, PKI melakukan pemberontakan di Jakarta, namun dengan cepat dilumpuhkan oleh TNI Angkatan Darat. Di hari yang sama, PKI menculik dan menghabisi 7 orang jenderal yaitu Letjen TNI A. Yani, Mayjen TNI Soeprapto, Mayjen TNI M.T. Hardjono, Mayjen TNI S. Parman, Brigjen TNI D.I. Panjaitan, Brigjen TNI Soetodjo Siswomihardjo, dan Lettu Pierre Andries Tendean. PKI juga menembak putri bungsu Jenderal AH Nasution yang baru berusia 5 tahun, Ade Irma Suryani Nasution. Selain di Jakarta, pemberontakan PKI juga terjadi di daerah-daerah diantaranya, di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat dan Timur, Maluku, Irian Barat. Sejak 30 September 1965 hingga sepanjang tahun 1966-an, rakyat dan TNI bersama-sama melawan PKI yang melakukan pemberontakan dan pembantaian penduduk sipil, para kyai, pejabat pemerintah, dan sebagainya. Meski jelas pemberontakan dan pembantaian yang dilakukan PKI, Soekarno yang selama ini dekat dengan PKI masih membela dengan mengeluarkan pernyataan; ”Di Indonesia ini tidak ada partai yang pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa sebesar PKI…” dalam pidatonya di muka Front Nasional di Senayan pada 13 Februari 1966. Untuk mencegah paham komunis menyebar kembali di Indonesia, pemerintah secara resmi menerbitkan TAP MPRS No XXV Tahun 1966 yang ditanda-tangani Ketua MPRS – RI Jenderal TNI AH Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan penyebaran paham Komunisme, Marxisme dan Leninisme, pada 5 Juli 1966. Namun rupanya kader-kader PKI masih melanjutkan perjuangannya. Pada Desember 1966, kader PKI Sudisman mencoba menggantikan DN Aidit dan Nyoto untuk membangun kembali PKI, tapi ditangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1967. Kembali lagi pembantaian dilakukan oleh sisa-sisa kader PKI yaitu Kaum Tani PKI di Selatan Blitar menyerang para pemimpin dan kader NU, sehingga 60 orang NU tewas dibunuh pada Bulan Maret 1968. TNI cepat tanggap menyerang Blitar untuk menghancurkan persembunyian terakhir PKI dengan melaksanakan Operasi Trisula. Sehingga sejak 1968 hingga 1998, sepanjang Orde Baru PKI dan seluruh mantel organisasinya dilarang di seluruh Indonesia dengan dasar TAP MPRS No XXV Tahun 1966. Namun, pasca Reformasi 1998, pimpinan dan anggota PKI dibebaskan dari penjara, beserta keluarga dan simpatisannya yang masih mengusung Ideologi Komunis. Kini, mereka kembali melakukan aneka gerakan dan memutarbalikkan fakta sejarah dengan memposisikan PKI sebagai korban pembantaian negara dan mengklaim sebagai pihak yang turut memperjuangkan kemerdekaan RI. Tak hanya di Indonesia, peristiwa berdarah yang didalangi kaum Komunis juga dialami oleh negara-negara lain yang tersebar di Eropa, Asia, Afrika dan Amerika. Kekejaman Komunis dinilai belum ada yang menandingi dalam jumlah pembantaiannya. Ideologi Komunis jelas anti Tuhan, anti demokrasi dan HAM. Peneliti sejarah Rusia Iosef Dyadkin menemukan angka 52,1 juta rakyat Rusia yang dibantai rezim Marxis (Komunis), lalu Anthony Lutz yang mencatat 60 juta rakyat Cina yang dihabisi pemerintahnya, berjumlah 112, 1 juta orang. Sementara, peneliti lain, James Nihan menemukan angka 95,2 juta (Religion and Society Report) untuk seluruh dunia selama Komunis berjaya. Di Indonesia, kaum komunis melakukan banyak pembantaian di berbagai daerah. Tujuan kudeta PKI adalah untuk mengganti NKRI menjadi negara Komunis. Namun, kader-kader PKI beserta simpatisannya masih saja terus memutarbalikkan sejarah dan mengklaim bahwa mereka adalah korban pembantaian negara. Berikut ini penuturan singkat beberapa saksi korban yang mengungkapkan betapa kejinya PKI, dilansir dari buku “Ayat-Ayat yang Disembelih” yang ditulis oleh Anab Afifi dari keluarga santri, berlatar belakang konsultan komunikasi dan Thowaf Zuharon dari keluarga santri NU, berlatar belakang jurnalis. Kedua penulis ini berhasil mewawancarai 30 saksi hidup korban keganasan PKI di berbagai daerah. Kapolres Ismiadi Diseret dengan Jeep Wilis Sejauh 3 Km Hingga Tewas “Sebelum meletus peristiwa Madiun Affair, orang-orang PKI merampok dan membakar rumah-rumah para pedagang di Kauman, Magetan. Dilanjutkan pembunuhan terhadap para aparat. Kapolres Ismiadi diseret dengan Jeep Willis sejauh tiga kilo meter hingga tewas. Setelah tentara habis, gantian polisi dihabisi. Setelah itu pejabat dan ulama serta para santri”. (Kusman, sesepuh Magetan, narasumber peristiwa 1948) Ayah saya Dikubur Hidup-hidup di Sumur “Kyai Soelaiman Zuhdi Afandi, dikubur hidup-hidup bersama 200 orang kyai, santri dan masyarakat di sumur tua di Desa Soco”. (Kyai Ahyul Umam, putera Kyai Soelaiman, korban peristiwa Soco 1948) Sebanyak 200 orang Disekap di Lumbung Padi “Ayah saya seorang veteran pejuag 1945. Bersama lebih 200 orang lainnya, terdiri dari para kiyai dan tokoh masyarakat digiring dan dimasukkan ke dalam lumbung padi tua tinggalan jaman Belanda di Desa Kaliwungu, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Mereka disekap dua hari dua malam tidak diberi makan. Semua aktifitas seperti tidur dan buang air jadi satu di dalam gudang yang penuh sesak. Jerigen-jerigen bensin sudah disiapkan untuk membakar lumbung itu. Alhamdulillah ayah saya bisa lolos dan berlari sejauh 20 kilo meter untuk mencari batuan pasukan Siliwangi. Mereka selamat”. (Fuadi, anak korban peristiwa Ngawi 1948) Kyai Dimyathi Disembelih dan Rumahnya Dibakar Saya sudah umur 16 tahun saat kejadian yang menimpa Kyai Dimyathi pada tahun 1948. Saat mengungsi Kyai ditipu oleh yang masih ada hubungan kerabat. Katanya, desa tempat tinggal kami sudah aman. Ternyata dia orang PKI dan membawa Kyai Dimyathi ke Ngrambe dan disembelih bersama seorang guru bernama Suwandi. Rumah Kyai Dimyathi dibakar. (Siti Asiyah, anak asuh Kyai Dimyathi, peristiwa Ngawi 1948) Genangan Darah Setinggi Mata Kaki “Genangan darah ratusan korban pembantaian PKI di sebuah loji (gedung) di Pabrik Gula Rejosari Gorang Gareng, Magetan, pada September 1948, setinggi mata kaki. Mereka diberondong senapan mesin oleh tentara merah PKI”. (Kyai Zakariya, saksi peristiwa Gorang Gareng 1948) Saya Dituduh Kontra Revolusi “Setelah saya ikut menandatangani Manifest Kebudayaan yang melawan LEKRA, lembaga kebudayaan yang berhaluan komunis, saya dituduh kontra revolusi. Tuduhan ini jika digambarkan jaman sekarang, jauh lebih menakutkan dibanding tuduhan teroris. Akibatnya, saya tidak jadi kuliah di Amerika karena visa tidak keluar. Gaji saya sebagai dosen langsung distop. LEKRA juga merancang pementasan seni Ludruk yang sangat menghina Islam seperti:”Matine Gusti Allah (Matinya Tuhan Allah)”, “Sunate Malaikat Jibril (Disunatnya Malaikat Jibril)”. (Taufiq Ismail, Sastrawan dan budayawan senior. Korban dan saksi peristiwa 1963-1965) Buya Hamka Disiksa Setiap Hari “Buya Hamka, Ketua MUI pertama dan para ulama lainnya dipenjara di jaman Presiden Soekarno. Mereka dipenjara atas tuduhan tidak jelas. Hamka dipaksa mengakui perbuatan yang tidak dia lakukan yaitu berencana membunuh Presiden Soekarno dan Menteri Agama. Hamka dan para ulama difitnah oleh kalangan PKI yang saat itu sangat dekat dengan Presiden Soekarno. Setiap hari Buya Hamka disiksa dan diancam akan disetrum kemaluannya”. (Kyai Cholil Ridwan, murid Buya Hamka, saksi peristiwa 1964-1966) Tubuh Ayah Saya Hanya Bisa Dipunguti dan Dimasukkan Kaleng “Ayah saya diseret ke sawah sambil dipukuli beramai-ramai. Setelah saya cari ke mana-mana tidak ketemu ternyata jasadnya terbuang di sawah. Tubuh bapak saya tidak berbentuk lagi, hancur habis terbakar dan dimakan anjing. Potongan tubuhnya hanya bisa dipungut satu persatu dan dimasukkan kaleng.” (Isra’, Surabaya, saksi dan anak korban peristiwa 1965) Saya Selamat tapi Empat Sahabat Saya Disiksa hingga Tewas “Tetangga yang sering saya bantu itu, ternyata suaminya pimpinan PKI. Saya mau disembelih jam satu malam. Alhamdulillah selamat. Tapi anak perempuan pertama saya meninggal setelah malam itu saya menyelematkan diri melewati sungai. Empat sahabat saya sesama aktifis dakwah disiksa dengan dipotong kemaluan dan telinga mereka hingga meninggal”. (Moch Amir, SH, Surakarta, korban peristiwa 1965) Ternyata Saya Akan Dibunuh oleh Tetangga dan Teman Baik Saya Setelah peristiwa 1965 mereda, saya diberitahu ternyata nama saya masuk daftar calon korban yang akan dibunuh PKI. Saya sudah kuliah dan aktif di PII saat itu. Tetangga persis di sebelah rumah saya dan teman yang saya kenal baik itu, ternyata PKI. Saat digeledah di rumahnya ternama nama-nama orang-orang yang rencananya akan dibunuh PKI.